Kebon (152)

Beda Ekonomi Manusia dengan Rizki Allah

Image by Frantisek Krejci from Pixabay

Tahun-tahun ketika di Menturo kami sekeluarga jatuh terpuruk dalam kemiskinan yang parah, sekarang saya sadari bahwa yang kami alami itu hanyalah masalah ekonomi, tapi bukan problem rezeki. Kalau ekonomi itu datar dan berlangsung seputar hubungan timbal balik horisontal. Sementara rezeki itu horisontal vertikal.

Dan di ujung garis vertikal, di Sidratul Muntaha, di puncak yang tak terkirakan dari segala sesuatu, Al-‘Aliy al-‘Adhim, Allah yang maha tinggi dan maha agung, tidak pernah membiarkan kami ketlarak sampai menyentuh garis probabilitas “Kadal faqru an yakuna kufron”: kemiskinan mencenderungkan manusia menuju kekufuran.

Justru sebaliknya, yang kami alami justru sebaliknya. Segala puji bagi Allah. Iman semakin teguh. Islam kami tidak goyang. Ihsan tidak sedikit pun berhenti. Sabar semakin mengabadi. Tawakkal menjadi total. Shalat menjadi sangat relevan dan penuh kenikmatan.

Dan sampai kami menua, saya mencapai hampir 70 tahun, kami cukup sering mengalami masalah ekonomi, tetapi tidak sedetik pun pernah mengalami problem rezeki. Tatkala dunia dihajar oleh Covid-19, perekonomian anjlog dan bisa pingsan, tetapi rezeki makin melimpah dari Rahman Rahim Fattah Razzaq-nya Allah Swt.

Sesulit apapun masalah ekonomi yang menimpa, tidak akan memaksa kita menjadi ‘Abdul Fulus, budak uang, ‘Abdul Khouf, narapidana ketakutan hidup, serta ‘Abdul Fasad, subjek atau objek kerusakan dan perusakan. Kita tetap Insan dan Nas, tetap ‘Abdullah dan terus berjuang sebagai Khalifatullah.

Ada perbedaan, jarak dan pilah-pilah serius antara perekonomian manusia dengan rizki Allah. Perbedaannya pada pelakunya, prinsip sebab akibatnya, pada rumus atau hukumnya, prosedur dan mekanismenya. Manusia bertransaksi, dol tinuku, jual beli, produsen konsumen, pelaku utamanya adalah manusia sendiri. Itu ekonomi, perekonomian atau penghidupan manusia. Bukan nafkah (nafaqah). Nafkah adalah pembelanjaan, sesuatu yang dikeluarkan. Tidak ada orang mencari nafkah. Itu salah kaprah. Manusia saling mempertukarkan jasa dan imbalan.

Allah sendiri juga melakukan dan menggunakan term dol tinuku atau jual beli, tetapi yang harus lebih diperhatikan adalah prinsip di baliknya.

أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ ٱشۡتَرَوُاْ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا بِٱلۡأٓخِرَةِۖ
فَلَا يُخَفَّفُ عَنۡهُمُ ٱلۡعَذَابُ وَلَا هُمۡ يُنصَرُونَ

Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong.

أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ ٱشۡتَرَوُاْ ٱلضَّلَٰلَةَ بِٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡعَذَابَ بِٱلۡمَغۡفِرَةِۚ
فَمَآ أَصۡبَرَهُمۡ عَلَى ٱلنَّارِ

Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan siksa dengan ampunan. Maka alangkah beraninya mereka menentang api neraka.

إِنَّ ٱللَّهَ ٱشۡتَرَىٰ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ أَنفُسَهُمۡ وَأَمۡوَٰلَهُم بِأَنَّ لَهُمُ ٱلۡجَنَّةَ

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَكۡتُمُونَ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَيَشۡتَرُونَ بِهِۦ
ثَمَنٗا قَلِيلًا أُوْلَٰٓئِكَ مَا يَأۡكُلُونَ فِي بُطُونِهِمۡ إِلَّا ٱلنَّارَ
وَلَا يُكَلِّمُهُمُ ٱللَّهُ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمۡ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih”.

Sangat jauh substansi perbedaan antara kandungan prinsip jual beli dan laba rugi yang digunakan oleh Allah dengan yang dipakai oleh manusia.

