Berbagi Pengalaman Pribadi tentang Keajaiban dari Tuhan

Majelis Ilmu Bangbang Wetan Surabaya, edisi Oktober 2021
Dok. Bangbang Wetan.

Mas Acang menemukan sambungan tema dengan pengaruh pandemi dalam banyak aspek kehidupan kita salah satunya adalah harus ada perubahan terhadap cara kita memandang segala sesuatu. Mas Acang teringat apa yang disampaikan Mbah Nun ketika sebelum tsunami di Aceh datang, “Kalau kita tidak bisa mensyukuri setiap tetes air, jangan salahkan jika Allah mengirimkan gelombang air yang besar. Kalau kita tidak bisa mensyukuri setiap desir angin yang lewat, jangan salahkan jika Allah mengirimkan angin topan”.

Dari situ, Mas Acang berpendapat bahwa jika kita keliru menyikapi segala sesuatu meskipun kelihatan remeh, jangan menyesal jika yang besar suatu saat akan datang. Salah satu bentuk kita keliru menyikapi yang kecil sehingga kaget yang besar datang adalah hadirnya Covid-19 ini. Sebab karena kita keliru mensikapi virus Covid-19 yang kecil ini, maka dampaknya yang besar dalam banyak aspek kehidupan kita rasakan sampai sekarang ini.

Mas Aminullah yang hadir bersama Mas Acang dan Cak Dil merespons tema bahwa perjalanan hidup kita masing-masing pasti mengalami ujian dan perubahan kesadaran atas peran Allah di setiap perjalanan hidup kita. Mas Amin merasa sedih ketika teman-teman penggiat memberanikan diri mengambil tema Pancaroba Kesadaran. Sebab disadari atau tidak, teman-teman penggiat akan mengalami refleksi dari tema yang diangkat pada majelis Bangbang Wetan, dalam kehidupannya sehari-hari. Misalnya pada tema Trauma Kapitis, ada penggiat yang mengalami penurunan dalam usahanya.

Tema Pancaroba Kesadaran, menurut Mas Amin, menjadi dialektika pilihan dan efek antara baik dan buruk. Misalnya ketika tema tersebut baik, maka penyikapan di dalam diri yang merasakan refleksi dari tema itu akan tenang. Tapi ketika teman-teman mendapati refleksi dari tema itu berupa tekanan atau ujian, pada kondisi dari yang belum siap, maka apa yang menjadi keputusannya berdampak grusa-grusu atau serampangan. Maka untuk mesikapi pancaroba kesadaran yang kita alami dalam perjalan itu pilihannya kita hadapi dengan hati yang tenang atau hati yang cemas, itu dikembalikan kepada sikap kita masing-masing. Karena setiap keputusan dan sikap yang kita memuat risiko dampak manfaat atau mudhlarat di dalam hidup kita. Karena kedewasaan seseorang, menurut Mas Amin, bukan pada apa masalahnya tetapi pada bagaimana cara kita mensikapi masalah itu.

Sebelum Cak Dil dipersilakan menyampaikan ilmu dan pengalamannya, Mas Amin mengungkapkan bahwa sebelum ada jurnalis dan wartawan yang tersohor, Cak Dil merupakan mentor dari para jurnalis dan wartawan itu. Cak Dil yang pertama kali mengadakan pelatihan jurnalisme dan wartawan. Cak Dil yang membuat acara dan meng-handle acara pelatihan itu sendiri. Sekarang  menurut Mas Amin, murid-murid alumni pelatihan jurnalis dan wartawan yang diadakan Cak Dil itu menjadi orang ‘besar’ semua.

Mengidentifikasi Pancaroba Zaman

Merespons tema Pancaroba Kesadaran, Cak Dil justru ingin tahu apa yang ada dalam pikiran jamaah tentang pancaroba. Pancaroba coba kita identifikasi dengan jelas. Kita merasakan pancaroba zaman itu apanya? Apakah cuaca yang seharusnya hujan tapi belum hujan? Apakah pancaroba pola komunikasi yang dulu orang tidak kenal gadget dan media sosial, sekarang tidak lepas dari gadget dan media sosial? Apakah pancaroba pendidikan yang dulu santri itu mencari kyai, sekarang kyai royokan mencari santri. Padahal dulu ketika seseorang minat pada suatu ilmu, maka orang itu akan datang kepada kyai yang ahli dalam ilmu dicarinya. Kalau dulu kyai mengajarkan kepada santri dalam menimba ilmu supaya sampai khatam dalam ilmu tertentu, sekarang para pembelajar hanya sepotong-sepotong dalam mengutip ilmu itu, tidak sampai mendalam dan khatam.

Pada situasi pandemi ini, Cak Dil menginginkan jamaah berbicara tiga kemungkinan pancaroba yang kita alami selama pandemi. Tiga kemungkinan itu di antaranya: Putus asa ketika melihat keadaan sekarang, optimis menerima pandemi ini sebagai harapan untuk melakukan sesuatu ke depan, atau bingung. Cak Dil berharap kepada jamaah yang hadir untuk menggambarkan ketiga kemungkinan itu.

Menggambar Tiga Kemungkinan Pesimis, Bingung, dan Optimis Mensikapi Keadaan

Ada dua jamaah yang mencoba merespons keinginan Cak Dil untuk menggambarkan tiga kemungkinan yang terjadi dalam kehidupan kita selama pandemic. Pertama dari Muhammad Faturahman, Tulangan. Ia tetap optimis karena awal-awal pandemi malah memutuskan resign dari kerja untuk membuka usaha sendiri. Ia memutuskan membuka usaha jualan bawang merah di pasar Tembok. Ketika berjalannya pandemi dagangan tidak laku, baru muncul perasaan pesimis. Salah satu sebabnya usahanya tidak jalan dan mau minta uang ke orang tua juga malu. Akhirnya memilih kerja lagi dan mulai optimis lagi. Optimis atau pesimis menurut Faturahman itu soal kondisi diri dari mandek sebentar untuk mengoreksi diri menentukan sikap.

Populer