Kebon (155 dari 241)

Alamat Hidup Kita Bukan di “Kesementaraan”

Inovasi atau tajdid, yang merupakan ujung setiap tahap perjuangan ijtihad, sebenarnya bukanlah benar-benar menemukan kebaruan atau menemukan adanya sesuatu yang semula tidak ada. Yang terjadi sebenarnya hanyalah ketekunan seseorang yang membuatnya sampai di suatu titik yang orang lain belum pernah sampai ke situ.

Di dalam pengembaraan kreativitasnya, manusia menemukan sesuatu yang baru. Bukan sesuatu yang sebelumnya belum ada. Manusia hanya menemukan sesuatu yang sebenarnya sudah ada.

Demikianlah saya dididik di Menturo, kemudian mobat-mabit menjalani sesuatu yang pandangan umum menyebutnya kenakalan sejak di Gontor sampai diusir hingga di SMA Muhammadiyah I Yogya yang saya tidak benar-benar pernah lulus secara hakiki. Fade-out fade-in dengan itu di Malioboro, Patangpuluhan hingga bersama KiaiKanjeng dan Maiyah sekarang di Kadipiro.

Seluruh proses itu sekadar menemukan, bukan menciptakan. Seluruh genre musik KiaiKanjeng, pola kreativitasnya, manajemen kelompoknya, sampai mozaik budaya silaturahminya, hanyalah menemukan yang kebetulan orang lain belum pernah menemukannya. Maiyah juga bukan sesuatu yang baru. Ia sekadar suatu ranah yang kebetulan belum pernah dirambah oleh siapapun sebelumnya sejak Kanjeng Nabi.

Kemungkinan semacam itu bukan pula prestasi saya atau siapapun. Allah sudah menghamparkannya sejak awal mula penciptaan. Saya dan teman-teman hanyalah orang-orang yang tidak “berani” kepada Allah, tidak gagah perkasa melakukan hal-hal yang Allah tidak menyukainya. Karena takut akan disesatkan keluar wilayah hidayah:

أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ ٱشۡتَرَوُاْ ٱلضَّلَٰلَةَ بِٱلۡهُدَىٰ فَمَا رَبِحَت تِّجَٰرَتُهُمۡ وَمَا كَانُواْ مُهۡتَدِينَ

“Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk”.

Kalau bisa kita tidak akan pernah tidak waspada untuk selalu konsisten menempuh “as-shirathal mustaqim” berdasarkan kecermatan akal dan kepekaan “roso”. Selalu demikian yang kita upayakan dalam menjalani kehidupan, silaturahmi, peran sosial, berkeluarga dan apapun saja dalam perjalanan peradaban ummat manusia.

Kalau bisa, semoga Allah memperkenankan posisi ini:

أُوْلَٰٓئِكَ عَلَىٰ هُدٗى مِّن رَّبِّهِمۡۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ

“Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung”.

Terutama sesudah kemerdekaannya, bangsa Indonesia menghadirkan diri di dalam suatu wajah peradaban yang mencerminkan seolah mereka tidak punya ketekunan untuk berijtihad membangun sejarahnya. Di antara mereka ummat Islam sebenarnya mengenal dan melakukan ijtihad, ijma’, qiyas, mashlahah mursalah, istihasan, sadudz dzariah, dan seterusnya, tetapi tidak dalam spektrum menyeluruh kehidupan manusia, sehingga ditemukan karakter kebangsaannya. Hanya dilakukan dalam bidang-bidang yang eksklusif, misalnya wilayah fiqih atau sedikit perekonomian, itu pun tanpa komprehensi yang “kaffah” dari keseluruhan nilai Islam dan kompleksitas luas dari dimensi-dimensi kehidupan manusia.

Menjadi dirimu bukanlah pilihan dan keputusanmu, melainkan iradah dan amr Allah. Menjadi bangsa Indonesia bukanlah pilihan kita, melainkan kontinuitas dari kehendak penciptaan Tuhan atas manusia. Menjadi orang Jawa, Madura, Minang, Tolaki atau Sasak, bukan rekayasa kita sendiri, melainkan merupakan bagian dari hamparan sejarah penciptaan antropologi Tuhan di bumi. Dengan demikian setia kepada karakter keIndonesiaan, konsisten terhadap peradaban Jawa atau Sunda, adalah alur yang berasal dari kemauan Tuhan atas makhluk-Nya.

Bangsa Indonesia sudah memproklamasikan kemerdekaannya sebagai bangsa dan manusia. Tetapi kehidupan yang mereka tempuh membiarkan diri mereka diseret oleh arus besar dari luar negerinya, yang membuat mereka secara esensial dan substansial sebenarnya menjauh dari Pancasila dan prinsip-prinsip Agama yang mereka peluk.

أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ ٱشۡتَرَوُاْ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا بِٱلۡأٓخِرَةِۖ
فَلَا يُخَفَّفُ عَنۡهُمُ ٱلۡعَذَابُ وَلَا هُمۡ يُنصَرُونَ

“Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat, maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong”.

Rapat PBB tidak akan pernah menyebut kata “akhirat”. Juga pertemuan-pertemuan Negara-negara adikuasa, yang Indonesia menjadi anak buahnya.

