Membaca Surat dari Tuhan (30)

Asyiknya Berkuntum Ria

Ada lagi Cah Jakarta bernama Kasmir Tri Putra yang waktu itu berjuang agar Kuntum memperoleh suplai dana dari Departemen Agama sebagai modal awal. Ada kawan Ikhwan Lmt yang mengawal langganan rutin dari sekolah-sekolah Muhammadiyah, lalu ada Mas Asrori yang administratur Kuntum yang terus-menerus mengabdi untuk Kuntum. Ada Cah Surabaya yang pernah sekolah di Muallimin. Saya ingat, ada teman ubyang-ubyung waktu itu, Cak Saifullah yang kemudian jadi doktor dan mengabdi di Muhamadiyah Sumatera.

Grup ubyang-ubyung ini, minus teman perempuan, pernah mengerjai saya waktu menjadi peserta terbaik pelatihan wartawan yang diadakan Deppen dan Fisipol UGM di kampus Sekip. Saya menulis kertas kerja tentang kekuatan feature bagi kemajuan media cetak. Oleh Bang Hadi (Ashadi Siregar) dkk dinilai siip. Saya mendapat piagam sebagai peserta terbaik dan lulus pelatihan. Juga mendapat uang pembinaan yang jumlahnya waktu itu cukup banyak sehingga saya bisa membeli mesin ketik baru merek Brother.

Tahu saya punya uang banyak, saya diminta syukuran oleh teman-teman ubyang-ubyung Kuntum campur Insani gabungan Cah Pemuda dan IPM. Saya diajak jalan-jalan ke Malioboro sambil ketawa-ketawa riang.

Sampai di depan gereja Pantekosta yang kemudian pindah ke Timoho, ada tukang ramal garis tangan. Semua minta diramal untuk hiburan. Pas saya menjulurkan telapak tangan, orang itu kaget dan hanya bilang bagus-bagus. “Bagus apanya, Pak?,” tanyaku. “Kau akan tahu sendiri,” jawabnya berteka-teki. Saya yang mendapat kewajiban untuk menyelesaikan masalah pembayaran ke tukang ramal ini dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Kami terus berjalan ke arah utara. Malioboro waktu itu belum berubah banyak semenjak saya dan teman-teman berguru kepada Umbu Landu Paranggi. Toko-tokonya masih antik, belum ada mall dan hotel besar. Yang ada baru Hotel Islam punya keluarga Pak Darban Kauman. Toko batik milik keluarga klan Kotagede sudah ada, misalnya toko Terang Bulan dan Mustika Ratu. Saya lupa toko serba ada Samijaya sebagai toko terbesar di Malioboro sudah ada atau belum. Yang jelas di sepanjang Malioboro sudah ada toko buku dan penerbit legendaris, Hien Hoo Sing dan UPI Indonesia di dekat restoran Cirebon.

Kami sampai di jalan Perwakilan dekat kompleks gedung DPRD yang ada patung Pak Dirman yang gagah memakai jas panjang itu. Di jalan Perwakilan kami kemudian masuk ke kompleks pertokoan lalu dengan diarahkan oleh Mahyudin dkk kami naik tangga. Naik ke tingkat dua. Masuk ke restoran Legian. Kami bisa memandang keramaian Malioboro dari restoran yang diperuntukkan bagi turis ini.

“Mus, syukuranmu dilakukan di sini nggih. Kamu yang mentraktir kami semua,” kata Mahyudin disambut ketawa teman-teman.

“Oke,” jawabku karena merasa punya uang banyak.

Cak Dil hanya tersenyum saja. Lalu acara dimulai dengan memesan makanan yang lezat. Kami pun menikmati sambil ngobrol macam-macam. Pulangnya saya naik Colt Kampus, saya menuju kantor harian Masa Kini di jalan Sultan Agung, bekerja sebagai wartawan dan redaksi sore membantu Pak Muchlas Abror. Menyiapkan halaman sastra dan halaman lain yang diamanatkan ke saya setiap Pak Muchlas Abror pamit karena ada acara besar di Muhammadiyah.

Waktu itu saya merangkap bekerja di harian Masa Kini dan di majalah Kuntum.

Di Kuntum kalau bekerja lebih banyak malam hari. Lembur dan tidur disitu. Kru Kuntum yang hampir semua mahasiswa tetapi masih aktif di IPM punya banyak waktu luang malam hari. Menu makan malam, bakmi di depan kantor atau kami ke selatan perempatan Gerjen, ke warung Gua Hira’ yang kadang menjadi lokasi nggabro bagi anak muda kampung sekitarnya. Kalau Cah Kuntum setahu saya tidak punya tradisi nggabro. Orang-orangnya jenaka dan naif kok.

Di Kantor Kuntum ada sudut longgar yang bisa dipergunakan untuk “menyusun tenaga” alias tidur sebentar atau lama. Kami kalau datang agak awal selalu tahu kalau Kiai muadzin Masjid Gede Kauman, Pak Kiai Jundi pulang dari shalat jamaah Isya’. Begitu masuk rumah, kadang menjenguk kami dan menyapa kami dengan menanyakan apa kami sudah shalat Isya’ apa belum. Biasanya kami jawab belum. Kami juga menunjuk teman yang tengah menyusun tenaga itu.

“Nanti temanmu disuruh shalat Isya’, nggih,” kata Pak Jundi.

“Nggih Pak.”

Mula-mula kami tidak tahu kalau lupa shalat Isya atau mengulur-ulur shalat Isya menjadi shalat di tengah malam atau dinihari ada risikonya. Awalnya, ada teman yang karena kelelahan habis lembur mengetik tertidur lama padahal dia belum shalat Isya’. Tengah malam dia terbangun lalu tergesa-gesa ke kamar mandi untuk berwudhu. Shalat.

Hari berikutnya ada lagi teman yang lupa shalat Isya keburu tidur, tengah malam terbangun lalu berwudlu, shalat Isya’. Mula-mula saya tidak tahu sebabnya mengapa dia terbangun seperti ketakutan dan setelah shalat Isya’ baru tenang, sampai suatu malam saya lupa shalat Isya keburu tidur. Tengah malam saya digoda makhluk dia menggelitik tubuh lalu ngajak duel dengan mengunci tubuh saya. Tubuh sulit digerakkan. Baru setelah saya mengamalkan doa ajaran ayah kuncian saya dilepaskan.

Waktu saya bangun masih banyak teman Kuntum yang lembur. Saya ceritakan pengalaman diganggu jin karena belum shalat Isya’. Teman-teman malah tertawa.

Akeh tunggale, Mus. Saya juga pernah mengalami.”

“Saya juga.”

“Saya juga.”

“Saya tadi kok tidak diingatkan bahwa di tempat ini kalau tidur belum shalat Isya’ risikonya diganggu jin,” kataku setengah protes.

“Agar kamu mendapat pengalaman empiris Mus. Pengalaman langsung yang bukan katanya katanya,” kata seorang teman menepis protes saya.

Ketika pengalaman ini saya sampaikan ke Pak Jundi, beliau hanya tersenyum.

“Maksud jin itu baik. mengingatkan kamu agar shalat Isya’. Kamu tadi malam belum shalat Isya’ langsung tidur kan?”

“Ya Pak.”

“Jin itu hanya menjalankan amar makruf nahi munkar dengan caranya. Cara jin.”

“Apa jinnya sudah shalat Isya’ Pak?”

“Sudah. Dia bersama saya shalat jamaah di masjid. Jadi dia merasa berhak melakukan amar makruf nahi munkar.” Saya tidak berani membantah.

Lainnya