Are You Sleeping?

Foto Dokumentasi: Ahmad Karim.

Are you sleeping? Are you sleeping?
Brother John, Brother John,
Morning bells are ringing! Morning bells are ringing!
Ding, dang, dong. Ding, dang, dong.

Ayo ngising, ayo ngising
Ning kebon, ning kebon,
Tutupi godhong pring-tutupi godhong pring!
Ndang garing, ndang garing.

Saya yakin, anda pasti sudah sangat familiar dengan bait pertama dari petikan lagu anak-anak berjudul Brother John di atas. Nursery rhyme atau sajak singkat yang sudah diadopsi ke berbagai bahasa ini aslinya berasal dari Perancis di abad ke-17 berjudul Frère Jacques. Notasi dan liriknya yang sederhana sudah dinyanyikan oleh jutaan orang tua untuk menghibur anak-anak mereka di seluruh dunia. Salah satu versi bahasa Indonesia yang populer dari lagu ini berjudul Ayo Bangunlah.

Namun siapa sangka, ketika ia menjangkau alam pikir kreatif orang Jawa, lagu Barat ini diruwat sedemikian rupa sehingga menjadi seperti yang tertulis di bait kedua. Siapapun Anda dan apapun status sosial Anda, jika paham bahasa Jawa, saya jamin minimal sesungging senyum akan muncul di balik bibir anda ketika mulai menyanyikannya.

Senyampang Cak Nun mengajak kita menggali lagi memori, nuansa, dan khazanah tentang kebon, nampaknya kita perlu belajar lagi dengan serius dari versi Jowo dari lagu tersebut. Kebon, sebuah rubrik baru di caknun.com yang sarat akan sangkan paran dan refleksi aktualitas kekinian, bahkan proyeksi antisipasi masa depan yang bisa kita petik dari Sepotong Dunia Emha, meminjam istilahnya Mas Latief S. Nugraha, adalah titik tolaknya.

Dari versi Jowo tersebut, Anda tak perlu gelar akademis sama sekali untuk membedakan daya imajinasi kedua versi lagu di atas. Yang pertama adalah salah satu produk intelektual dan estetika dunia tumbuh kembang anak dari peradaban modern Eropa di akhir periode Renaissance. Dan yang kedua adalah ekspresi spontan sekaligus respons atas mainstream berpikir, berkesenian, dan berdialektika ala Barat yang dicari kompatibilitasnya dengan keseharian masyarakat desa di Jawa.

Coba gunakan jangkauan imajinasi terliar yang Anda miliki, dan temukan rangkaian kedalaman sekaligus keluasan cakrawala maknanya di setiap baris pada dua bait lagu di atas. Setelah itu renungkanlah dan ajukan pertanyaan sederhana dengan meniru pertanyaan yang diajarkan Tuhan, bahkan sampai diulang sebanyak 31 kali di surat Arrohman, Fabi-ayyi ala-i rabbikuma tukaththiban?

Tanpa bermaksud ‘ujub, dan ndilalah Tuhan memperjalankan saya melihat dan merasakan beragam kebon di lima benua, ide dan praktik ngising ning kebon dengan ‘legal’ hanya saya temukan di desa-desa di Jawa, dan saya yakin di seluruh Nusantara, termasuk di desa saya. Dan ketika menjadi sebuah lirik lagu, maka output paling nyata adalah dinikmatinya lagu itu dengan penuh kegembiraan. Bukankah nyanyian, apapun genre dan isinya, adalah pancaran cuaca hati dan pikiran si pelagu itu sendiri? Dan pancaran itu adalah hasil dari interaksi panjang yang dialami sang pelagu dengan dunia sosial di mana ia tinggal.

Foto Dokumentasi: Ahmad Karim.

Jangankan ngising, ing-ing yang jauh lebih ringan pun sama sekali tak bisa dilakukan di ribuan city parks (kebon kota) yang luas, bersih, dan indah di Amerika. Bahkan, rumput hijau lebih dihargai daripada manusia. Beragam larangan seperti no loitering! no soliciting! no panhandling! Dan No-No yang lain jelas membuat hampir setiap musim dingin ada puluhan teman saya yang homeless di sana meregang nyawa kedinginan di pinggir jalan.

Di London dan kota-kota besar di Eropa, kebon-kebon kotanya bahkan lebih mewah, lebih bersih dan lebih indah. Tak pula harus dipasangi berbagai larangan untuk mengusir para gelandangan, karena negara memiliki cara tersendiri ngopeni mereka secara lebih ‘beradab’. Di Belanda, jangan ditanya, mulai dari Keukenhof, Amsterdamse Bos, Vondelpark, sampai Bloemenmarkt dan masih banyak lagi yang lain, pesonanya luar biasa. Sampai-sampai jutaan orang dari seluruh penjuru dunia mendatangi mereka setiap tahun, sehingga menjadi penyumbang devisa sangat besar bagi negara. Namun mereka lupa, itu semua dibangun dari darah rakyat Nusantara yang ratusan tahun dijajah oleh nenek moyang mereka. Meskipun, tak satu pun cerita penjajahan itu bisa ditemukan di buku-buku sejarah sekolah dasar yang anak saya kebetulan sudah beberapa tahun mengikutinya.

