Kebon (160 dari 241)

Alhamdulillah Takdirku Bukan Jadi Presiden Indonesia

Foto oleh Adin (Dok. Progress).

Kalau ada orang atau kelompok terjerembab ke lembah kebencian, sehingga jiwanya menjadi radikal dan mentalnya selalu mau “tunai”, aku mencoba memahaminya dengan menelusuri latar belakangnya.

Yang membuat hati manusia terpapar rasa benci ada beberapa hal: ia diperlakukan tidak adil, disikapi tidak hanya dengan tidak bijaksana, tapi juga dijahati, dicurangi, didhalimi. Rasa benci itu akan mengakar dan mengendap kalau yang didhalimi bukan hanya dirinya tapi juga Agamanya, Nabinya, apalagi Tuhannya.

Bangsa Madura punya ungkapan: Ètèmbhâng potè mata, angoan apotèa tolang”. Daripada bola mata tinggal putihnya karena rasa malu dan hilang martabat, lebih baik tulang menjadi putih karena mati. Orang Madura jangan kau campakkan ke dalam kehinaan karena kau rendahkan martabatnya, kau ganggu istri dan keluarganya, apalagi kau lecehken Tuhan, Nabi, dan Agamanya. Ia akan ambil celurit dan mengejar Anda untuk “carok”.

Etos dan tradisi budaya carok ini dikritik oleh alam pikiran modern, dikategorikan sebagai tindakan primitif. Yang diperhatikan oleh modernisme hanya perkelahian dan senjata tajam. Mereka tidak pernah mau mengerti bahwa fokus “carok” adalah harga diri dan martabat kehidupan, mutlaknya iman, Nabi dan Tuhan. Meskipun temanmu Madura itu pemabuk, kalau kau hina Agamanya, ia akan men”carok”mu.

Aku lebih bisa memaklumi kecenderungan “carok” dibanding “perdamaian tanpa martabat” budaya modern. Yang mungkin aku sesalkan adalah orang mau ngebom demi mati syahid tapi tidak mempelajari paket-paket teknologi bom, tidak mempelajari jalur-jalur intelijen dan mafiosonya, serta seluruh pemetaan lawan-kawan, cuaca perang, taktik dan strateginya. Lebih-lebih tidak mempelajari luasnya peta probabilitas “nahi munkar”, “qatilu fi sabilillah” di dalam Islam dan Al-Qur`an.

Tetapi siapapun saja, pejabat Negara, birokrat Pemerintah, institusi modern apapun, termasuk kaum intelektual sangat terpelajar, memang sangat mudah untuk menemukan bahwa aku adalah seorang radikalis. Aku juga tidak akan menolak untuk dituduh radikal, sejauh menyangkut Hak Asasi Tuhan, syafaat Nabi, martabat Islam dan iman harga matiku.

Tetapi jangan juga lupa siapapun tak akan bisa membuktikan tindakan radikalku, sebab seluruh lautan kebencianku kepada para pengkufur Allah dalam kehidupan bernegara, kekuasaan palsu, kapitalisme maniak, keserakahan materialisme dan kemunafikan global di akhir zaman ini tidak akan pernah membuat aku membunuh orang, melakukan pemboman, makar revolusioner atau tindakan-tindakan apapun yang cara pandang Pemerintahan modern menyebutnya sebagai radikal.

Seluruh akumulasi rasa benci di dalam jiwaku yang ditumpuk, ditambah dan dihimpun terus-menerus oleh berbagai macam kedhaliman, kemunafikan, dhulumat, dhalalah dan mafsadah, keserakahan dan kejahiliyahan yang aku temukan tiap saat di mana-mana, tidak akan pernah bisa mengalahkan jiwa hikmah dalam ruhku. Sebenar apapun pandangan ilmuku, sebaik apapun iktikad nasionalisme dan universalismeku, tidak akan pernah aku jadikan landasan atau “hulu ledak” dari bom-bom tindakanku. Tidak akan aku jadikan “busur” bagi meluncurnya anak panah politik dan sejarahku.

Sebab Tuhan menyuruhku dan semua manusia, dalam menyampaikan sesuatu, mensosialisasikan nilai, mendialogkan pandangan atau menyelesaikan masalah, tidaklah “bil-haqqi”, “bil-khoiri”, “bilma’rufi” atau apapun. Melainkan “bilhikmati”.

ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِۖ
وَجَٰدِلۡهُم بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ
وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ

Serulah kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Di samping itu, aku juga tidak mungkin berani menjadi manusia yang sok lebih tahu dibanding Allah, khususnya mengenai siapa mereka itu “musuh”ku, musuh ummat manusia, dan musuh Tuhan.

وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِأَعۡدَآئِكُمۡۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ وَلِيّٗا وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ نَصِيرٗا

Dan Allah lebih mengetahui (dari pada kamu) tentang musuh-musuhmu. Dan cukuplah Allah menjadi Pelindung (bagimu). Dan cukuplah Allah menjadi Penolong (bagimu).

Mentang-mentang aku punya ilmu pengetahuan dan biasa mengaji Qur`an, tidak lantas membuat aku lebih “advanced” dan “lebih menguasai masalah” dibanding Allah dan Nabi-Nya.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُقَدِّمُواْ بَيۡنَ يَدَيِ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦۖ
وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٞ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Memang tiap hari rasa benciku makin bertumpuk, makin meluas dan mendalam. Melihat kekufuran peradaban kepada iradatillah wa amrihi yang muncul di mana-mana. Melihat Pemimpin yang tidak mengerti bagaimana memimpin. Melihat pengurus manusia yang tidak punya landasan dan presisi dalam melihat mana pembangunan mana perusakan. Melihat sedemikian serakahnya manusia mengejar laba dunia. Mbathiiiiii ae, terutama kalau sudah pegang otoritas, atas kuasa politik, ekspertasi ilmu hingga alat vaksin. Melihat betapa canggihnya kemunafikan dan hipokrisi budaya manusia dalam politik, perekonomian dan teknologi.

Tetapi itu semua tidak membuatku serta merta akan melakukan “carok” terkecuali ada perintah langsung dari Allah sebagaimana Nabi Musa diperintahkan untuk memukulkan tongkat dan membelah air laut. Aku bisa menulis sangat panjang tentang “Thaghut di era Milenial” misalnya. Memang para Fir’aun modern benar-benar “thagha”. Namun aku tidak punya derajat untuk mendapatkan wahyu seperti Nabi Musa: “Idzhab ila Fir’auna innahu thagha”. Meskipun Allah kasih istilah “wa antumul a’laun”, namun bukan jaminan bahwa aku berada di dalamnya.

Justru tiap hari aku dinasihati oleh banyak makhluk-makhluk untuk nyegoro, untuk mensamuderakan jiwaku dan menjembarkan hatiku. Sebagaimana Allah sendiri menyatakan dengan terang benderang, suatu hadits qudsy yang membuatku merasa malu setiap merasakan kebencian menekan urat sarafku:

قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَ تَعَالَـى
يَا ابْنَ آدَمَ ، إنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ
غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيْكَ وَلَا أُبَالِيْ ،
يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ،
ثُمَّ اسْتَغفَرْتَنِيْ ، غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِيْ ،
يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ،
ثُمَّ لَقِيتَنيْ لَا تُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا ، لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابهَا مَغْفِرَةً

Hai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau berdoa dan berharap hanya kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni dosa-dosa yang telah engkau lakukan dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam! Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam! Jika engkau datang kepadaku dengan membawa dosa-dosa yang hampir memenuhi bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan memberikan ampunan sepenuh bumi.

Sampai setua ini usiaku, Allah tak berhenti menganugerahkan kenikmatan, keleluasaan, kesejahteraan dan kemerdekaan kepadaku. Bayangkan susahnya kalau aku disuruh jadi Presiden Indonesia. Bayangkan kalau aku dipenjarakan oleh takdir untuk memimpin politik Indonesia. Bagaimana caranya memimpin negara yang komplikasi penyakitnya berkadar sangat tinggi dan akut ini. Yang sebegitu parahnya penyakit tidak shiddiq dan tidak amanah, sehingga salah-salah dan sesat tabligh-nya serta tidak kunjung dimurahi fathonah oleh Allah untuk bekal membangun masa depan dan menolong anak cucu bangsa. Apalagi  justru 17 Agustus 1945 itulah momentum matangnya konsep penjajahan atas Indonesia, yang sesudah dikibulin 350 tahun tidak hancur-hancur juga.

