“Agama” Kita Semua Sama

Photo by Marek Piwnicki on Unsplash

Nasihat paling ringkas tapi bijaksana untuk mencegah orang bertengkar soal agama adalah sikap mental “lakum diinukum wa liyadiin”, bagimu agamamu dan bagiku agamaku (QS Al Kafirun: 6). Kata Mbah Nun agama layaknya istri, terserah kalian masing-masing bebas mengagumi kecantikannya, memilihnya, dan kemudian memeluknya. Tapi tentu tidak perlu, tidak etis, dan tidak elok untuk membanding-bandingkan secara terbuka kecantikan istri kita dengan istri orang lain. Apalagi menuding istri orang lain kurang cantik. Biarlah itu disimpan dalam hati kita masing-masing. Yang penting adalah apakah kita bersungguh-sungguh dalam bersuami istri.

Tapi kelihatannya kita tidak memerlukan lagi nasihat itu untuk tidak bertengkar karena perbedaan agama. Bukan ayatnya yang salah atau telah menjadi usang, tetapi karena sekarang kelihatannya pada praktiknya kebanyakan orang telah memeluk “agama” yang sama. Bagimu dan bagiku ini agama kita bersama yaitu kapitalisme dan pasangannya: konsumerisme.

Agama adalah jalan hidup. Suatu sistem nilai dan norma yang didasarkan pada kepercayaan akan sesuatu yang di atas manusia (superhuman). Kapitalisme bisa dianggap sebagai agama, karena dia adalah sistem nilai yang dibangun di atas kepercayaan akan adanya aturan (law of order) bahwa pertumbuhan ekonomi adalah kunci dari semua kebaikan. Maka serakah adalah sifat yang baik, karena dengan itu orang akan selalu berusaha memproduksi lebih banyak, kue kemakmuran akan bertambah besar, dan demikian juga jatah bagian semua orang.

Untuk mewujudkannya maka sebagian keuntungan yang dihasilkan harus diinvestasikan lagi untuk menghasilkan keuntungan, yang bukan hanya asal untung tetapi harus bertambah-tambah terus besarnya. Dan supaya pertumbuhan itu terus terjadi, maka orang harus dirangsang untuk selalu meningkatkan konsumsinya. Demikian seterusnya layaknya api yang terus membesar dan menelan semuanya.

Dan tidak seperti agama lain yang hanya bernasib sebagai isian kartu identitas, agama kapitalisme ini sukses benar-benar dihayati dan diamalkan oleh para pemeluknya. Dan sepertinya surga yang dijanjikannya pun sudah terwujud. Kemewahan materi ada di mana-mana dan bisa dinikmati banyak orang Si kaya para pendeta kapitalisme menghuni surga tertinggi menikmati kemewahan yang tak terjangkau khayalan kita, dan terus berinvestasi untuk mendapatkan untung sebanyak-banyaknya dengan modal sesedikit mungkin.

Sementara itu, sebagian besar dari kita orang awam yang — sembari — berlomba-lomba menggapai surga tertinggi, masih bisa menikmati surga level bawah atau emperan surga dengan terus-menerus membeli untuk memuaskan nafsu kita. Perlu nggak perlu, yang penting asalkan bisa membuat sejenak bahagia, kita akan membelinya. Kalau perlu pakai gosok kartu kredit walaupun bunganya setinggi langit. Jarang ada yang punya kesadaran, “if I cannot pay for it with cash, I do not deserve to own it”.

Oleh karena itu, marilah kita tidak usah bertengkar soal keyakinan, karena toh sebenarnya yang kita kejar-kejar sama, yaitu kekayaan. Seharusnya memang tidak ada pertengkaran, tetapi mengapa justru konflik dan ketegangan di mana-mana. Sumber pertengkaran sudah bukan lagi siapa yang istrinya lebih cantik, tapi berapa banyak jatah yang bisa didapatkan dari selingkuhan yang sama itu. Semua orang berkelahi berebut untuk mendapatkan jatah kenikmatan lebih banyak dan lama tidur dengan selingkuhan itu.

Semoga ini bisa menjadi bahan perenungan kita semua. Kita masing-masing percaya istri kita yang paling cantik. Saya sendiri percaya, “Innaddiina ‘indallahil Islam. Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam…” (QS Ali Imran: 19). Dan pasti teman-teman yang beragama lain punya kepercayaan dan dalil yang serupa. Tapi apakah kita sungguh-sungguh mengenalnya, mencintainya, dan menggaulinya setiap saat. Atau jangan-jangan yang kita lakukan adalah terlena berasyik masyuk dengan selingkuhan seksi yang pandai memuaskan nafsu dan sekaligus terus menerus menghisap sampai habis kemanusiaan kita.

Lainnya