Kebon (39)

Benua-benua Musik dan Manusia Jazzy

Foto: Adin (Dok. Progress).

Berbeda dengan ketika sudah menjadi KiaiKanjeng, gamelan Musik-Puisi Karawitan Dinasti adalah murni Gamelan Jawa, terutama Slendro. Struktur nada dengan semua kemungkinan lalu lintas Gamelan Jawa adalah suatu benua musik yang lain sama sekali dibandingkan yang dikenal oleh dunia pada umumnya. Kalau dari susunan nada India atau Arab masih lebih mudah ditemukan sentuhan atau sambungannya dengan solmisasi Barat. Cukup banyak lagu Arab yang bisa dikenali dan direplikasi bunyinya dengan alat-alat Barat, sebagaimana lagu-lagu Barat juga bisa digeser sedikit, seperempat atau setengah, untuk dipahami secara Arab.

Tetapi nada Slendro dan Pelog Gamelan Jawa seperti bukan bagian dari kosmologi bunyi musik dunia atau yang ada di bumi. Jawa Slendro bisa bergaul dengan nada-nada Cina, sementara Pelog bisa kawin dengan Sunda. Tetapi Jawa ke Barat atau Jawa ke Arab seakan-akan merupakan persambungan atau perjalanan antar-planet yang berbeda.

Tetapi toh bisa saja keliaran kreatif Novi Budianto menyusun musik “Berguru” yang bisa diisi dengan “mengaji” dengan nada qiro`ah tertentu. “Nyanyian Gelandangan” memberi ruang untuk adzan dan iqamat. Pada level tertentu yang dilakukan Nevi Dinasti adalah inovasi, atau bahasa Islamnya: ijtihad yang menghasilkan tajdid. Pada level lain bahkan bisa disebut invensi atau penemuan baru fenomena musikal.

Andaikan secara fiqih atau syariat Islam diperbolehkan melantunkan tilawah atau qiro`atul Qur`an dengan iringan musik, maka lahannya untuk itu tersedia di Karawitan Dinasti, dan lebih luas serta eksploratif lagi di dalam tatanan musikal Gamelan KiaiKanjeng.

Tetapi saya tidak kecewa atau menyesali larangan atau “pamali” qiro`ah pakai musik itu, karena saya menjumpai bahwa level estetika dan musikalitas dunia tilawatil Qur`an justru merupakan puncak pencapaian. Orang qiro`ah atau murottal Qur`an atau adzan sudah sedemikian matang dan memuncak rasa seninya, sehingga memang tidak memerlukan alat bunyi yang lain di luar suara Qari`-nya. Apalagi tradisi olah vokal para pelantun qiro`ah dan adzan sudah memiliki kematangan sedemikian rupa, sehingga tidak ada lubang-lubang kelemahan yang perlu ditutupi atau ditambal dengan suara alat-alat musik. Alat-alat musik, jika dibarengkan dengan suara qiro`ah, malah bisa bernilai minus atau mengganggu keutuhan estetika tilawatil Qur`an.

Nomor musik Karawitan Dinasti karya Novi Budianto “Tuhan, Aku Berguru KepadaMu”, intronya sangat “modern”. Memang dipengaruhi oleh nuansa Deep Purple, sebagaimana watak musik Haji Rhoma Irama mengalami hal yang sama. Ketika tenggelam dalam nuansa mengaji di nomor itu, tiba-tiba saya menjumpai bahwa lagu “Child in Time”-nya Purple juga ternyata bisa saya masuki lantunan-lantunan Arab, seolah-olah mengaji atau melantunkan Adzan.

Child in Time” itu kelak nyambung dengan lagu “Shalawat Madura” KiaiKanjeng, yang dilantunkan oleh Nia Kurniawati, atas masukan dari Ustadz Zawawi Imron yang diilhami oleh rengeng-rengeng seorang Ibu yang bayinya meninggal dunia di Sumenep. Bayi mati alias “Child in Time”. Sementara nomor Dinasti “Nyanyian Gelandangan” di bagian tengah sangat merangsang improvisasi “rock” padahal di bagian akhir mengundang adzan untuk kodanya.

Sejak di Balai RK Dipowinatan, melalui Nevi, produksi musik anak-anak muda itu memang sudah tidak “lazim” kalau dibandingkan dengan peta musik nasional yang berlangsung, dari pop biasa hingga blues dan jazz. Meskipun jangan lupa, sesungguhnya musik “Kwangwung” atau “Bali” sebenarnya untup-untup jazzy, sehingga kelak disempurnakan oleh transformasi musik-musik KiaiKanjeng yang akhirnya diminta tampil pada pembukaan Jak-Jazz, kemudian mengiringi penuh nomer-nomer jazz Inna Kamari di Senayan.

Nevi sendiri memang sejenis “manusia jazzy”, dalam cerminan bahwa susunan saraf-saraf otaknya serta tekstur dinamika ide-idenya sedemikian tidak konvensional, penuh cuatan dan keliaran. Maka dia juga yang paling usil plesetan di KiaiKanjeng. Kalau mau lengkap, jiwa Nevi terdiri atas dua kutub yang saling berlawanan dan berjauhan secara ekstrem. Di satu pihak dia sangat jazzy, di lain sisi dia sangat terasuki oleh Ummi Kultsum, musik klasik Arab yang sangat rumit namun akurasi pencapaian detail dan kelembutan nadanya tak tertandingi.

Kalau di nomor-nomor musik ada intro dengan notasi saron dan demung, atau interlude, maka kebanyakan Nevi yang melahirkan kreativitasnya. Mungkin teman-teman KiaiKanjeng lainnya yang rata-rata bisa membunyikan hampir semua alat-alat musik dari yang tradisional maupun yang modern — tetapi tidak bisa liar dan nakal seperti karya Nevi. Alien Dipowinatan yang jazzy ini kayu saja dimakan, atau kerikil saja dikremus olehnya, asalkan ada informasi bahwa itu bisa mengurangi atau menyembuhkan diabetes.

Kalau KiaiKanjeng melakukan perjalan dengan bis umum, lantas di tengah perjalanan larut malam ada pencopet, maka Nevilah orang pertama yang bertindak. Apalagi dia muridnya Mas Harno di perguruan silat Bangau Putih bersama Joko Kamto dan Rahmat Mulyono almarhum. Di era remaja Dipowinatan, Iwan adiknya Nevi, dia suruh ambil batu besar, kemudian Nevi telentang dan Iwan disuruh menjatuhkan batu besar itu ke dadanya. Kelakuannya sama jadzabnya dengan Markesot sahabat saya di Menturo. Jangan izinkan dia memegang benda keras apapun di genggamannya, kalau ingin barang itu utuh dan tidak pecah berantakan.

Lainnya