Beben Jazz, Stay Humble

Pembukaan Indonesian Jass Festival 2013 oleh Cak Nun didampingi Beben Jazz. Foto 04. Foto oleh Adin Progress.

Dalam situasi kemrungsung dikepung kerasnya kota metropolitan, langkah saya diperjalankan dan dipertemukan sebuah oase segar di pelataran Taman Ismail Marzuki, Jakarta. 2012 silam tepatnya. Itulah awal mula saya mengenal forum Maiyah bernama Kenduri Cinta (KC).

Melalui akses dan kebaikan hati Mas Baim (korlap KC kala itu), saya dipersilakan untuk melingkar bersama. Kenal dengan kawan baru, pulang mengantongi pengalaman dan ilmu. Bahkan beberapa kali saya diizinkan mencicipi panggung KC untuk membacakan satu dua judul puisi. Sungguh pengalaman mahal tak terbayarkan.

Sampai akhirnya, melalui KC saya bisa bertemu dan melihat secara langsung sosok-sosok hebat seperti; Emha Ainun Nadjib, Taufik Ismail, Sutardji CB, Sudjiwo Tejo, Buya Nursamad Kamba, Kiai Noor Shofa Thohir (saya pernah sowan ke rumah beliau di daerah Semper Jakut), putra Alm. Mbah Surip, hingga mantan penyanyi grup Dewi-dewi Inna Kamarie, beserta partner sekaligus suaminya tercinta Om Beben Jazz. Dan pagi tadi nama terakhir tersebut dipanggil oleh Allah Swt. Allahuma’firlahu, warhamhu, wa’afihi, wa’fuanhu.

Selama melingkar di KC sekitar 3 tahunan, saya mendapati Om Beben termasuk “bintang tamu” cum narasumber yang rutin hadir di Jumat malam kedua. Kehadirannya senantiasa menghibur. Selain duet dengan sang istri, Om Beben kerap mengajak rekan musisi dari kelompok Jazz Kemayoran yang diasuhnya. Berkat lagu, nyanyian, dan petikan khas gitar Om Beben, panggung KC selalu segar. Jamaah dibuat betah dan nyaman berjam-jam, hingga subuh menjelang.

Yang paling melekat di benak kami, Om Beben adalah pribadi yang humble. Supel. Hal itu tampak dalam pembawaan dan tutur katanya. Setiap bicara, bercerita, atau merespons pertanyaan audiens (jamaah), beliau ungkapkan dengan sangat lembut dan santun. Bahasanya tidak menggurui.

Beliau acap bertutur, setiap peristiwa (bermusik atau apapun) yang dialaminya selalu connect dan relevan dengan nilai-nilai yang diajarkan di Maiyah. Benang merahnya tentu saja kembali kepada kebesaran Allah. Ia mengaku, musik telah menjadi jalannya menemukan keindahan hidup. Dan Tuhan sendiri mencintai keindahan, karena Tuhan adalah Sang Maha Keindahan itu sendiri.

Om Beben pun menegaskan, Kenduri Cinta adalah tempat yang tepat untuk kita belajar dan bersenang-senang. Belajar kepada sosok guru seperti Mbah Nun, Kiai Noor Shofa, tamu narasumber, hingga para penggiat dan jamaah KC sekalian. Serta bersenang-senang dengan cara melagukan senandung nyanyian, hingga puji-pujian shalawatan. Berkumpul, bersama, berjamaah memang menggembirakan.

Oh ya satu lagi ke-humble-an Om Beben, tiap kali ada rekan Jamaah atau siapa pun meminta foto bareng (selfi), beliau layani dengan penuh ramah senyum. Dan kini senyum Tuhan menyambutnya.

Selamat jalan, Om Beben. Sampai jumpa di sana…

Gemolong, 5 Juli 2021

Lainnya