Belajar Kepada Pasien #7

Aldi dan Keluarganya yang Tangguh (3)

Dok. Pribadi.

Menjawab pertanyaan akhir episode lalu yakni pertanyaan tentang ‘bagaimana caranya?’, PR Kita tidak bisa kita kerjakan sendiri, harus kita lakukan bareng-bareng dalam rangka memenuhi beberapa hak anak. Yaitu anak harus selalu merasa bahagia. Anak-anak tidak boleh kehilangan waktu bermain. Dunia anak adalah bermain, bernyanyi, dan menari. Dunia yang sangat membahagiakan.

Saya ingat masa kecil saya kalau sore hari sesudah pulang sekolah, sesudah angon bebek, maka saya bermain di sawah yang barusan dipanen. Lari-lari, kejar-kejaran dengan teman sebaya. Ngundho layangan, golek welut (bermain layangan dan mencari belut) di sawah dengan cara menggali liang belut di sawah dengan tangan (tanpa alat apapun). Pulang sebelum Maghrib dan kemudian ngaji di langgarnya simbah sesudah jamaah Maghrib.

Itulah contoh kebahagiaan anak-anak yang tidak boleh dirampok oleh siapa pun dan kondisi apa pun, termasuk sakit. Tentu kebahagian masa kecil saya akan berbeda dengan kebahagiaan masa kecil anak milenial ataupun anak generasi Z. Satu hal lagi yang anak-anak tidak boleh kehilangan pada masa sakit ini adalah: kesempatan belajarnya.

Alhamdulillah dengan bantuan teman-teman LSM yang bergerak untuk anak-anak, kami bisa menjembatani masalah-masalah itu. Di salah satu ruangan di bangsal kanker anak ada satu ruangan yang dikhususkan untuk bermain. Ya mainnya anak-anak sekarang. Main yang edukatif. Menggambar, mewarnai, main puzzle, membaca buku cerita, atau dibacakan buku cerita atau menonton film kartun bareng-bareng. Kegiatan ini dilakukan anak-anak itu (baca: guru-guru saya) dengan infus yang menggantung yang isinya kemoterapi, atau transfusi.

Sedangkan untuk kebutuhan belajar, teman-teman LSM itu memfasilitasi dengan menghadirkan seorang guru yang multi purpose, bisa sebagai guru SD, SMP ataupun SMA. Kita menyebutnya dengan hospital schooling. Kalau saatnya ujian nanti, ada guru-guru dari sekolah anak-anak itu datang untuk menguji. Biasanya dilakukan di atas bed dengan bantuan meja lukis yang diletakkan di atas kasur anak-anak. Dan itu diakui oleh Dinas Pendidikan setempat (di mana anak sekolah itu berada). Itulah usaha-usaha kami dan teman-teman LSM yang semoga bisa sedikit meringankan beban anak, dan menghindarkan anak-anak dari kehilangan kesempatan bermain dan belajar. Walaupun kondisi mereka sedang sakit.

Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku.” (QS. Asy-Syu’ara: 80).

Rasanya tak habis-habisnya saya berguru kepada pasien. Banyak hal yang ingin saya ungkap di sini. Banyak hal yang ingin saya share kepada teman-teman semua. Melalui beberapa serial tulisan Belajar Kepada Pasien.

Kali ini episode terakhir belajar kepada ketabahan keluarga Pak Dodok, yang berputra Aldi Bayu, sang survivor (penyintas) leukemia. Aldi pertama kali menderita leukemia di tahun 2005, kala itu Aldi masih sangat kecil, berumur hampir 3,5 tahun. Mulai pengobatan tahun 2005 selama 2 tahun, dan dinyatakan bebas obat di tahun 2007.

Aldi kecil kembali beraktivitas seperti biasa, bermain, berlari, main layang-layang di lapangan. Namun di tahun 2009 Aldi harus menjalani kemoterapi lagi karena dinyatakan kambuh. Menjalani protokol pengobatan lagi, yang lebih intensif dan sedikit lebih lama. Dan dinyatakan bebas obat mulai tahun 2011. Sudah 10 tahun Aldi tidak mengkonsumsi obat-obatan (kemoterapi), dan Aldi sudah dinyatakan sembuh!

Namun di tahun kesembuhan ini Aldi harus berpisah dengan orang yang paling dicintai: ibunya. Baru tiga minggu yang lalu Ibunya meninggalkan Aldi, kakak-kakaknya,serta pak Dodok untuk selamanya. Seorang ibu pejuang yang sangat sabar, sangat santun, dan selalu tersenyum. ‘Allhummaghfir laha warhamha wa’afiha wa’ fu anha, waj’alil jannata matsfaaha.

Di akhir penuturannya melalui VN, Pak Dodok kelihatan sangat sedih dan terpukul dengan kepergian istri tercinta. Dengan suara lirih dan terbata-bata ia melanjutkan kisahnya.

