Kebon (203 dari 240)

Berita Bahagia untuk Netizan, Buzzer, dan Ummat Manusia

Foto: Adin (Dok. Progress).

Ada peneliti sejarah yang menyatakan bahwa di zaman kejayaan Kerajaan Majapahit ada yang bilang setiap hari pasaran tertentu, berarti 35 hari sekali, disenggalarakan Upacara Kendi Emas di mana semua Raja-Raja dalam wilayah Persemakmuran Majapahit se-Asia berkumpul. Tentu maksudnya untuk “istiqamahan” atau mengukuhkan kerbersamaan mereka di dalam koordinasi Majapahit. Ikrar kebersamaan itu diupacarakan atau ditandai dengan meminum bersama secara bergiliran dengan cara menenggak air dari Kendi Emas.

Majapahit bukan Negara atau Kerajaan Kesatuan seperti Indonesia sekarang, di mana semua bagian-bagian wilayahnya disebut Provinsi sampai yang terkecil disebut Kelurahan atau Desa dan Dusun. Kerajaan Majapahit bukan penguasa tunggal yang membawahi Kerajaan-kerajaan lain di bawah kekuasaan atau jajahannya, sebagaimana NKRI yang menyebut jajahan-jajahannya sebagai bawahannya. Padahal sebutan bawahan sangat mencerminkan posisi kepatuhan kepada satu kekuasaan, yang dalam hal-hal atau kasus tertentu pada hakikatnya berposisi terjajah.

Tetapi mayoritas sejarawan atau mungkin hampir semua kita tidak bisa mempercayai Upacara Kendi Emas selapanan atau 35 hari sekali ini. Masalahnya terletak pada taraf pencapaian teknologi transportasi di abad 12-13 ketika itu. Bagaimana mungkin Kerajaan yang lokasinya (kalau sekarang) di Kamboja, Myanmar, Thailand atau Vietnam, bahkan sekadar di Nusa Tenggara Timur atau Papua dan Maluku, bisa mencapai Trowulan Jawa Timur 35 hari sekali. Kalau dengan kapal layar, perjalanannya saja memerlukan sekian bulan. Andaikan pun sudah ada pesawat, mobilitas selapanan itu juga sangat menyibukkan dan merepotkan. Kalau dilaksanakan setahun sekali masih bisa dibayangkan.

Setelah masa kanak-kanak saya merantau dari Jombang ke Ponorogo saja untuk berkomunikasi lewat surat yang diantarkan oleh sistem Kantor Pos membutuhkan waktu seminggu hingga dua minggu. Ketika saya di Filipina tahun 1980 butuh sebulan dua bulan agar surat saya dibaca di Patangpuluhan oleh Ibunya Sabrang. Apalagi ketika di Amerika Serikat 1981 dan di Belanda dan Jerman 1984-1985. Kalau kirim barang lebih parah lagi, karena harus lolos melewati pemeriksaan institusi Negara. Sastrawan-satrawan teman saya, dari Taufiq Ismail hingga Putu Wijaya membutuhkan waktu bisa setahun untuk mendapatkan barangnya yang ia kirim sendiri dari Amerika. Bahkan Sutardji Calzoum Bachri tidak pernah bisa mendapatkan buku-buku kirimannya sepanjang hidupnya. Saya kebetulan beruntung karena saya mengirim paket-paket buku dll dari Amerika ke Indonesia melalui USA (United States Army) dan APO (American Post Office) sehingga tidak diperiksa dan saya tinggal mengambilnya di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta.

Hanya di usia tua saya sekarang ini saya mengalami kemudahan yang luar biasa. Tidak perlu beli buku di luar negeri, karena bisa online dan langsung tiba di rumah. Kalau urusan buku, Kindle membereskannya. Penemuan dan kemajuan teknologi 20-30 tahun terakhir ini benar-benar fantastis dan bisa dikatakan ghaib. Selama Pandemi Covid-19 mau makan, mau barang, mau beli apa saja bisa online. GoFood, GoSend, GoMart, bahkan pembayaran-pembayaran apapun di manapun tidak perlu cash dan manual. Kirim kabar cukup 1-2 detik. Bahkan bisa seakan-akan bertatap muka gratis kapan saja asal masing-masing pegang gadget, dengan zooming, streaming, macam-macam lagi kemudahannya.

Meskipun demikian saya adalah “bocah anyar” di semua dunia teknologi mutakhir itu. Benar-benar “ anak baru”. Bukan “orang baru”. Karena meskipun profesor, doktor, ulama, presiden atau tokoh setinggi apapun jabatannya, semua adalah “bocah anyar” di depan taknologi online itu. Kalau “orang” kan sudah dewasa karena pengertian dan kebisaannya. Kami generasi tua saat ini adalah “anak baru”. Berapa kali saya mengatakan bahwa saya belum pernah berani memasukkan kartu ke mesin ATM. Senior saya Pak Umar Kayam sampai wafatnya belum pernah menyentuh keyboard komputer. Rendra setengah mati belajar menulis SMS dan tidak pernah lulus. Jauh kalau dari Nawai cucu saya yang sudah mendunia dengan kecanggihan jari-jarinya di handset dan komputer.

