Aldi dan Keluarganya yang Tangguh (2)

Dok. Pribadi.

Selanjutnya Pak Dodok berkisah, “Untuk Aldi ini, (pengobatan) yang pertama adalah stadium awal, dengan pengobatan yang menggunakan protokol standar. Namun untuk yang kedua ini (yang kambuh) diobati dengan menggunakan protokol yang lebih tinggi. Wah ini obatnya lebih keras lagi.”

Pak Dodok kemudian diam lagi beberapa saat, kemudian meneruskan ceritanya.

“Tapi mudah-mudahan anak saya Aldi diberi kekuatan. Ibunya berdoa terus di dalam kamar (perawatan). Saya di luar, tidur di luar. Tetapi Aldi itu semangat. Dia seorang yang penggembira/periang, dan lucu. Aldi nangisnya kalau disuntik saja. Habis disuntik ya gembira lagi. Makanya teman-teman pasien sekamar itu pada senang sama Aldi. Soalnya lucu. Kalau diminta menirukan pelawak-pelawak, bisa cerita kemana-mana. Itu yang bisa bikin dia sembuh.”

Saya menyimak dengan baik.

“Dia takutnya sama jarum, dan habis disuntik diem. Sama satu lagi, Aldi takut kalau disuntik tulang belakang. Habis disuntik tulang belakang harus tidur telentang tanpa bantal selama 6 jam. Rambutnya sampai rontok, habis. MasyaAllah Le, Le, semoga besok kamu jadi orang Sukses,” demikian Pak Dodok memungkasi voice note ke 14.

Di dalam treatment leukemia (penyakit kanker darah), seperti yang diderita Aldi kemoterapi (obat anti kanker) yang diberikan bisa melalui berbagai jalan. Ada yang diminum, ada yang masuk melalui infus langsung ke pembuluh darah, dan ada yang diberikan melalui suntikan di tulang belakang. Suntikan ini dimaksudkan agar obat anti kanker masuk ke dalam cairan otak melalui cairan di tulang belakang.

Nah, yang terakhir ini adalah upaya profilaksis (pencegahan) agar sel-sel darah yang ganas tidak masuk sampai cairan otak. Apabila sel-sel ganas masuk sampai cairan otak, maka bisa timbul sakit kepala, dari yang ringan sampai berat bahkan sampai kejang dan bisa berakibat fatal. Pengobatan pencegahan masuknya sel-sel ganas ke cairan otak tersebut, dulunya menggunakan radiasi (disinar) selama berpuluh-puluh kali. Tentunya efek sampingnya lebih banyak. Namun seiring dengan perkembangan kemajuan pengobatan, penyinaran itu tidak lagi dilakukan.

Pada zamannya Aldi sakit, ketika melakukan prosedur penyuntikan, hanya menggunakan bius ringan, sehingga si anak masih bisa merasakan sedikit sakitnya. Namun sekarang tidak lagi. Setiap prosedur tindakan selalu berpegangan bahwa ‘anak tidak boleh merasakan sakit’ maka dengan bantuan teman-teman ahli anestesi (ahli bius), selama prosedur tindakan anak tertidur pulas dan diberi anti nyeri. Masya Allah, terimakasih teman-teman bius!

Tindakan-tindakan seperti: pengambilan sumsum tulang (untuk prosedur diagnostik dan evaluasi pengobatan), pengambilan cairan otak –anak-anak/pasien lebih senang menggunakan istilah suntik punggung–, baik untuk profilaksi dan pengobatan, suntik sendi, dan berbagai prosedur tindakan yang menyakitkan, sekarang tidak lagi terjadi.

“Dengan pengobatan yang panjang itu, yang terakhir adalah periode 2009-2011, dan dinyatakan berhenti minum obat, lalu dilanjutkan kontrol tiap bulan selama setahun sampai 2012,” kenang Pak Dodok.

Lalu Pak Dodok bersyukur atas semua kelancaran masa pengobatan, “Alhamdulillah selama proses pengobatan tidak ada kendala, hanya kadang-kadang capek, kadang-kadang drop juga karena perjalanan 6 jam dari Blora ke Jogja. Perjalanan naik bis, kadang nyarter, kadang nunut truk, pokoknya yang mana yang bisa dilakukan. Kalau nggak punya uang kadang naik kereta api. Ada tuh dulu, kereta Banyubiru, rute Krombo – Jogja, murah karcisnya hanya 15 ribu, saya naik kereta selama (kurun waktu) enam bulan. Tapi pulang malam, sampai di rumah jam 9-10-an malam.“

Pak Dodok mengingat dengan penuh apa yang dialaminya dalam mengupayakan kesembuhan Aldi, “Kadang saya naik motor dari (rumah) Randublatung sampai Purwodadi, motor saya titipkan di Purwodadi, sesudah itu naik bis menuju Jogja. Pernah terjadi pagi dalam perjalanan dari rumah naik motor ke Purwodadi, tiba-tiba hujan di jalan. Tak sempat ngeyup karena tidak ada rumah untuk ngeyup. Begitu menemukan warung saya langsung berhenti, masuk dan yang saya urusi duluan adalah Aldi. Saya langsung keringkan dan saya ganti.“

Voice note berikutnya saya putar, “Begitulah, sampai sekarang sudah berapa tahun ya, mulai 2012 (terakhir kontrol) sampai sekarang…(kira kira sudah 10 tahun). Sekolahnya saja berhenti, kira kira tiga tahun, seharusnya sudah lulus SMA. Sekarang baru naik kelas 2 SMA. Tapi dia tetap semangat. Anaknya pinter, ngajinya juga pinter. Waktu TK keluar masuk (karena masih pengobatan), waktu SD kelas 1, belum bisa baca eh kok kambuh lagi, terus berhenti tiga tahun. Waktu selesai pengobatan, mestinya kan kelas tiga. Lha saya minta untuk masuk ke kelas 3, lhaa tidak boleh. Harus mulai dari kelas 2 dulu. Karena kepala sekolahnya baru dan belum tahu riwayatnya Aldi.”

“Sang kepala sekolah terus bilang, ‘sudah masuk klas 2 dulu, nanti akan selalu saya naikkan’. Pada waktu Aldi keluar dari sekolah, kelas satu, karena harus pengobatan lagi, Aldi sama sekali belum bisa baca. Lha kok ketika mulai masuk sekolah sudah lancar membaca, saya sampai heran lho.’Dia pintar, bisa baca semuanya, juga terampil, padahal waktu pengobatan, banyak sekali obat yang masuk ke Aldi. Waktu SD itu, dia pintar ngaji, selalu diantar ibunya kalo pas ngaji, dan Alhamdulillah Aldi Juara ngaji se-Kabupaten. Masya Allah! Sekarang Alhamdulillah sudah kelas 2 SMA, diberi kesehatan sama Allah Swt, semoga nanti sukses ke depan,” do’a pak Dodok.

***

Apa yang Pak Dodok pikirkan dan keluhkan itu menjadi keprihatinan dan sekaligus menjadi PR kita bersama. Pada prinsipnya dalam masa pengobatan ini, anak-anak harus selalu mendapatkan haknya dalam pendidikan. Anak-anak harus selalu bisa bahagia, harus selalu bisa bermain, dan harus selalu  mendapat haknya sebagai anak-anak. Hak untuk memperoleh pendidikan, kesehatan, dan kegembiraan. Siapa yang mestinya bertanggung jawab? Bagaimana caranya?

Lainnya