Berhijrah dari Harapan Menuju Keyakinan

Dok. Pribadi.

Setelah shalat Maghrib saya siap-siap berangkat dari Trenggalek kembali ke Jombang, setelah Al-Hamdulillah selama tiga hari mudik di kampung halaman istri. Saya buka HP, ternyata ada pesan masuk dari Cak Nang. Segera saya telepon Mas Pram untuk melakukan persiapan pertemuan.

Malam itu, Jum’at (21/5), Mbah Nun berada di Mentoro. Teman-teman Omah Padhangmbulan akan riyayan kepada Beliau. Mudah-mudahan saya ngumani pertemuan itu mengingat saya akan berangkat dari Trenggalek setelah Maghrib. Waktu perjalanan sekitar tiga jam untuk sampai di Jombang.

Jam setengah sepuluh malam saya tiba di Jombang, lalu berangkat lagi meluncur ke Menturo. Di teras ndalem kasepuhan Mbah Nun, Cak Dil, Cak Nang dan teman-teman Omah Padhangmbulan sudah duduk melingkar. Lamat-lamat dari tempat parkir saya mendengar suara Mbah Nun menyampaikan entah apa. Motor saya parkir. Melintas perasaan getun dan eman saya datang terlambat.

Untuk mengobatinya saya memakai rumus awal adalah akhir, dan akhir adalah awal. Ini rumus saya sendiri, tidak untuk merekomendasi silakan datang terlambat ketika Maiyahan. Katakanlah ini rumus untuk menghibur diri sekaligus menghikmahi keterlambatan.

Saya stay tune menyimak pesan dan wejangan Mbah Nun. “Jadi, pesan saya seperti di awal tadi, doa bukan lagi harapan tapi keyakinan,” pesan Mbah Nun. Andaikan setelah Mbah Nun menyampaikan pesan itu acara selesai dan bubar, cukup sudah kalimat itu menjadi pintu masuk menuju ruang kesadaran yang baru.

Al-Hamdulillah-nya, pertemuan yang sudah berjalan “setengah mainan” itu bagi saya adalah awal untuk melahirkan kembali kesadaran yang lebih baru. Mbah Nun mewanti-wanti agar kita madhep manteb, yakin seyakin-yakinnya, total setotal-totalnya kepada Allah dalam hal dan urusan kebaikan apapun.

Lantunan doa yang selama ini diam-diam kita perlakukan rumus probabilitas antara kemungkinan dikabulkan dan tidak, sehingga harapan yang kita mohonkan kepada Allah berada dalam takaran 50 persen dikabulkan dan 50 persen tidak dikabulkan — kini, kita yakini dengan keyakinan yang total setotal-totalnya, bunder-ser, Allah pasti mengabulkannya.

Hal itu tidak lantas membuat kita gelap mata. Kita perlu waspada. Jangan-jangan apa yang kita mohon sudah diberi bahkan sebelum kita berdoa. “Anda menyangka belum ternyata sudah,” ujar Mbah Nun. “Apa kita tidak malu kepada Allah?”

Keyakinan madhep manteb ditempuh melalui jalan iman. Hanya iman kepada Allah yang sanggup mengatasi sekaligus menjawab ribuan pertanyaan keraguan: mengapa begitu, mengapa begini, mengapa saya bukan dia, mengapa kami bukan mereka dan seterusnya.

Jalan iman juga merobohkan bangunan kecurigaan dan sangka buruk kepada Allah, misalnya mengapa hidup saya begini-begini saja, sedangkan orang yang berbuat zalim justru hidupnya tambah moncer, berkibar-kibar, tertawa-tawa bahagia. Selain perlu klarifikasi untuk merekonstruksi ulang sudut pandang dan jarak pandang terhadap pengertian “hidup begini-begini saja”, “hidup yang kian moncer”, “berkibar-kibar” dan “tertawa bahagia”, yang semua itu adalah upaya jalan ilmu, mohon juga ditempuh jalan iman.

Jangankan untuk urusan yang Allah pasti membela hamba-Nya yang dizalimi, untuk adegan jual beli, buka warung, ngojek, makelaran, mulang ngaji, mengizinkan suami keluar rumah, kita tidak cukup hanya mengandalkan jalan ilmu. Atas setiap kegaiban dalam setiap peristiwa, setiap adegan dan setiap momentum jalan satu-satunya untuk bertawakal kepada Allah adalah memakai iman. Kendati hal ini tidak bisa dipahami secara cupet dan sempit lalu menyimpulkan ilmu tidak penting.

Ada yang melintas di lubuk hati saya ketika Mbah Nun menyambut Ustadz Abdul Shomad di Menturo. Jalan terjadinya pertemuan yang membentang antara Mentoro, Peterongan, Yogyakarta, Pekanbaru adalah kegaiban yang tidak bisa ditembus dengan scheduling, semayanan, atau manajemen ilmu ala event organizer. Manajemen skenario dihadang oleh “gelap malam”. Kegaiban itu ditembus oleh cahaya iman. Mbah Nun dan UAS berjumpa pada momentum yang min haitsu laa yahtasib.

Jadi, min haitsu laa yahtasib tidak berlaku pada lingkup pemberian rezeki wadag yang oleh materialisme dipadatkan menjadi uang dan simbol-simbol kasat mata. Itu sih materialisme akut. Min haitsu laa yahtasib juga berlaku pada momentum datangnya rezeki berupa kita bisa kencing, saat kita menelan sesuap nasi hingga detik-detik secercah pengertian yang mak-nis menyelusup ke dalam bilik kesadaran.

Dok. Pribadi.

Itu semua min haitsu laa yahtasib karena kita tidak mampu menjadwal apalagi memastikan kapan dan di mana momentum serta ajal ruang dan waktunya.

Maiyah menyebutnya sebagai diperjalankan (asraa bi’abdihii lailaa). Mengapa malam? Karena gulita malam adalah kegaiban yang tidak bisa diatasi oleh mata pandang ilmu. Satu-satunya jalan adalah menggunakan mata pandang yang dipinjamkan Allah melalui keyakinan dan iman.

Di tengah pertemuan bersama teman-teman Omah Padhangmbulan, Mbah Nun menyatakan bahwa Padhangmbulan adalah buah dari lara lapa para sesepuh. Selama 28 tahun Padhangmbulan sedang dan akan selamanya menjadi pohon yang rindang. Diakari keyakinan yang madhep manteb pohon itu pasti akan menghasilkan buah-buah berikutnya yang min haitsu laa yahtasib. Kapan, dari mana, dan apa buahnya? Ini wilayah iman. Asumsi dan hipotesis keilmuan tidak memiliki mata pandang untuk menjawab apalagi memastikannya.

Malam itu saya menyaksikan keindahan atas ketulusan teman-teman Omah Padhangmbulan yang berkhidmah secara total, jernih, dan tegak istikamah untuk Pengajian Padhangmbulan. Mereka menjadi saksi bahwa Allah tidak mengingkari janji-Nya.

Kita husnudhdhan, bersangka baik, total setotal-totalnya, bahwa buah itu bisa dipetik secara komunal (jamaah) maupun individual, regional maupun nasional internasional, lokal maupun universal, terlepas buah itu diakui atau tidak. Saya meyakini sekaligus memetik nilai manfaat Padhangmbulan hari ini, saat ini, detik ini, sak iki, momentum ini hingga abadan abadaa.

Selanjutnya, Allahu a’lamu bi Padhangmbulan.

Jagalan, 23 Mei 2021

Lainnya