Belajar Kepada Pasien #1

Belajar Kepada Ifa

Dok. Pribadi

Kegalauan dan keengganan untuk menulis melanda saya sejak puasa Ramadhan usai. Ditambah dengan sejak kepergian Kyai Muzammil sowan ke haribaan-Nya, semakin bertambah rasa berat menulis itu. Padahal Mas Helmi sudah berkola-kali mengingatkan saya untuk segera setor tulisan. Tetapi ada saja kendala dan halangan untuk segera membuat jari-jari menari di atas keyboard. Padahal kadang datang ide, tapi ndilalah pas di jalan atau pas ada kegiatan lain.

Pagi ini tumben saya bawa laptop ke RS. Padahal saya tahu kalau awal minggu begini pasien selalu ramai dan berjubel. Tetapi nggak tahu kenapa, tetap saja laptop saya cangking. Dan ternyata hanya sampai jam 10-an saja urutan pasien sudah selesai.

Saya tertarik pada pasien ODC (one day care) yang datang untuk kemoterapi saja dalam sehari itu dan sore nanti bisa pulang. Dia dikemo di bed paling pojok, bersama bapak dan ibunya. Tertarik karena anak itu sangat ceria, cerita ngecipris dengan bapaknya yang duduk di depannya sambil mencuil roti dan menyuapi si anak tersebut.

Secara refleks saya keluarkan HP dari saku kemudian membuat serial candid pada peristiwa itu. Dari beberapa moment itu terpilih satu foto yang kemudian saya perlihatkan kepada ayah si pasien itu sambil minta izin apakah boleh saya posting di IG saya. Sang bapak mengizinkan, akan tetapi saya juga minta izin kepada si pasien tersebut.

Hormat saya kepada pasien adalah hormat murid kepada sang Guru. Saya minta izin kepada Ifa, demikian saya memanggil, bocah lucu berumur 3 tahun lebih sedikit, giginya geripis serta rambut yang rontok karena kemoterapi. Dengan dibantu bapak dan ibunya menerjemahkan dalam bahasanya, untuk meminta izinnya untuk saya boleh posting foto dia. Secara formal-legal, memang yang memberi izin adalah orang tuanya, karena Ifa masih anak-anak.

Secara etika dan estetika saya harus meminta izin pasien, karena Ifa adalah guru saya! Saya minta izin kepada ifa tapi tentu Ifa tidak bisa melihatnya, karena dia mengalami kebutaan di kedua matanya, karena kanker mata yang dideritanya sejak beberapa saat yang lalu. Tapi Ifa bisa mendengar, Ifa bisa merasakan dengan hatinya, dan menyatakan kegembiraannya serta keceriaannya. Kami mengobrol, dengan Ifa dan kedua orangtuanya. Sedikit obrolan pembuka kemarin pagi.

Nduk, tadi naik apa ke sini (RS)’?,” tanyaku.

“Naik tlavel Pak doktel…’ — naik travel pak dokter,” balasnya.

Laahhh emang rumahnya di mana?”

“Lumahku di Tanjong, Bumiayu,” jawabnya manja.

“Kok enggak naik Kereta Api? ’kan lebih cepet.”

“Aku seneng naik tlavel…”

Pembicaraan kami terasa hangat, dan banyak hal yang diobrolkan selama 10-15 menit itu. Obrolan ini tentu didengerin oleh pasien sekitarnya, karena ruangan ODC adalah semacam hall, ruangan terbuka yang menampung 12 pasien. Hanya dibatasi gorden, dan ditutup kalau membutuhkan privacy.

Hormat saya kepada guru saya yang bernama Ifa, salut kepada kedua orangtuanya, sambil saya merenung balik ke ruang periksa, betapa hebat si Ifa, betapa hebat kedua orang tuanya. Sungguh Allah telah memilih Ifa sebagai contoh keampuhan seorang bocah. Allah menunjuk orangtua Ifa sebagai contoh keteladanan, kesabaran, keikhlasan, dan kepasrahan yang diemban oleh mereka. Sungguh saya belajar sangat banyak dari mereka.

