Kebon (98 dari 241)

Allah Saja Tidak Malu Mewacanakan Nyamuk

Dok. Progress

KiaiKanjeng bukanlah kumpulan orang-orang modern yang pinter, alim atau saleh. Salah satu hal yang paling menggembirakan para anggota KiaiKanjeng adalah kalau acaranya dihadiri oleh orang gila. Mungkin mereka mamang segolongan. KiaiKanjeng dan orang-orang gila itu mungkin yang dimaksud oleh Allah “syu’uban wa qabail”. Pelan-pelan hal-hal itu akan saya kisahkan.

Jadi jangan dipikir KiaiKanjeng dan saya benci kepada Percil, Cebong, Kadal atau Tobil. Apa pula pengaruhnya andaikan sekumpulan orang-orang yang temannya orang-orang gila itu membenci keempat binatang itu. Daripada jadi manusia tapi gila, kan mending jadi Tobil dan Percil.

Jelas memang tidak ada masalah dengan Cebong atau Percil, Kadal atau Tobil. Keempatnya adalah bagian dari keindahan dunia. Bahkan semua binatang hakikat dan syariatnya lebih suci dibanding manusia. Binatang di-remote langsung oleh iradattullah atau amrullah, kehendak atau perintah Tuhan. Sedangkan manusia diberi pilihan, serta disiapkan peralatan untuk memproses dirinya sehingga memilih atau mengambil keputusan.

Manusia adalah subjek dengan kesadaran. Binatang dan semua alam adalah subjek juga, kambing memakan rumput, harimau memakan kambing dst, tetapi hewan hanya subjek yang tidak berkesadaran. Jadi binatang itu pseudo-subject. Itu bedanya dengan malaikat dan manusia serta jin, yang di antara yang terakhir ini lahir iblis dan setan.

Karena real-subjek di balik binatang adalah Tuhan sendiri dengan para staf-Nya, maka tidak menjadi masalah bagi manusia, bahkan menjadi hamparan rezeki yang luar biasa. Yang merusak kehidupan manusia adalah kalau ada di antara manusia sendiri yang berlaku binatang, yang langkah-langkah dan kiprah hidupnya tidak manusiawi, tapi hewani.

Bangsa Indonesia akan mengalami sejumlah kehancuran bulan-bulan dan tahun-tahun depan, karena berkuasanya manusia-manusia yang berlaku binatang. Yang peta nilai dan lalu lintas komunikasinya dikuasai oleh hewan-hewan yang aslinya diciptakan Tuhan sebagai manusia.

Andaikan mereka benar-benar Percil atau Tobil malah tidak masalah. Tapi manusia yang saling menghina satu sama lain, yang Percil menTobilkan lainnya, yang Tobil memPercilkan lawannya. Mereka melakukan permusuhan, peperangan, kebencian, kecurangan, fitnah, manipulasi, adu domba, penistaan, dan pelecehan satu sama lain tanpa ada tanda-tanda bahwa sebenarnya mereka itu manusia.

Hari-hari ini perubahan-perubahan ke arah perbaikan dan kemashlahatan mandeg hampir total di Indonesia. Terlalu tinggi halusinasi dan kadar khayalnya untuk bicara Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Terlalu ngayawara untuk masih punya cita-cita Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Kapal Indonesia disetiri oleh kumpulan awak-awak kapal yang seolah-olah subjek tapi tidak berkesadaran. Stakeholder pelayaran sejarah kita adalah kumpulan manusia-manusia yang mudah kagum, mudah menyembah-nyembah, sehingga mudah pula mengemis-ngemis kepada yang diangggapnya lebih besar dan hebat. Itu ciri-ciri mental kerdil. Sejak Proklamasi 1945 kita sudah langsung bersikap rendah diri di hadapan bangsa-bangsa lain, yang kemudian kita membebek kepada mereka dari bentuk Negara, Undang-undang, hukum hingga orientasi kebudayaan. Sedangkan Allah saja “tidak malu” mewacanakan nyamuk:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلًا ۘ يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا ۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ

“Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?” Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik”.

Allah Maha Mengetahui bahwa atmosfer kefasiqan adalah budaya kita sejak dulu. Adalah habitat sehari-hari. Adalah cuaca utama budaya komunikasi modern yang sedang kita jalani bersama. Berita-berita, kabar, informasi, upload, sharing, broadcast, yang ujung pangkalnya adalah kefasiqan, ialah makarnya manusia kepada Tuhan dan anarkhisnya di antara sesama manusia.

Ummat manusia dan bangsa milenial hari-hari ini sangat dimanjakan dan sangat bergembira menikmati “fusuq”atau kefasiqan. Padahal pada saat yang sama, di antara bangsa-bangsa di dunia, bangsa Indonesiia dikenal sebagai bangsa yang paling religius, paling berpegangan pada agama, dan menjadikan konteks Tuhan sebagai prinsip utama di Pancasila.

Sehari-hari masyarakat Indonesia, terutama Jakarta dan sebaran-sebarannya, sangat mengasyiki gadget di tangannya, share ini share itu, bikin status, upload informasi tanpa recheck, suka adu domba dan mudah diadu domba, mudah percaya, mudah kagum, mudah takjub. Malah kita riang gembira berubah menjadi kaum fasiq, fasid (perusah), hasid (provokator, penghasut), jagoan munafiq, sampai akhirnya dihadiahi Covid. Allah sudah wanti-wanti sejak 15 abad silam:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ
بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ
وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”.

Dan isi media milenial sekarang ini bukan hanya tidak menghormati peringatan Allah itu, bukan hanya tidak mematuhi-Nya, tetapi bahkan menikmatinya dan menjadikannya alat untuk mencapai kemenangan-kemenangan takhayul ekistensi dan klenik politik.

Lainnya