Anak Kita Surga Kita

Photo by Rendy Novantino on Unsplash

Jauh sebelum saya melanglang buana ke negeri Belanda untuk menjalani program internship maupun program doktoral, saya sudah berkawan dengan banyak teman Belanda. Baik yang guru besar, dokter, maupun teknisi laboratorium (kita menyebutnya laboran). Mereka adalah teman, sahabat, sekaligus guru saya. Banyak ilmu yang mereka tularkan kepada saya. Di antaranya, hal-hal mengenai bagaimana mendiagnosis suatu kelainan darah. Itu berlangsung selama saya berkunjung ke Belanda atau ketika mereka berkunjung ke Indonesia.

Pertemanan kami tidak sebatas hubungan kerja. Bahkan sesudah saya selesai program doktor, dan saya berkunjung ke Belanda, maka saya kontak mereka, dan kami mengadakan semacam reuni kecil dengan mengundang saya makan malam. Lokie Hausman, teknisi senior yang kalau mengundang makan selalu menyajikan sup khas Belanda beserta makan besar khas Belanda yang lebih suka menyajikan sayur-mayur, serta salad bikinannya juwarak! Nettie Rottier, yang lebih suka menyajikan makanan khas Vegan. Sedangkan Anne Loonen, sukanya masak masakan Indonesia seperti opor, rendang, tahu kecap dengan kerupuk udang.

Rumah Anne dekat dengan kost saya, hanya berjarak 10 menit jalan kaki. Selalu menjadi pelopor makan malam dengan mengundang teman-teman ‘grup Jogja’. Sekali dua kali mengundang Prof. Veerman untuk gabung makan malam. Rumahnya adalah sebuah flat, khas tempat tinggal untuk kota besar seperti Amsterdam. Tinggal bersama ‘pasangannya’ Thomas. Hanya berdua saja. Yaah hanya berdua saja. Thomas baik orangnya, dia kolektor musik Jazz. Pengetahuannya tentang Jazz jauh melebihi saya yang ‘sok-sok’-an berani pegang acara Jazz di Geronimo FM, waktu itu. Kami banyak ngobrol dan berdiskusi tentang Jazz. Bahkan sangat sering ngajakin saya nonton konser Jazz, di Bimhuis, gedung pertunjukan musik (lebih banyak Jazz dan world music) maupun nonton perhelatan Jazz kelas dunia di North Sea Jazz Festival.

Tentang kehidupan Anne dan Thomas, saya pun tak berani menanyakan tentang seluk-beluk hubungan mereka. Bagi orang di situ, hidup serumah (hidup bersama) memang hal yang lumrah. Tetapi ternyata, bagaimana seluk-beluk hidup serumah itu bahkan lebih rumit dari proses administrasi pernikahan di sini. Hal ini menyangkut masalah hidup yang layak, secara ekonomi, berapa penghasilannya, berapa yang dipakai bayar utang, berapa untuk nyicil rumah, berapa untuk bayar asuransi, dan lain-lain yang ternyata kesepakatan untuk ‘hidup bersama’ ini ada banyak hal yang menjadi prasyarat. Rumit!

Untuk konteks masyarakat Timur, ‘hidup serumah’ seperti itu merupakan salah satu isu di antara isu-isu kontroversial tentang perilaku atau gaya hidup di tengah masyarakat. Dan baru-baru ini, sebuah isu kontroversial mencuat lagi, yaitu child free. Seorang kawan bertanya kepada saya apa pendapat saya tentang fenomena tersebut: menikah tetapi tidak berniat punya anak.

Sebenarnya saya tak begitu kaget dengan fenomena ini, kalau saya berkaca pada beberapa teman Belanda saya tadi. Anne, Lookie, dan Nettie.