Melihat Ifa kecil, saya teringat akan beberapa orang musisi yang menyandang buta sejak kecil. Sebut saja Stevie Wonder, yang kondisi matanya buta sejak setelah lahir, seorang penulis lagu, pemain piano, dan penyanyi kelas dunia. Banyak lagu top yang sudah dihasilkan.

Ada dua yang paling saya suka, yaitu “Stay gold” dan “Too shy to say”.

Kemudian ada Jose Feliciano, penyanyi, penulis lagu dan pemain gitar asal Puerto Rico, yang mempunyai lagu hits berjudul “Angela” dan ‘Once there was a love”. Dan dari Indonesia kita mengenal Ramona Purba dengan salah satu lagu terkenalnya yang berjudul “Terlena”.

Saya mencontohkan tokoh-tokoh di atas, untuk membuka wawasan bahwa Allah pasti memberi sesuatu sebagai ‘imbalan’ atas kondisi ‘kebutaan’ mereka. Di saat para orang tua galau dengan tuntutan kiri-kanan, tetangga atau saudara-saudaranya, yang mengatakan bahwa seorang anak disebut ‘pintar’ kalau bisa membaca, menulis, dan menghitung (3M) dari sejak usia dini.

Maka berlomba-lombalah para orang tua untuk menyekolahkan si anak sejak sangat dini untuk sekadar bisa membaca, menulis, dan menghitung dan sekaligus merampok hak-hak anak, seperti hak bermain, hak bergembira,dan hak-hak menikmati masa kecil. Tidak lupa memberi les ekstra dalam hal berhitung dan menghapal. Anak diperlakukan seperti barang. Seperti robot yang dicetak untuk bisa menghitung dan menghapal.

Waktu saya kecil, usia anak-anak ya sekolah di TK yang isinya bernyanyi dan bermain, sorenya ke mushalla untuk belajar mengaji. Waktu SD, pagi sekolah, sepulang sekolah angon bebek sampai sore, lalu ke langgarnya simbah untuk mengaji.

Lain lagi di Korea, mulai dari TK, anak-anak dilatih untuk antre. Saya menyaksikannya dua kali. Yang pertama anak-anak TK antre di pintu masuk ‘keraton’-nya Korea Selatan. Yang kedua saya lihat anak-anak TK diajari untuk antre di depan konter check in di bandara. Tidak ada kegaduhan, tidak ada perebutan, tak ada keributan. Semua berdiri di barisan dan urutannya.

Negara maju itu mendidik generasi mudanya mulai dari hal yang sangat simpel, yaitu budaya antre. Di dalam budaya antre ini terkandung banyak nilai, baik untuk diri sendiri si anak maupun nilai sosial, yang berupa menghargai, menjaga, dan menghormati orang lain. Lha kalau di kita kok malah membaca, menulis, dan matematika yang diutamakan? Bukannya nilai-nilai kedisiplinan yang dijadikan dasar! Hello…!

Kembali ke Ifa, saya salut kepada orangtuanya yang tidak menuntut 3M tersebut. Bagaimana mau bisa membaca kalau matanya tak bisa melihat? Mereka pasti yakin bahwa dalam diri seseorang pasti ada sesuatu yang disebut multiple intelligence. Sebagai contoh dalam hal Stevie Wonder, dia tidak bisa melihat, tetapi Tuhan memberinya suara yang bagus, kemampuan untuk membikin dan menulis lagu, merangkaikan notasi nada menjadi sebuah lagu yang indah dan enak didengar. Tuhan juga memberinya kemampuan untuk memainkan bilah-bilah hitam-putih dalam piano.

Seorang psikolog AS bernama Howard Gardner, dari Harvard University, melontarkan teori multiple intelligence (kecerdasan majemuk) dalam setiap individu manusia. Apa dan bagaimana Multiple Intelligence itu, kita bicarakan lain waktu gaess, selak dioyak-oyak Mas Helmi.

Tabik.

Lainnya