Berbagi Pengalaman Pribadi tentang Keajaiban dari Tuhan

Majelis Ilmu Bangbang Wetan Surabaya, edisi Oktober 2021
Dok. Bangbang Wetan.

Selanjutnya Kodi Al-Muzakki dari Waru. Selama pandemi dan setelah satu tahun lulus kuliah, dia merasa bingung. Ketika sebelum lulus pada proses magang merasa baik-baik saja. Pada awal-awal pandemi selama magang mulai merasa pesimis karena magang selama 6 bulan tidak penuh karena pandemi. Selanjutnya ia diterima kerja baru pada Februari dan pada momentum itu ia mulai optimis. Pada saat ini ia bersyukur karena nasibnya tidak menurun karena ada penghasilan untuk menghidupi dirinya sendiri. Sampai sekarang Faturahman tetap optimis dalam mensikapi keadaan sekarang ini.

Mendengar respons jamaah yang menggambarkan pengalaman hidupnya dengan tiga kemungkinan putus asa, optimis, dan bingung, Cak Dil bersyukur karena kita tidak ada yang merasa putus asa terhadap keadaan. Tidak ada yang berhasil diputusasakan oleh pandemi. Karena menurut Cak Dil ada beberapa kemungkinan orang memandang pandemi ini. Misalnya memandang bahwa pandemi ini betul-betul dari Tuhan, ada yang memandang bahwa pandemi ini bentuk rekayasa dan bisnis manusia, serta ada banyak kemungkinan yang lain.

Sedangkan Cak Dil sendiri berpendapat bahwa Corona itu perkembangan dari modernisasi pertanian. Jadi perkembangan pertanian salah satu produknya adalah Corona. Corona itu lahir dari kekenesan para ilmuwan pertanian dalam menciptakan kemajuan, akhirnya kebablasen sampai menciptakan yang namanya virus Corona. Jadi Corona bukan sesuatu yang tiba-tiba datang tanpa sebab.

Cak Dil mempertegas bahwa yang paling penting untuk kita syukuri dari hadirnya pandemi ini adalah kita tidak berhasil diputus asakan oleh keadaan, tetap optimis dan menemukan celah untuk bangkit dari keadaan sekarang ini.

Menyaksikan Keajaiban di Luar Perkiraan

Cak Dil sendiri tetap optimis karena beliau menyaksikan sendiri bahwa dari waktu ke waktu Allah menunjukkan keajaiban-keajaiban yang di luar perkiraan beliau. Cak Dil bercerita bahwa beberapa waktu lalu beliau kenal dengan seseorang yang bernama Yudis. Yudis seorang keturunan China yang beragama Katolik, tetapi cintanya kepada Rasulullah luar biasa.

Yudis menurut Cak Dil itu orang lugu tapi kalau berbicara tentang Rasulullah luar biasa. Dia juga membiayai benda-benda yang terkait Rasulullah untuk dikumpulkan di Museum Rasulullah yang berada di Probolinggo. Jadi benda-benda yang terkait Rasulullah berasal dari Arab yang didatangkan ke Indonesia atas biaya Yudis untuk dikumpulkan di Museum Rasulullah. Dia di kantornya menyimpan buku tentang hadist dan ketika berbicara apa saja selalu menarik garis kepada apa yang sudah Rasulullah ajarkan melalui sikap dan tutur kata. Berdirinya museum disebabkan karena Yudis tidak tega melihat benda-benda Rasulullah ditelantarkan.

“Kalau kita sekarang agak putus asa, meskipun tidak ngomong. Tetapi optimislah! Cari celah terhadap keadaan apa saja. Misalnya kalau saya di usia tua ini menjadi optimis bukan karena saya optimis akan kaya. Saya optimis untuk beramal jariyah. Obsesi saya itu semoga apa yang saya lakukan menjadi jariyah,” tegas Cak Dil menebar semangat optimis.

Keajaiban menurut Cak Dil bukan soal membahas sesuatu yang ajaib, tetapi bahwa kita oleh Allah terhadap sebagian besar yang kita alami itu tidak kita perhitungkan sebelumnya. Akhirnya yang Cak Dil nikmati seperti diperlihatkan oleh Allah sesuatu yang tidak disangka-sangka hampir setiap saat.

Menyambung pertanyaan Mas Amin bagaimana bisa Cak Dil selama hidupnya mampu melakukan hal-hal yang di luar perkiraan dan berhasil, Cak Dil mengatakan bahwa justru karena tidak banyak memikirkan mau jadi apa, sehingga mampu melakukan hal-hal yang di luar perkiraan kebanyakan orang dan berhasil. Sebab Cak Dil sendiri menyampaikan bahwa selama hidupnya lebih banyak hal yang menggerakkan beliau adalah kegelisahan terhadap sesuatu. Bukan kegelisahan terhadap beliau mau jadi apa. Sampai saat ini, pikiran Cak Dil selalu ingin menjawab sesuatu yang sedang digelisahkan.

Perihal keajaiban, Pak Toto berpendapat bahwa keajaiban itu sesuatu yang di luar kuasa kita. Keajaiban itu sebetulnya manifestasi keyakinan kita terhadap Tuhan. Kajaiban itu bukan kewenangan manusia, sebab keajaiban itu datang terserah dari kehendak yang Maha Memberi. Tetapi bahwa keajaiban itu ada sejalan dengan keyakinan kita bahwa Yang menguasai alam semesta ini ada.

Tentang keajaiban yang relatif menurut kebanyakan orang, Cak Dil berbagai pandangan sederhana bahwa keajaiban itu menyangkut pengalaman pribadi yang berhubungan dengan Tuhan. Dimensinya mulai dari inna ma’al usri yusra (bersama kesulitan ada kemudahan), min hatsu la yahtasib, sebagaimana yang telah disampaikan Mbah Nun bahwa Allah mengirimkan rezeki dari arah yang tidak kita duga-duga.

Dari situ Cak Dil menemukan banyak sekali keajaiban-keajaiban. Beliau lebih memilih menikmati keajaiban itu sehingga sering merasa dekat dengan Allah dan merasa bahwa Allah sedang bercanda dan bermesraan dengan hadirnya keajaiban-keajaiban yang beliau temukan di setiap pengalaman hidupnya. Karena, Cak Dil tidak menyangka akan ada solusi di setiap kegelisahan yang Cak Dil alami. “Jadi yang ajaib bukan saya, saya dianugerahi keajaiban-keajaiban yang ditunjukkan oleh Allah, yang bagi saya itu ajaib.”, tegas Cak Dil memuncaki sinau malam itu.

Populer