Apakah Pilihan Kita Sudah Benar?

Foto: Adin (Dok. Progress)

Tadi malam, salah seorang sahabat meminta saya untuk bertemu. Ia nguda rasa terkait permasalahan yang sedang ia hadapi. Sampai pada tahap ia mempertanyakan, “Apakah jalan hidup yang saya pilih ini sudah benar?”

Sering kita pun bertanya dalam diri kita, apakah jalan hidup yang kita pilih saat ini sudah benar? Apakah sudah sesuai dengan kehendak Allah? Apakah sudah sesuai dengan apa yang digariskan di dalam lauhil mahfud?

Pertanyaan yang sejatinya kita masing-masing tidak akan mampu menjawabnya. Sebab, dalam hidup ini, yang bisa kita lakukan adalah menjalaninya. Kita hidup memperjuangkan apa yang sudah kita pilih. Toh sebagai manusia, kita dibekali akal dan hati, serta nafsu di mana ketiganya merupakan satu kesatuan perangkat yang sudah dianugerahkan oleh Allah kepada kita. Dengan perangkat itu, kita mendayagunakannya untuk kemudian melatih diri kita agar peka terhadap segala situasi dan peristiwa yang kita alami. Dan rasa-rasanya, kita baru akan merasa aman jika ridhla Allah itu sudah kita dapatkan.

Jika memakai rumus dari Ibunda Mbah Nun; Hidup itu berbuat baik, kapan saja, dimana saja, dengan siapa saja. Rasa-rasanya kunci hidup dari Ibu Halimah ini sangat terkait dengan Surat Al-Kahfi ayat 110. Kalau kita ingin berjumpa dengan Allah, salah satu caranya adalah dengan berbuat baik. Allah melengkapi syarat dengan larangan untuk menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.

Di Maiyah, Mbah Nun selalu menekankan bahwa yang ditanamkan adalah bukan mengajak orang berbuat baik, tetapi justru menikmati kebaikan, menikmati berbuat baik.

Kita di Maiyah diajak oleh Mbah Nun untuk selalu membiasakan diri berendah hati, sehingga kita tidak ge-er untuk menjadi orang yang pantas mengajak orang lain berbuat baik. Di Maiyah, kita memiliki kesadaran bahwa setiap orang sejatinya memiliki hati nurani yang selalu mengajak berbuat baik. Maka, atmosfer yang kita bangun bersama di Maiyah adalah menikmati kebaikan.

Kembali ke pertanyaan awal; Apakah pilihan kita sudah benar? Rasa-rasanya tidak ada seorang pun di dunia ini yang mampu memastikan apakah jalan yang dipilih sudah benar atau belum benar. Karena hasil akhirnya baru kita ketahui kelak ketika kita sudah berhadapan dengan Allah di hari akhir. Di situlah kemungkinan baru kita ketahui apakah yang kita pilih selama hidup di dunia ini sudah benar atau belum.

Salah satu hal yang selalu saya syukuri adalah saya ditakdirkan hidup di dunia jauh setelah era Rasulullah Saw. Kenapa demikian? Belum tentu jika saya sendiri ditakdirkan hidup ketika Rasulullah Saw bertugas membawa risalah dari Allah saya akan beriman kepada Allah dan Rasulullah Saw. Bisa jadi justru saya menjadi bagian dari Abu Jahal yang tidak mempercayai dakwah yang dibawa oleh Rasulullah Saw.

Hidup jauh setelah masa Rasulullah Saw berdakwah, yang saya syukuri adalah bahwa saya tidak perlu pusing mencari siapa Tuhan saya. Begitu lahir, saya lahir dan dibesarkan di lingkungan orang-orang muslim. Bagi sebagian orang yang menganggap dirinya open minded mungkin hal ini tidak mudah untuk diterima, karena seharusnya manusia memiliki kebebasan dalam dirinya untuk menentukan langkah yang dipilih. 

Tetapi, saya sendiri lebih memilih free will dalam diri saya untuk memilih mengikuti apa yang diajarkan oleh kedua orang tua saya. Langkah selanjutnya adalah, dengan free will yang ada dalam diri saya, maka saya memiliki kebebasan untuk menelusuri hutan belantara Islam itu sendiri. Justru di situlah saya menemukan arti kebebasan. Dan Maiyah adalah media perantara yang saya temui untuk melakukan penjelajahan itu.

Salah satu dialog dalam film “Rayya: Cahaya di atas Cahaya” adalah bahwa salah satu tugas utama hidup manusia adalah mencari. Sementara, waktu yang dimiliki oleh manusia tidak pernah cukup untuk mencari, bahkan untuk menemukan saja kita kelimpungan. Setiap hari, kita menemukan hal yang baru, yang kemudian mengantarkan kita untuk melakukan proses pencarian yang baru. Setiap hari kita dihadapkan dengan peristiwa, keajaiban, pengalaman, situasi dan kondisi yang beragam dan selalu berbeda, yang kemudian membuat kita belajar lebih detail dalam memaknai hidup. Di situlah kita sebagai manusia berproses.

Rasulullah Saw berpesan, dua hal yang menjadi pegangan hidup kita adalah Al-Qur`an dan Sunnah Rasul. Dua hal ini saja tidak ada habisnya kita cari rahasianya untuk kita temukan. Setiap hari, selalu saja ada keajaiban dari Allah yang sampai kepada kita.

Proses kehidupan yang kita jalani mungkin tidak akan mengantarkan kita pada jawaban akhir apakah jalan yang sudah kita pilih ini sudah benar atau belum. Kita hanya bisa menerka, merasakan, syukur-syukur jika kita sudah terlatih untuk peka, maka kita bisa niteni. Dan kita meyakini bahwa Allah itu Rahman Rahim, maka kita yakin bahwa Allah selalu bersama kita dan selalu memberi clue kepada kita. Tinggal kita sendiri, peka atau tidak, titen atau tidak.

Sebagai orang Islam, satu hal lain yang juga sangat saya syukuri adalah bahwa setiap membaca surat Al-Fatihah, saya akan membaca ayat ihdinash-shirotol-mustaqim. Ayat ini setidaknya mengajarkan bahwa meskipun saya sudah meyakini Islam adalah pilihan yang benar, namun ayat ini mengajarkan saya sendiri untuk selalu meminta petunjuk kepada Allah Swt. Bukankah kita tidak tahu pada momen yang mana, doa kita melalui salah satu ayat Al-Fatihah tersebut diijabah oleh Allah?

Lainnya