Kita juga tidak dididik oleh Bapak-Bapak Bangsa kita untuk berpikir hulu-hilir, mempertimbangkan sangkan dan paran, menyadari dan membijaksanai rentang langit-bumi dan dunia-akhirat. Dari era ke era pemerintahan Negara kita yang dipengaruhkan kepada rakyatnya adalah proses penyempitan, proses pendangkalan, dan pemendekan atau pen-cekak-an. Anugerah ruang yang tak ada tepinya dan waktu yang tidak ada pangkal ujungnya, kita persempit dan perpendek sedemikian rupa dan itu menjadi pedoman langkah kita sebagai bangsa, Pemerintah maupun manusia.

Semua tokoh dan ahli selalu mendakwahkan pengertian bahwa hidup manusia ini “hanya sementara”. Padahal kita hidup abadi. Hidup dalam ketakterbatasan ruang dan kekekalan waktu. Di dalam keabadian itulah alamat kita. Keabadian itulah tempat kita berkeluarga, menempuh karier, berjuang mencari penghidupan sepanjang usia, bermasyarakat dan bernegara.

Dalam hampir semua hal kita meyakini bahwa kita hidup hanya sementara waktu belaka. Maka kita teguhkan untuk terus menjalani hidup dengan berpikir pendek, dangkal dan sempit. Mempertimbangkan segala sesuatu dalam kehidupan berbangsa kita tidak dengan landasan keluasan, kedalaman, dan keabadian. Presidennya hanya mikir bagaimana lulus sampai lima tahun, kemudian bagaimana bisa lima tahun lagi. Kemudian dari cekak ke cekak. Tidak ada pemerintahan dan kepemimpinan Indonesia yang rentang pemikirannya 10-20 tahun ke depan, 30-50 atau apalagi 80-100 tahun ke depan.

Alih-alih berpikir dari sorga ke sorga. Berpikir keabadian. Karena tidak pernah berani meneguhkan di dalam hati dan parasaannya bahwa manusia itu oleh Tuhan dihidupkan selama keabadian. Kita di neraka akan kekal, di sorga pun kekal.

بَلَىٰۚ مَن كَسَبَ سَيِّئَةٗ وَأَحَٰطَتۡ بِهِۦ
خَطِيٓ‍َٔتُهُۥ فَأُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ

“Niscaya demikianlah kebenarannya: Barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”.

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَنَّةِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ

“Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya”.

Kita dididik menjadi bangsa yang hobi sekali kepada segala sesuatu yang instan, pendek, sementara, sempit, dangkal, dan sesaat. Di Maiyah dikenal idiom 3C: Cekak, Ciut, Cendhak.

إِنَّآ أَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ بِٱلۡحَقِّ لِتَحۡكُمَ بَيۡنَ ٱلنَّاسِ بِمَآ أَرَىٰكَ ٱللَّهُۚ
وَلَا تَكُن لِّلۡخَآئِنِينَ خَصِيمٗا

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat”

Kata “litahkumu” ditejemahkan menjadi “mengadili”. Dan itu dibatasi pada adanya suatu perkara di antara manusia. Ayat itu menjadi ayat pengadilan hukum. Bukan ayat universal untuk kreativitas peradaban manusia. Andaikan “litahkumu” dipahami sebagai “membijaksanai”, mungkin berlaku sangat lebih luas. Manusia membijaksanai awan hujan, membijaksanai tanah dan pohon, membijaksanai persaudaraan antar manusia, membijaksanai “rahmatan lil’alamin”, artinya manusia membijaksanai hubungannya dengan alam, binatang, cuaca, siang malam dan semuanya.

Pendek kata, Kaum Muslimin belum pernah memperhatikan pembangunan peradaban. Para Ulama hanya mengilmui fiqih dan hukum-hukum di antara manusia. Ulama seharusnya berarti penguasaan menyeluruh terhadap ilmu apapun yang dikandung oleh kehidupan manusia. Tetapi yang kita punya hanya ulama fiqih, yang lebih jelas kalau disebut fuqaha. Tidak dianggap lazim kalau daya sebut ulama pertanian, ulama kelautan, ulama silat, ulama perdagangan dan pasar, ulama hati dan perasaan, ulama botani dan zoologi. Dalam pemahaman saya majelis ulama adalah kumpulan para ahli di berbagai bidang yang diperlukan oleh ummat manusia atau bangsa.

Mungkin karena kita aslinya dalah penganut sekularisme. Maka kita menganggap yang urusan agama hanya dirangkum oleh fiqih. Sedangkan urusan pasar, sungai, laut, arsitektur, enterpreneurship, dianggap bukan urusan agama. Kalau pengajian selalu dikutip firman Allah:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱدۡخُلُواْ فِي ٱلسِّلۡمِ كَآفَّةٗ
وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ
إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِين

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”.

Tetapi dalam praktik sehari-hari, eksplorasi pengetahuan, pencarian ilmu, dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, favorit dan hobi kita semua adalah kesempitan dan penyempitan. Sehingga sangat mudah, lunak, dan licin dalam mematuhi aura, gelombang dan energi Setan.

Lainnya