Bulan-bulan terakhir ini saya banyak mengeluh tentang Youtube, yang di Lauhil Mahfudh menghabiskan lembaran-lembaran khusus. Dan sudah sejak awal saya tetap “bocah anyar” yang tidak pernah punya akun aplikasi komunikasi Twitter, Facebook, Instagram, apalagi TikTok dan apapun. Bahkan saya “belum bocah” karena tidak pernah memasuki atau mencobanya. Di Youtube ada tayangan Seri Story WA Caknun, padahal belum pernah satu kalipun saya bikin story di WA. Saya baru tahu ada yang namanya “Story WA” itu ya dari Youtube. Sungguh alam ghaib. Belum lagi ghaib-ghaib Cak Nun lainnya yang bertebaran di Youtube. Lantas saya disuruh mengayomi mereka, bersikap ikhlas dan bijaksana serta memaafkan semua yang bikin itu. Sedangkan Allah Swt sendiri bikin Neraka, saya hanya boleh bikin Sorga.

Sekarang kabarnya akan segera diekspos atau dipublikkan satu aplikasi online baru yang benar-benar sangat mendekati alam ghaib. Belum ada nama resminya. Mungkin DeepFace. Atau Deep Real Face. Atau Real Deep Face atau apapun nanti silakan menunggu sejenak lagi.

Aplikasi itu bisa Anda pakai untuk seakan-akan menciptakan kehidupan nyata yang baru. Anda bisa ambil video wajah Anda sendiri sedang berpidato, kemudian Anda tulis teks mengutip pidato Presiden Joe Bidden, maka wajah Anda di video itu akan mematuhi teks yang Anda tulis. Wajah Anda, bibir Anda, naik turun ekspresi Anda, gembira atau marah airmuka Anda, kelembutan atau kekerasan ekspresi Anda di video itu akan menjadi dan berlaku atau berekspresi sebagaimana yang diperlukan oleh teks yang Anda tulis.

Anda bisa ambil video Walikota Solo kemudian menuliskan teks puisi-puisi Kahlil Gibran, maka video itu akan menayangkan seakan-akan penyair Lebanon itu yang sedang baca puisi. Atau wajah Anda sendiri yang Anda dandani dengan ditambahi jenggot, pakai gamis dan surban, hidung Anda mancungkan, kemudian tulis teks hadits, maka yang tampil seakan-akan adalah Kanjeng Nabi Muhammad sendiri. Atau Anda bermake up seperti Patih Gadjah Mada dan tulis teks Sira Gajah Madapatih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: “Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tañjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa”.

Atau Anda ambil video yang ada wajah saya sedang Maiyahan, kemudian Anda bikin teks memaki-maki Jokowi, membela Habib Riziq, bicara tentang Israel dan Palestina atau Sabdorodjo atau apapun. Maka para Netizen yang rata-rata tidak punya filter akan mempercayainya. Siapa saja yang akan membangun pencitraan, atau bermaksud mencelakakan atau mengadudomba dalam peta dan konteks apapun – aplikasi ini memberi kemudahan yang luar biasa. Ini berita gembira, bahkan berita bahagia bagi semua Buzzer, apalagi yang upahan, bagi semua Netizen dan seluruh ummat manusia.

Para pakar komunikasi mulai sekarang sudah bisa melakukan pembayangan, imajinasi atau simulasi tentang kemungkinan-kemungkinan kemashlahatan atau kemudlaratan yang bisa dibangun dengan aplikasi itu. Syukur lengkap dengan analisis multi-efeknya. Khusus bagi siapa saja yang membenci saya, yang mencari nafkah dengan memanfaatkan gambar video saya, dengan teknologi baru ini bisa meningkatkan levelnya sampai ke tingkat membunuh saya melalui khaos komunikasi yang diada-adakannya.

Maka sejak sekarang saya sudah membuka diri sepenuh-penuhnya. Kalau memang ada Tuhan-tuhan di muka bumi ini, terutama di Indonesia dan di medan Maiyah sendiri. Kalau memang ada Allah selain yang SubhanaHu wa Ta’ ala, saya persilakan sepenuh-penuhnya untuk menetapkan nasib saya, bahkan sampai level mengada-adakan sesuatu yang menjadikan saya dibunuh.

Kepada tuhan-tuhan di bumi, pasti Anda tidak terpengaruh apalagi takut oleh firman Tuhan, misalnya

قُلۡ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ ٱلۡفَوَٰحِشَ مَا ظَهَرَ مِنۡهَا وَمَا بَطَنَ
وَٱلۡإِثۡمَ وَٱلۡبَغۡيَ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ وَأَن تُشۡرِكُواْ بِٱللَّهِ مَا
لَمۡ يُنَزِّلۡ بِهِۦ سُلۡطَٰنٗا وَأَن تَقُولُواْ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ

Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, mengharamkan mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan mengharamkan mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui”.

Karena memang Anda adalah tuhan, pasti tidak keder terhadap pernyataan Tuhan yang ini. Kalau memang Anda penguasa segala-galanya, yang merdeka melakukan apa saja berdasarkan Hak Asasi Manusia, berarti Anda tidak percaya kepada kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa yang digem bar-gemborkan selama ini.

Aplikasi ini nanti punya potensi untuk bisa menimbulkan ledakan melebihi bom atom atau bom nuklir bagi nasib manusia. Anda tinggal mendayagunakannya, memanfaatkannya, menungganginya untuk melampiaskan ambisi, kerakusan dan nafsu Anda. Anda tinggal menyukurinya, jangan bersyukur kepada Allah Swt, tapi kepada diri Anda sendiri, karena kan Anda tuhannya. Jangan pedulikan saya. Saya hanya debu di tengah padang pasir. Saya hanya sekeping daun layu melayang-layang dihembus angin takdir. Saya tidak pathèken dengan semua itu, Posisi saya hanyalah “in lam yakun biKa ‘ alayya ghadlabun fala ubali”.

Lainnya