Dalam hal rizki Allah, subjek utamanya adalah Allah. Manajemen dan akuntansinya bersifat “min haitsu la yahtasib”. Sementara perekonomian di antara manusia harus “min haitsu yahtasib”. Ada sekolah Akuntansi, ada Fakultas Ekonomi dengan jurusan Ekonomi Perusahaan. Segala-galanya dalam urusan perekonomian manusia harus fix, rasional, dan “min haitsu yahtasib” dalam bingkai rasionalitas meteriil di akal manusia.

Tetapi itu semua, hukum sebab akibatnya, mekanismenya, rute barang dan uangnya, berbeda dengan aturan rizki Allah. Manusia bertransaksi dengan membatasi diri pada lini hukum transaksi itu sendiri. Anda tidak dipersalahkan untuk memperoleh laba dari orang yang menjual atau membeli kepada Anda, meskipun barang yang diperjualbelikan belum tentu halal. Anda berposisi halal membeli barang produk dari suatu perusahaan yang secara makro merugikan lalu lintas kekayaan rakyat Negara Anda. Tetapi rizki Allah melibatkan semua dimensi nilai: kejujuran, kesetiaan, pengabdian, dan cinta.

Salah satu cacat pandangan dan konsep hidup ummat manusia, termasuk Kaum Muslimin, adalah tidak teliti dan cermat membedakan antara perekonomian mereka dengan rizki Allah.

Di tahun-tahun sangat melarat keluarga saya di sekitar 1960-1970 itu ternyata kami mengatasi tumpukan hutang-hutang tak terkirakan tidak dengan teori perekonomian versi manusia, melainkan dengan berkonsentrasi pada “min haitsu la yahtasib” rizki Allah. Kelak pada tahun-tahun berikitnya Allah membuktikan pertolongan-Nya, rumus-Nya, hukum dan moralitas-Nya, dengan ternyata semua tanggungan itu bisa beres dan tunai. Saya sekeluarga tidak mampu menapaktilasi bagaimana dulu kok bisa beres. Bahkan lokasi Maiyahan Padhangmbulan komplek rumah induk dengan Sekolah dan Masjid, yang sertifikatnya lenyap bersamaan dengan diambilnya nyawa Ayah kami di Sidoarjo tahun 1973, sekarang sudah sepenuhnya berada secara legal di genggaman hukum kami.

Bahkan sampai hari ini seluruh hidup saya, termasuk bersama KiaiKanjeng, tidak pernah terobsesi dan diseret oleh logika perekonomian manusia, melainkan bekerja keras di dalam kepercayaan kepada rizki Allah. Rutenya iman, percaya total kepada rangsum Allah. Islam, mencampakkan diri bongkokan kepada kebijaksanaan Allah. Dengan amal saleh, tidak berhenti kerja keras dan ikhtiar kreatif. Taqwa, mewaspadai dan berhat-hati terhadap segala hal. Tawakkal, tidak bersombong diri menjangkau yang tak mungkin dijangkau oleh kadar ilmu dan kuasa manusia, sehingga mewakilkannya kepada Allah. Dan semua itu disetiai, dibudidayakan dengan sabar dan shalat.

Mungkin hal ini tampak sepele, tetapi salah satu yang menolong saya adalah dulu ada kurikulum Ilmu Bumi dan Ilmu Alam, dengan kesadaran dan spektrum yang berbeda dibanding sesudah mata pelajaran itu diubah-ubah namanya terus-menerus oleh Kementerian Pendidikan Nasional yang riwayat perjalannya dari era ke era seperti pengidap penyakit jiwa dan mental.

Meskipun saya tidak tamat SDN Bakalan Jombang, tetapi pengalaman pendidikan saya di “sekolah zaman dulu” itu membuat peta desa-desa dan Kecamatan Sumobito, juga seluruh Kabupaten Jombang, Propinsi Jawa Timur, Kepulauan Nusantara hingga benua-benua di Bumi, tergambar cukup jelas di permukaan memori otak saya.

Sampai sekarang di mana letak Purwodadi yang Jawa Timur dan yang Jawa Tengah, sebagaimana juga beda antara Purwokerto dengan Purwakarta, termasuk desa Jombang yang di Jakarta, terekam pemetaannya di layar ingatan. Ibukota semua Negara-negara di dunia. Juga kesadaran arah, utara selatan barat timur, menyatu dengan peta Negara dan Dunia. Ketika di masa dewasa saya hidup di Filipina kemudian Amerika Serikat kemudian Jerman dan Belanda, tak seorang pun bisa saya ajak bicara tentang utara dan selatan. Di seluruh dunia modern kesadarannya sangat lokal, yakni kanan dan kiri, depan dan belakang. Tidak ngasih tahu orang di luar negeri sebuah lokasi dengan menggunakan idiom arah utara selatan.

