Belajar Ketawadhuan Kepada Cak Fuad

Setahun terakhir ini, saya lumayan rutin menyimak kajian online Kamis malam Majelis Ta’lim Al Mizan yang bekerja sama dengan salah satu klinik di Malang  yang diasuh oleh Marja Maiyah kita, Cak Fuad. Kajian yang pesertanya sebagian besar berprofesi dokter ini adalah lanjutan kegiatan online Sinau Bahasa Arab Qur’ani (SiBAQ) yang saya ikuti, yang juga beliau asuh, selama bulan Ramadhan tahun lalu.

Sampai dengan Kamis lalu lebih dari 40 topik yang sudah beliau sajikan. Sekilas topik-topiknya ringan, misalkan saja Yang Buruk Tidak Sama Dengan Yang Baik, edisi 12 November 2020. Tapi kalau diperhatikan dengan teliti ternyata isinya mencakupi pelajaran dasar dalam Islam: ahlak, akidah, syariat, fiqih, tasawuf. Juga ada sirah Nabi. Jadi kalau diibaratkan makanan, ini makanan ringan bergizi tinggi.

Di samping mendapatkan banyak pengetahuan dan ilmu agama yang belum pernah saya ketahui sebelumnya, ada pelajaran yang penting yang dapat saya petik yaitu sikap ke-tawadhu-an. Menurut saya ini adalah keteladanan secara tidak langsung. Memang tidak ada atau belum ada topik yang secara khusus membahas tentang sikap batin yang sepertinya sudah makin jarang terlihat terutamanya pada diri manusia yang berpengetahuan luas dan berilmu banyak. Justru yang umum nampak sekarang ini adalah manusia yang dirinya tidak tahu kalau dia tidak tahu tapi merasa paling tahu bahkan dengan PD-nya mengajari orang. Dan parahnya orang yang diajari ternyata orang yang tahu. Atau unjuk gigi dengan hafalan-hafalan letak sebuah kata di suatu paragraf, misalnya. Mungkin, tipe orang seperti ini bahasa kerennya kemlinthi.

Dari cara penyampaian isi kajian dengan teduh, cara menjawab pertanyaan dengan pas dan luas, kehati-hatian selalu imbang dalam menanggapi jika ada pendapat yang agaknya lain cara pandangnya, sangat mencerminkan sikap kerendahhatian yang mana men-trigger saya untuk mentadabburinya sekaligus sebagai cermin dan bahan untuk menghitung diri.

Jika ada pertanyaan yang beliau belum tahu jawabannya, tidak segan Cak Fuad menjawab bahwa beliau belum pernah baca tentang hal itu. Kebelumtahuan atau ketidaktahuan bukanlah sebuah kekurangan. Justru dengan mengatakan belum tahu adalah sebuah kekuatan. Sebuah kebesaran jiwa, yang merupakan salah satu modal untuk bisa bersikap tawadhu.

Kesadaran bahwa Allahlah yang memiliki segala-galanya: ilmu, harta, kekuatan, dan kita hanyalah sekadar dipinjami, diberi hak guna sementara, maka sikap tawadhu akan muncul dengan sendirinya.

Mungkin di situlah kuncinya.

Terima kasih Cak Fuad. Semoga Allah Swt senantiasa memberi kesehatan jasmani dan ruhani serta memberi umur panjang.

Al-Fatihah (7x).

Putrajaya, 7 Juli 2021.

Lainnya