Di Jepang, terlalu bersih dan rapi untuk dibandingkan. Bahkan kebon-kebon yang ada dilengkapi dengan mata air, kali, atau parit-parit kecil yang sangat bening, dipenuhi warna-warni ikan yang berenang bebas di dalamnya. Di beberapa kota bahkan lengkap dengan wisata Onsen untuk memanjakan tubuh dan pikiran. Onsen menawarkan sensasi berendam di kolam air panas, langsung dari mata air panas alaminya, dengan syarat tanpa mengenakan satu helai benang pun, yang dirancang sangat indah dan nyaman, bak surga di dunia. Tapi sebentar, dengan aroma surgawi seperti itu, mengapa rakyatnya tetap kurang mampu bergembira? Bahkan tingkat bunuh dirinya sangat tinggi dan terus meningkat.

Di Kenya, negara yang memiliki Safari, kebon sangat luas yang dihuni oleh the big five game animals of Africa (lion, leopard, rhinoceros, elephant, and Cape buffalo), lokasi shooting-nya the Lion King, juga tak kalah eksotik. Namun, jangan coba-coba Anda nongkrong di tengah-tengahnya untuk iseng ber-selfie, apalagi melakukan ritual ngising. Tapi cerita dramatisnya jelas sekali tampak di luar pagar Safari itu. Ketimpangan si kaya dan si miskin, si pemilik kebon megah dan penghuni kebon kumuh Kibera, yaitu slum area atau kawasan kumuh terluas di Afrika, yang setiap sudutnya berbau bekas ngising, yang mustahil bisa ditutupi godhong pring.

Dari itu semua, poin penting pemaknaan lagu tersebut sebenarnya bukan pada ajakan ngising sembarangan-nya, apalagi di kebon dan mengabaikan pentingnya sanitasi maupun menjaga kebersihan. Spektrum lain yang bisa dikreatifi adalah pesan agar kebon-kebon di desa tetap ditumbuhi bambu-bambu dan dipenuhi godhong pring, tanaman, dan pohon-pohon hijau yang bersahabat dengan kehidupan sehari-hari kita. Desa ini juga bisa kita perluas matriksnya menjadi kabupaten, provinsi, bahkan bangsa. Atau kita perdalam menjadi kebon di dalam diri kita.

Dengan paradigma dekonstruktif Maiyah, bait kedua lagu itu harus dimaknai sebagai satire atas pola pikir dan perilaku mbebek sebagian besar kita yang tanpa sadar terus kehilangan kepercayaan diri dan martabat paling hakiki. Sudahlah, demokrasi yang diagungkan Amerika dan melahirkan fenomena Trump-olin tak lebih baik dari kearifan gotong-rotong. Kemajuan peradaban Eropa yang fondasinya adalah kolonialisme dan materialisme, juga tak lebih luhur dari etos tepo seliro dan teknologi batin masyarakat Nusantara. Barat maju pada aspek tertentu. Kita lebih maju pada aspek yang lain. Saya, kita, sebagai Jawa, dan sebagai Nusantara, memiliki kecerdasan kolektif untuk bisa menertawakan diri sendiri, mengkreatifi, bahkan menggembirai segala kondisi yang kita alami, yang di Barat tak saya temui.

Foto Dokumentasi: Ahmad Karim.

Kebon adalah idiom yang muncul dari tradisi dan peradaban masyarakat yang suka bercocok tanam, menyiram, mengairi, dan berbagi. Semua senyawa sudut pandang yang terkandung di dalamnya adalah tata kelola untuk kebermanfaatan bersama, bukan bersaing, melebihi, dan mengungguli. Kebon juga kosakata untuk menggambarkan apa yang oleh Tuhan disebut dengan Jannah atau Jannatul Firdaus. Para ahli filologi dan tata bahasa Melayu mengadopsinya menjadi taman. Dan dengan paradigma serupa, Ki Hadjar Dewantara beserta para perintis metode pedagogis di Indonesia menemukan konsep Taman Siswa, yang sayangnya tak lagi diaktualisasi dalam semua model kurikulum yang senantiasa berganti seiring bergantinya para menteri.

Semoga pandemi Covid-19 ini membantu kita kembali pada kesadaran untuk merekonstruksi, menjaga, dan mengoptimalkan fungsi kebon, setidaknya di diri kita masing-masing. Bukankah lagu kita adalah “cangkul-cangkul, cangkul yang dalam, menaman jagung di kebon kita”. Bukan “Lihat kebon-ku penuh dengan bunga (riba), ada yang putih (berkedok agama), dan ada yang merah (berkedok nasionalisme), setiap hari kusiram semua (dipupuk terus menerus), mawar-melati semuanya indah (nampaknya saja indah, tapi membusuk, bahkan meracuni kemudian).

Semua orang dan kelompok bisa menjaga kebon-nya secara utuh sesuai pathok atau medan perangnya masing-masing. Jangan sampai ada satu huruf pun yang lepas. Karena sekali hilang huruf n-nya saja, ia segera berubah menjadi kebo. Desa tanpa kebon, atau ada kebon tetapi kepemilikannya sudah berpindah ke orang asing, ia hanya akan membawa kita pada dua kemungkinan. Pertama, seperti Cak Nun bilang, membuat kita Menjadi Gelandangan di Kampung Sendiri. Kedua, jika itu sudah terjadi, maka Indonesia (tak lagi menjadi) Bagian dari Desa Saya. Kalau tidak paham juga, are you sleeping?

Amsterdam, 10 Januari 2021

Lainnya