Dulu anak-anak dididik untuk punya perspektif hidup yang universal-kosmologis. Sekarang anak-anak sekolah dihimpit dan di-pak atau dipaket-paket untuk menjadi makhluk-makhluk lokal. Tahunya kiri kanan, tidak paham utara selatan. Cita-cita tertingginya hanya menjadi Presiden sebuah Negara. Kalau tidak terjangkau ya minimal jadi Walikota. Karena luasan pikiran mereka tidak ditanami benih Irsa` Mi’raj yang mengenali Sidratul Muntaha untuk menyadari ketidaksanggupan ilmunya dalam menjangkau kehidupan.

Semua makhluk Allah dicampakkan oleh Allah dalam ruang dan waktu. Kemudian manusia yang paling pandai dan modern sekarang jarang mengingat atau menyadari bahwa mereka hidup di dalam ruang yang tak terjangkau oleh ilmu mereka, serta digiring oleh waktu yang tidak terbilang oleh perhitungan mereka. Orang modern meremehkan ruang dan waktu dengan cara menyempitkan dan memendekkannya.

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ

Allah ’Azza wa Jalla berfirman,’Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mencela waktu, padahal Aku adalah (pengatur) waktu, Akulah yang membolak-balikkan malam dan siang.

Manusia berani melakukan kejahatan, kedhaliman, kehinaan karena meremehkan waktu. Apalagi peradaban abad 20-21 adalah peradaban mental instan. Peradaban di mana manusia tidak berhitung panjang. Alih-alih sampai Akhirat. Manajemen Indonesia pun tidak mensimulasi waktu yang sangat pendek di depannya, misalnya 100 tahun.

Jadi hampir semua penduduk bumi ini terutama yang masyarakat modern, ternyata adalah Enthung. “Enthung enthung ngendi lor ngendi kidul”. Enthung adalah ulat yang belum menjadi kupu-kupu. Masyarakat modern adalah manusia tradisi atau anak cucu manusia masa silam, yang sebenarnya belum pernah benar-benar mencapai modernitas dan modernisme.

Banyak kasus-kasus peradaban modern, dari kemajuan teknologinya hingga sistem politiknya yang membuat penduduk bumi jaman sekarang merasa merekalah yang paling maju dan paling hebat di antara masyarakat selama peradaban-peradaban sebelumnya.

قَالَ وَمَن كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُۥ قَلِيلٗا ثُمَّ أَضۡطَرُّهُۥٓ إِلَىٰ عَذَابِ ٱلنَّارِۖ وَبِئۡسَ ٱلۡمَصِيرُ

Dan kepada orang yang kafir pun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.

Anak-anakku Maiyah mengembangkan kewaspadaan dan ketajaman untuk melihat-lihat kembali hidupnya. Kalau kesenangan dan kemakmuran yang kalian nikmati ternyata hanyalah “faumatti’uhu qalilan”, maka bersegera dan perbanyaklah istitighfar.

Abad 20-21 ini pencapaian ummat manusia bisa didaftarkan untuk masuk kategori “baldatun thayyibatun” tetapi terlalu dhalim dan kemproh untuk bisa masuk “wa Rabbun Ghofur”. Indonesia sedikit pun belum menyentuh prestasi Sila-5 yang dibikinnya sendiri: “Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

Jangan lupa “gemah ripah loh jinawi” dari filosofi Jawa itu hasil karya Allah. Sedangkan manusia memperjuangkan “tata tenterem kerta raharja”, dan belum pernah tercapai sampai hari ini.

Kalau kau ilmuwan, cobalah eksplorasikan dan simulasikan hipotesis dasar itu menuju pembidangan yang bermacam-macam dengan beribu contoh teoretis maupun empirisnya. Masih mending Kakek kita dulu yang pelajaran dasarnya adalah “Sangkan paraning dumadi”. Dibanding anak-anak dunia modern yang semakin lama semakin primordial, semakin sempit cara pandangnya, sehingga sikap hidupnya semakin sektarian dan eksklusif. Justru kondisi konkret itu yang menyebabkan mereka sangat merindukan inklusivisme. Saking eksklusifnya hidup mereka.

Lainnya