Bagaimana mungkin aku menanggung Hisab Akhirat nanti. Bagaimana pula nasib anak-cucuku. Tetapi puji Tuhan aku dimerdekakan dari perintah untuk memimpin keruwetan dan sakit jiwa. Alhamdulillah tak ada sehelai saraf yang menyentuhkanku dengan ambisi menjadi Presiden Indonesia. Allah sangat mengentengkan hidupku. Allah sangat memudahkan perjalanan sejarahku. Hidupku sangat bersahaja. Aku hanya disuruh tidak berhenti bekerja keras pada level dan skalaku, beramal saleh “illa wus’aha”, istiqamah shalawatan “rahmatan lil’alamin” dengan anak-anak Maiyahku. Mengkreatifi terus-menerus aplikasi-aplikasi “Al-Mutahabbina Fillah” di segala bidang, demi masa depan manusia di seluruh permukaan Bumi.

Dulu di Menturo, Jombang, Mojokerto, dan beberapa daerah lain di Jawa Timur di masa kanak-kanakku ada kosakata populer yang berbunyi “kombinasi”. Artinya gabungan, mungkin konteksnya semacam festival, parade, atau perlombaan. Ada “Kombinasi Terbangan” ada juga “Kombinasi Pencak” atau perkumpulan semacam arisan para pesilat. Kelompok-kelompok pelantun shalawat dengan iringan terbang bertebaran di desa-desa. Juga kegiatan rutin sparring silat.

Secara berkala rutin mungkin seminggu atau sebulan sekali sesuai dengan perundingan mereka berkumpul di suatu tempat yang disepakati. Pelaku utama “Kombinasi Terbangan” adalah organisasi swasta “Ishari”, Ikatan Seni Hadroh Indonesia”. Aku mengenal shalawat Nabi dari tradisi itu. Yang dibaca adalah karya Syekh Al-Barzanji, dibawakan dengan lagu dan gerak yang disebut rodat. Sangat menggetarkan dan memukau, Mustahil Kanjeng Nabi tidak rawuh, bergembira hatinya dan mendoakan semua yang selawatan dan rodat itu agar diberkahi oleh Allah Swt.

Tahun 2014 sebanyak 1050 anggota Ishari berkumpul di halaman Balairung Majapahit Trowulan Mojokerto untuk mengisi acara Maiyahan “Banawa Sekar” dengan dihadiri tak kurang dari 40 ribu pengunjung. Semua itu berlangsung atas kerja keras dan jasa almarhum vokalis KiaiKanjeng Muhammad Zainul Arifin yang suaranya emas karat tertinggi sehingga aku yakin kelak di sorga Zainul sangat berperan memperindah suasana bebrayan di Sorga. Karena di sorga kelak tak perlu mencari nafkah, ngantor atau ngojek, apalagi nyopet atau njambret. Berpesta cinta dan shalawat saja pekerjaan rutinnya.

Zainul sangat dicintai oleh semua KiaiKanjeng dan disayangi oleh semua Jamaah Maiyah. Di KiaiKanjeng gelar Zainul adalah “AWR”. Bukan “Abdurahman Wahid Air”, tapi Zainul kalau sedang bersama KiaiKanjeng suka mengeluh “Awakku reeeeek” karena lelahnya berkeliling nonstop Maiyahan dengan KiaiKanjeng yang sudah mencapai hampir 5.000 titik atau wilayah undang dan kunjung.

Kalau “Kombinasi Pencak”, biasanya murid-murid sejumlah perguruan silat dipertandingkan satu demi satu. Puncaknya adalah Guru Besar masing-masing menunjukkan keterampilan, kekuatan, dan kesaktiannya sebagai pesilat. Aku pernah nonton ini di halaman rumahnya Bang Ya, bagaimana pertarungan antara dua pendekar berkembang sampai tingkat merobohkan pohon-pohon, menghancurkan pagar-pagar karena tertimpa oleh tubuh dan jurus mereka, termasuk Lesung alat menumbuk padi yang lebih besar dari tubuh manusia diangkat menjadi senjata mereka.

Lainnya