“Sudah tiga minggu ini Aldi ditinggal ibunya. Saya kasihan sama Aldi. Cuma dia nggak kelihatan sedih. Tetap semangat! Kalau Aldi sudah diam, saya jadi sedih. Dia sangat sayang banget sama ibunya, masih aleman sama ibunya, walaupun sudah SMA kalau bobok mesti sama ibunya. Kalau tidak sama ibunya, tidak bisa tidur dia. Makanya dia mesti nyari ibunya. Itu yang saya kasihan sekarang. Mudah mudahan Aldi diberi ketabahan….”

Saya bisa membayangkan bagaimana lekatnya Aldi dengan ibunya, bagaimana kedekatan dengan ibunya baik secara fisik maupun emosional. Saya sangat paham. Sebagaimana saya sangat dekat dengan ibu saya. Saya bahkan bisa merasakan kalau ada ‘sesuatu’ yang menimpa ibu, walapun saya sedang jauh dari ibu. Bahkan saya diberi firasat kalau ibu akan meninggalkan saya selamanya beberapa bulan sebelum ibu meninggal. Itulah kedekatan seorang anak dengan ibu. Dan saya yakin Aldi pasti akan sukses berkat doa ibu. Aldi akan selalu dikancani dan diawat-awati ibu, walaupun berbeda dunia. Saya dan Cak Nun pernah ngobrol panjang tentang perbedaan dia alam ini.

Dari situ, saya merasakan bahwa kedekatan Aldi dengan ibunya adalah kuci kesembuhan Aldi!

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (QS. Al Isra: 23-24).

Di akhir penuturannya, Pak Dodok memberi pesan kepada siapapun, “Demikian penyampaian saya bapaknya Aldi Bayu, dari Randublatung Blora, semoga semuanya (semua pasien) sukses seperti Aldi. Tetap semangat. Harus semangat. Allah akan melindungi. Bapaknya, ibunya, anaknya harus semangat, jangan kasih kendor (semangat) anaknya. Do’akan anaknya, semoga seperti Aldi. Sembuh.”

Beberapa poin pelajaran yang diajarkan oleh Aldi, ibu, dan bapaknya adalah: semangat, ketelatenan, dan kepatuhan (compliance). Banyak studi yang dilakukan oleh para akademisi tentang kepatuhan (minum obat, cara menghindari infeksi, kontrol dll.) yang berhubungan dengan tingkat kesembuhan pada penyakit Leukemia ini. Hal ini bahkan menjadi disertasi doktor dua orang sahabat saya yaitu dr. Mei Neni Sitaresmi (UGM) dan dr. Saskia Mostert (VUMC, Amsterdam) pada tahun 2010.

Di dalam puncak usaha keras, semangat dan kepatuhan itulah yang disebut pasrah. Baru kemudian menyerahkan hasil usahanya ke Allah. Dan keluarga Aldi sudah melakukan dan membuktikannya, dengan segala macam dinamika perjalanan pengobatan selama bertahun-tahun itu. Jadi, yang namanya ‘pasrah’ bukan sekadar penyerahan tanpa usaha.

“Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Quran) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57).

“Demikian penyampaian dari saya, terima kasih untuk para dokter dan perawat RS Sardjito, yang telah (membantu) menyembuhkan anak saya. Allaah, Allah yang melindungi anak saya, kita cuma bisa berdoa. Semuanya harus semangat, demi masa depan anak-anak kita. Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh. Salam sehat untuk semua yang sakit di RS Sardjito. Amin, Amin, Ya Robbal ‘alamin,” demikian bapaknya Aldi mengakhiri perjalanan ikhtiar kesembuhan sakitnya Aldi lewat VN. Pak Dodok, yang mempunyai nama lengkap Dwi Joko Widodo. Pak Dodok yang sekarang harus berjuang seorang diri, tanpa ada pendamping di sisinya. Semoga selalu diberi kekuatan dari Allah untuk melanjutkan perjuangan ibu.

Selalu begini. Ada ucapan terimakasih. Padahal sebenarnya saya tak mengerti apa-apa tentang sakit dan sehat. Ilmu saya tak ada sekuku hitam dibandingkan rahasia Allah tentang penyakit dan sehat. Terlalu banyak yang saya tidak mengerti, dibandingkan dengan apa yang saya ngerti.

Justru saya yang harus berterimakasih kepada Aldi dan keluarganya, karena saya hanya belajar dari pasien yang merupakan guru-guru saya. Semua yang dilakukan orang tua Aldi adalah bentuk kepasrahan. Puncak dari segala usaha manusia. Allah yang akan menilai, Allah yang akan memberi hasil akan usaha manusia tersebut.

Puisi Cak Nun yang kemudian dilagukan oleh KiaiKanjeng, mensukmai perjalanan saya.

Tuhan aku berguru kepada-Mu
Tidak tidur di kereta waktu
Tuhan aku berguru kepada-Mu
Meragukan setiap yang kutemu
Kelemahan menyimpan berlimpah kekuatan
Buta mata menganugerahi penglihatan
Jika aku tahu terasa betapa tak tahu
Waktu melihat betapa penuh rahasia
Gelap yang dikandung oleh cahaya

Juli 2021.

Lainnya