Berlomba dengan Diri Sendiri

Photo by benjamin lehman on Unsplash

Setelah sekian lama tidak bertemu, kabar yang paling ditanyakan ketika reuni adalah “Kamu sekarang kerja di mana?”, sambil diam-diam kita menilai kira-kira seberapa kaya dan sukses teman kita itu. Pertanyaan utama di benak orang tua ketika menerima rapor anak adalah, “Anak saya ranking berapa ya?” Pertimbangan utama ketika mencari sekolah buat anak adalah, “Seberapa unggul sekolah ini dibandingkan sekolah yang lain?” Atau kadang kita dengan kejamnya membandingkan anak dengan saudaranya, “Kamu kok nggak bisa berprestasi kayak Kakakmu itu?”

Dan lusinan contoh respons otomatis mental yang selalu membandingkan dengan orang lain.

Kompetisi dengan orang lain adalah sumber ketidakbahagiaan. Banyak orang tidak bahagia. Sepanjang hidup kita bersaing dengan orang lain dengan segala upaya, dan seringkali hasilnya kalah pula. Kalaupun menang, hati kita tidak puas, dan mencari lawan tanding yang lain yang lebih tangguh, dan kalah lagi. Begitu seterusnya. Kita selalu ingin menjadi orang lain. Atau ingin menjadi seperti orang lain yang diinginkan dari kita.

Dan bersaing dengan orang lain itu adalah salah satu fundamental dari kapitalisme yang merusak dunia. Orang berlomba-lomba untuk saling mengungguli, dalam perlombaan yang semakin tidak ada batas. Yang menang berbangga diri dan bahkan berlaku sombong, sementara yang tersingkir memendam iri hati dan ketidakrelaan.

Tuhan memang menyuruh untuk berlomba-lomba. Tapi itu harus dalam rangka kebaikan (bukan cari profit), dan sesuai bakat dan kecenderungan masing-masing. “Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan…” (Surat Al-Baqarah: 148)

Semua orang dilahirkan dengan bakat dan kecenderungan masing-masing. Itu adalah bagian dari nasib. Maka kenalilah dirimu dan temukanlan bakat dan kecenderungamu sendiri-sendiri, dan berbuatlah yang terbaik dengan fadhilah yang diberikan kepadamu. Tidak masuk akal berkompetisi dengan orang lain, untuk membanding-bandingkan dengan orang lain, karena setiap orang diciptakan berbeda. Dan sesungguhnya kompetisi dengan orang lain inilah yang menghancurkan kehidupan.

Kata Rasulullah, “Orang yang beruntung adalah orang yang keadaannya hari ini lebih baik dari kemarin”. Beliau mengajarkan kepada kita untuk kompetitif, tapi kompetitif dengan diri sendiri. Jangan mengukur kemajuan dengan membandingkannya dengan orang lain. Tetapi bandingkankah dengan dirimu sendiri. Dan sejatinya orang yang sukses adalah dia yang berlomba dengan dirinya sendiri. Dia menikmati apa yang dia lakukan, terus-menerus melakukan perbaikan, dan melakukannya dengan totalitas. Success comes to those who have chosen not to make success their primary goal. Do well by doing good.

Lainnya