Al-Qur’an sebagai Medium Refleksif dan Kritik bagi Diri Sendiri

Terdapat bentangan jarak antara Al-Qur’an, terjemahan, dan tafsiran. Selama ini kebanyakan orang mengasosiasikan gradasi ketiganya secara setara. Padahal, penerjemahan berpaut erat dengan jarak bahasa yang niscaya mengikusertakan dimensi kebudayaan di belakangnya. Tiap varian terjemahan, sekalipun dilakukan seliteral mungkin, tetap merupakan “expression in another language (or target language) of what has been expressed in another, source language, preserving semantic and stylistic equivalences” (Bell, 1993: 5). Sementara tafsir, pemahaman sederhananya, mengandaikan kemampuan yang bukan hanya linguistik, melainkan juga kecakapan pemberian makna. Baik terjemahan maupun tafsiran, betapapun, sukar dilepaskan dari disiplin akademis.

Apakah turunnya Al-Qur’an mengharuskan seseorang memiliki prasyarat akademis, sebagaimana kemampuan di atas? Saya kira tidak. Sejauh pembaca menangkap makna Al-Qur’an demi kemanfaatan, paling tidak untuk diri sendiri, maka sebetulnya ia telah memasuki wilayah tadabbur. Tak ada prasyarat apa pun kecuali berdampak pada kemaslahatan. Di sinilah letak signifikansi Mushaf Al-Qur’an dan Tadabbur Maiyah yang disusun oleh kedua Marja’ Maiyah, Cak Fuad dan Cak Nun. Ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang “ditadabburi” itu merupakan hasil himpunan dari proses panjang majelis ilmu Padangmbulan selama tiga dasawarsa belakangan. Pemilihan ayatnya pun dikerjakan menurut segi konteks dan kebutuhan selama Padangmbulan tergelar.

Cak Fuad merinci sejumlah pengertian tadabbur. Pertama, tadabbur berarti mencari suatu manfaat di balik makna ayat yang tampak (zahir). Kedua, tadabbur dapat pula dimengerti sebagai upaya melihat sekaligus menghubungkan ayat di dalam Al-Qur’an dengan pengalaman seseorang. Sebagai contoh, salah satu ayat di sana menyebutkan “setiap orang mukmin itu bersaudara” dan hasil tadabburnya bisa berupa: selama ini sejauh mana kita nyedulur kepada sesama mukmin? Itulah sebabnya, keluaran tadabbur adalah pemahaman akan refleksi diri — apakah kita sudah melakoni sebagaimana dititahkan ayat di Al-Qur’an? Dengan demikian, tadabbur mengajak kita agar semakin akrab terhadap Al-Qur’an melalui tiga tingkatan membaca: “reading on the line, reading between the lines, and reading beyond the lines.” Ketiganya ditempuh oleh, dari, dan melalui pengalaman sehari-hari.

Mushaf Al-Qur’an dan Tadabbur Maiyah Padhangmbulan

Senada dengan Cak Fuad, pengertian tadabbur ditandaskan Cak Nun. “Tadabbur lebih merupakan proses introspeksi terhadap diri sendiri sebagai manusia dengan diberi kemungkinan untuk memahami ayat Al-Qur’an sepanjang itu memperbaiki dirinya.”

Bagi teman-teman yang selama ini berjarak dengan ayat suci tersebut dan berkeinginan menggumulinya lebih lanjut, tidak ada alasan untuk tidak memesan Mushaf Al-Qur’an dan Tadabbur Maiyah. Pemesanan bisa melalui tautan ini. Preorder sudah dibuka dan pengiriman akan dilakukan pada awal Juli 2021.

Lainnya