Bila dilihat dari boleh dan tidak boleh, tentu tak ada yang melarangnya. Tetapi secara subjektif saya pribadi, rasanya kurang jangkep dan kurang komplit dalam menjalani tujuan berumah tangga. Saya bukan ustadz yang tahu banyak tentang hukum maupun tentang keislaman. Tetapi yang saya tahu adalah di dalam berumah tangga, pasangan yang berkomitmen menikah diharapkan bisa bersama-sama membangun rumah tangga yang rahmah (penuh kasih sayang) mawaddah (penuh cinta), dan akhirnya bertujuan sakinah (tenang, tenteram, rukun).

Setiap yang datang pada perhelatan perkawinan selalu mendoakan tiga hal tersebut, dan hampir pasti disertai dengan doa agar segera diberi momongan. Agar diberi keturunan, yang saleh maupun salihah.

Di samping itu, dalam berumah tangga, tidak lengkap kalau tidak ada suara tangis bayi di dalam rumah. Sebagus dan semewah apapun bila dalam rumah tak ada suara tangis bayi, tak ada bau minyak telon, rasanya jauh dari komplit. Selain itu, anak yang shaleh dan shalehah adalah harta yang tak ternilai bagi kedua orangtua. Mereka ini adalah sorga! Artinya anak yang diperoleh dari sebuah pernikahan tentunya akan memberikan peluang bagi kedua orangtuanya untuk memperoleh surga di akhirat nanti. Karena tidak terputus amal seorang anak manusia kecuali tiga perkara.

Dalam sebuah hadis riwayat Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda, “Ketika seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: (1) sedekah jariyah, (2) ilmu yang diambil manfaatnya, (3) anak shalih yang selalu mendoakan orang tuanya.

Orang menikah adalah sebuah ibadah. Orang menikah dan punya anak adalah ibadah dan mulia. Bagi kaum ibu, surga yang dimiliki adalah ketika dia menyusui anaknya dan membesarkan anaknya.

Saya teringat dalam sebuah wawancara teman saya dr. Dini Adityarini, SpA. dari Surabaya, yang ahli dalam ngurusi bayi-bayi, datang khusus ke Jogja untuk ketemu Mbah Nun, dan berdiskusi tentang air susu ibu (ASI) dan segala macam seluk-beluknya. Maka saya mendapat terminologi tersebut dari Cak Nun, bahwa surga seorang ibu adalah pada ibu yang menyusui anaknya. Sebab banyak ibu yang bisa mengandung dan melahirkan bayi, tetapi tak mau menyusui. Dengan berbagai macam alasannya.

Padahal, dalam proses menyusui itu, tidak hanya proses biologis yang berlangsung, yang menyangkut masalah kandungan ASI terhadap daya tahan tubuh seorang anak. Tetapi secara psikologis juga sangat penting. Tidak hanya proses perlekatan mulut bayi ke putting ibunya, atau disebut ‘menthil’, tetapi transfer kasih sayang lewat proses perlekatan mulut bayi ke puting ibu ditambah dengan belaian ibu menjadi sangat penting bagi tumbuh kembang anak. ASI yang bermanfaat untuk mencegah berbagai macam penyakit. Tidak peduli apakah sang ibu makan dengan lauk daging atau makan nasi lauk garam doang, kualitas ASI tetep sama.

Ada juga penelitian di Asia ini yang menyimpulkan bahwa ASI bisa menurunkan risiko seorang anak untuk menderita kanker darah. Pokoknya buanyaakk manfaat ASI ini. Bahkan ada penelitian yang membandingkan antara kelompok anak yang diberi ASI dan non-ASI. Nah, alhasil pada umur belasan tahun si anak yang non-ASI ini berperilaku antisosial, berhubungan dengan narkoba dan mabuk. Amboi, betapa banyak manfaat ASI dan betapa mulia seorang ibu yang memberi ASi kepada anaknya. Inilah yang oleh Cak Nun disebut surga nya seorang ibu.

Ibarat sebuah perjalanan untuk mencapai surga, maka proses nikah – mempunyai anak – menyusui – dan membesarkan adalah proses yang tak bisa lepas.

Lalu kalau ada fenomena mau nikah tapi tak mau beranak bagaimana? Yaaa itu terserah yang menjalani saja, tapi… menurut saya sih:

Tidak komplit gaesss!!

Lainnya