Kebon (87)

Aku Jamur Memenuhi Sel-sel Darahmu

Nabi Darurat Rasul Ad-Hoc. TBY, 2 Maret 2012.
Foto: Adin (Dok. Progress)

Akulah jamur penghancur zaman. Akulah jamur tidak kasat mata penghancur manusia dan nilai kemanusiaan. Aku bikin sakit jiwa mereka. Aku bikin bobrok mental mereka. Aku bikin busuk hati mereka. Aku bikin otak mereka seperti reruntuhan. Aku bikin logika mereka silang sengkarut dan terbalik-balik. Aku bikin kepala mereka membesar membengkak seperti gundukan batu kali. Aku bikin hati mereka menyusut, mengecil, mengkerdil menjadi biji sawi.

Aku jamur penghancur peradaban zaman. Aku satu tapi sebenarnya dua. Loro-loroning atunggil. Aku dua tetapi satu tujuannya, ialah menghancurkan manusia lebih efektif, lebih akurat, lebih pragmatis, dan lebih cepat dibanding penghancuran-penghancuran yang pernah terjadi sejak zaman pra-sejarah, zaman Nabi Adam hingga Iroma dzatil’imad. Zaman kapak Ibrahim hingga Perang Dunia II. Zaman pra modern hingga milenial. Tidak pernah ada mesin, algoritma, sistem atau formula perekayasa kehidupan apapun yang melebihi kecanggihan yang sekarang sedang saya nikmati bagaimana mudahnya menghancurkan kehidupan manusia.

Akulah jamur penghancur peradaban. Satu dariku hidup di lepas samudera, aku lainnya bertugas di gurun. Satu dariku, tapi jumlahnya beratus juta, kethoel-kethoel di kolam-kolam dan sungai. Satu-ku lainnnya di hutan, di lembah-lembah gunung dan di hamparan tanah yang bergaris katulistiwa.

Akulah jamur. Akulah Jahil Murokkab. Dungu kwadrat. Bodoh tikel-tekuk. Aku berdua akting bermusuhan, tetapi goal tujuan kami sama: penghancuran manusia. Penghancuran intelektualitasnya. Spiritualitasnya. Mentalitasnya. Psikis dan psikologisnya. Jiwa raganya. Kubikin ummat manusia, terutama yang sudah kami rekrut, kami sewa dan kami gaji untuk menjadi ASD, Aparat Sipil Dajjal, menjadi makhluk paling cacat dari kondisi otentik mereka semula yang sebenarnya paling utuh, lengkap, dan sempurna.

Kemenangan mendasar pertama kami adalah semua manusia dari Eropa hingga Papua, dari Amerika hingga Aceh Raya, menyimpulkan bahwa Dajjal adalah semacam hantu yang diada-adakan. Dajjal tak beda dengan Gandruwo, Banaspati, Demit, Kemamang atau Memedi Mukarata. Dajjal disimpulkan oleh seluruh ilmu pengetahuan modern sebagai khasanah pengetahuan belaka. Dajjal hanya fatamorgana, halusinasi atau khayal.

Kalian pikir aku ini tak ada atau bukan siapa-siapa, padahal kalian adalah rakyatku yang patuh pada kekuasaan, ideologi, dan algoritmaku. Kalian menyangka aku halusinasi, padahal kalian adalah narapidanaku yang kukendalikan dan kuawasi dengan cambuk sihirku. Kalian kira aku ini fatamorgana, padahal kalian adalah budak yang kutindas habis menuruti kemauan dan formula aplikasiku.

Kalian sangka aku ini “someone”. “Seseorang”. Padahal aku gelombang. Aku arus. Aku signal pemuat data tidak kasat mata. Aku frekuensi. Aku sudah lama mengalir di darahmu dan jamurku memenuhi sel-sel-sel darah manusia sedunia.

Sebagaimana Tuhan sendiri tidak pernah sungguh-sungguh dianggap apa dan berperan. Tidak ada fakultas dan universitas yang meneliti dan mempelajari karakter Tuhan, pola-pola perilakunya, area kekuasaan dan spektrum otoritasnya, bahkan dialektika sebab-akibat antara amr dan iradat Tuhan dengan perilaku ummat manusia.

Namaku Jamur. Watak kepribadianku Ahmaq. Yesus Kristus sudah lama “angkat tangan” menyatakan secara eksplisit bahwa ia tidak punya kemampuan dan ilmu untuk melawan aku.

Kalian semua ummat manusia adalah musuhku. Tetapi aku tak keberatan membuka rahasia, peta persenjataan dan strategi peperanganku. Supaya kalian ingat, dan agar sedikit lebih maju dan berkembang kesiapan kalian melawanku, kutuliskan lagi pengakuan Nabi Isa AS:

“Sungguh aku telah mengobati orang-orang yang sakit, dan aku sembuhkan mereka dengan izin Allah; juga aku sembuhkan orang buta dan orang berpenyakit lepra dengan izin Allah; juga aku obati orang-orang mati dan aku hidupkan kembali mereka dengan izin Allah; kemudian aku obati orang dungu namun aku tidak mampu menyembuhkanmnya!”. Maka beliau pun ditanya, “Wahai ruh Allah, siapa orang dungu itu?” Beliau menjawab, “Yaitu orang yang kagum kepada pendapatnya sendiri dan dirinya sendiri, yang memandang semua keunggulan ada padanya dan tidak melihat beban atau cacat pada dirinya; yang memastikan semua kebenaran untuk dirinya sendiri. Itulah orang-orang dungu yang tidak ada jalan untuk mengobatinya.”

Akulah Jamur Ahmaq yang Nabi Isa Yesus Kristus menyerah itu. Aku adalah percil di sungai, danau atau lautan. Aku adalah kedal, tekèk atau biawak di daratan, pegunungan atau gurun-gurun.

Gelarku Al-Masih.

Aku mengelus, menyapu, dan menutupi seluruh bumi Nusantara dengan usapan sihir agungku. Aku pasang server-server raksasa di sekian titik di bawah sejumlah lautan.

Manusia paling jenius dan cemerlang sepanjang zaman namanya Muhammad bin Abdullah sudah memberi pesan matang kepada semua orang yang mengikuti jejak hidupnya. Agar mereka ucapkan di bagian dari shalat mereka:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِجَهَنَّمَ،
وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari azab Jahannam, azab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari keburukan fitnah Dajjal.

Tetapi para pengikutnya itu hanya kaum muqallidin, kumpulan manusia-manusia di muka bumi yang melakukan sesuatu tanpa renungan, yang mengucapkan sesuatu tanpa penghayatan. Mereka tidak pernah mengerti dan menyadari betapa mendasar, primer, dan amat pentingnya kiat dari insal kamil Muhammad saw itu. Para pengikutnya itu pandai membaca Al-Quran, bahkan sangat indah melantunkannya. Tetapi diperjodohi dengan penggunaan akal yang optimal. Akhirnya mereka hanya menjadi sebagaimana yang Allah memfirmakannya:

مَّا لَهُمْ بِهٖ مِنْ عِلْمٍ وَّلَا لِاٰبَاۤىِٕهِمْۗ
كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ اَفْوَاهِهِمْۗ
اِنْ يَّقُوْلُوْنَ اِلَّا كَذِبًا

Mereka sama sekali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka hanya mengatakan (sesuatu) kebohongan belaka.

Lainnya