Kebon (190)

Adzab Allah Itu Mutlak Pasti

Foto dan Ilustrasi oleh Adin (Dok. Progress).

Tatkala kanak-kanak saya hidup di keluarga, komunitas langgar, kelompok sepakbola, rombongan penggembala kerbau sapi kambing, serta berbagai lingkaran pergaulan dan budaya yang sangat mengasyikkan. Kehidupan segar dan berbau wangi. Hari-hari penuh keceriaan dan malam penuh keasyikan.

Kemudian saya pindah ke Gontor dan tetap menjumpai aroma kehidupan yang sama. Sekian tahun kemudian tatkala berhijrah ke Yogya, semua keceriaan hidup itu ditambah dinamika atmosfer kreativitas. Berikutnya harapan-harapan masa depan yang menyangkut kondisi kemasyarakatan dan kenegaraan.

Tetapi sesudah sekitar 10 tahun di Yogya, jumlah manusia semakin sedikit. Selama 30 tahun saya hidup dikelilingi oleh anak turun Iblis yang hidupnya penuh kedengkian, hatinya tidak jujur, pikirannya salah arah. Saya menghadapi dan melayaninya dengan ketahanan alamiah saja. Tetapi kemudian, terutama sejak 20 tahun terakhir, keadaan berkembang semakin parah. Keasyikan hidup, kegembiraan, budaya, kenakalan kreatif dan cerahnya masa depan diganti oleh sebaran hawa busuk, kejahatan dan kelaliman, ketegaan dan kehinaan, kebodohan dan kesombongan, serta keraguan dan kegelapan masa depan.

Sangat lama saya baru menemukan kesadaran bahwa kebanyakan penduduk di negeri saya ini, terutama di daerah-daerah urban dan pusat kenegaraan, ternyata bukan manusia. Memang tanda-tanda teknisnya mereka adalah manusia. Tetapi andaikan semua sempat ditest DNA, akan ditemukan bahwa sangat banyak di antara mereka yang bukan keturunan Nabi Adam. Bukan manusia murni.

Minimal campur dengan gen Banujan. Tetapi yang dominan adalah gen Iblis. Tetapi karena bergabung dengan algoritma genetik manusia, keIblisan mereka menjadi lebih efektif, membengkak, mengkuadrat, dan melimpah-limpah. Sedemikian rupa sehingga Iblis kalah jahat, kalah dhalim, kalah curang, kalah dengki, dan kalah munafik.

Saya mencoba melacak sendiri dengan upacara-upacara personal yang khusus, dan saya temukan bahwa sebenarnya para penjahat abad ke-21 yang tiap hari memfitnah saya itu, terutama lewat media-media online global, ternyata adalah makhluk-makhluk yang sejatinya dilahirkan pada zaman sebelum Nabi Musa ada di muka Bumi.

Saya menjadi sedikit mafhum. Sebab sebelum Nabi Musa dikintirkan di sungai dan ditemukan oleh Bu Masyithah Fir’aun, dari langit belum turun sejumlah perintah dan aturan, sehingga semua penduduk Bumi pada waktu itu benar-benar tidak mengerti moral, tidak berakhlaq, perusak bebrayan, peleceh paugeran dan penginjak-injak subasita.

Sebab mereka belum pernah mendengar perintah Tuhan: Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. Jangan membunuh. Jangan berzinah. Jangan mencuri. Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.

Evolusi dan mutasinya di abad ke-21 sekarang ini, mereka bukan menyembah berhala. Mereka bukan orang tolol membungkuk-mbungkuk di depan patung. Semua jenis berhala itu hanya alat yang mereka eksploitasi. Meereke jadikan alat ambisi dan kerakusan mereka. Sedangkan Tuhannya adalah mereka sendiri. Mereka tidak sekadar membunuh, melainkan lebih dari itu, mereka memfitnah, membohongi publik, merekayasa apa saja yang menguntungkan ambisi mereka. Mereka mencuri tanpa benar-benar sadar bahwa mencuri.

Mereka mengadu domba antar manusia dan antar kelompok-kelompok manusia dengan hati yang tenang. Mereka melakukan zina politik, zina politik, zina informasi dan komunikasi. Mereka mencuri apa saja yang memenuhi keserakahan mereka. Mereka berdusta tanpa henti dan menyebarkan duata-dusta juga tanpa henti. Memang ada wacana tentang “Shuhufi Ibrahima wa Musa”. Pernah ada sobekan tulisan berisi wahyu Allah melalui Nabi Ibrahim dan Musa.

Tetapi apa efektivitas shuhuf, lontar, prasasti atau quote online bagi manusia abad ke-21 terutama para maling yang saya kisahkan ini. Lha wong sekarang ada miliaran buku-buku tentang kebaikan di jutaan perpustakaan, ada jutaan Mushaf Qur`an di mana. Bahkan tinggal memetik atau mengunduh di kebun saharanya Mbah Google.

Buktinya semua itu malah menambah, memuaikan, membengkakkan, menderet-ukur dan menderet-hitungkan jumlah pencurian hak, korupsi otoritas, penjambretan kewenangan, pencopetan copyright, kebrutalan informasi, kekemprohan unggahan-unggahan, dan beribu macam kekejaman lain yang membuat para Setan sendiri, Iblis, Dajjal, Ya’juj Ma’juj terkagum-kagum kepada manusia. Iblis saja hanya kafir, tapi tidak munafik. Dajjal saja tidak seberagam itu rakayasa pemutarbalikan nilainya dibanding manusia. Ya’juj Ma ‘juj saja tidak seserakah itu memborong semua aset, akses, pasar, dan apa saja tanpa batas.

Saya tidak pernah menyangka bahwa hari demi hari di usia senja saya sekarang ini dipenuhi oleh fitnah terus menerus tanpa henti dari menit ke menit seperti itu. Tak hanya dari hari ke hari.

Saya berkebun dan menggelar sawah-sawah dengan bermacam-macam tanaman. Entah siapa saja begitu banyak orang, sebagian dengan tanda-tanda seperti saya mengenal atau indikasinya mereka adalah orang-orang yang berseliweran di sekitar saya. Datang memasuki kebun dan sawah saya, memetiki buah-buah dan sayuran. Mereka bawa pulang, mereka racik dengan bahan-bahan dari sawah dan kebun lain, mereka masak, mereka goreng, kemudian dijual ke pasar.

Sebagian dari para maling itu mencuri ke kebun dan sawah saya kemudian memasak dan menjualnya ke pasar sekadar mencari makan untuk keluarganya. Kemudian kadarnya meningkat mereka memang mendapat nafkah yang semakin banyak. Atau lainnya memakai barang curian itu untuk persaingan di pasar, atau untuk persaingan dengan penjual-penjual yang lain,

Pasar dengan kios-kios dan toko-toko tempat berjualan fitnah, hasil permalingan dan kelaliman kemanusiaan itu, juga tidak punya daya apa-apa, karena para pemiliknya juga bertujuan sama dengan para pemasok dagangan yang dijualnya.

Mereka adalah makhluk-makhluk yang tidak kenal diri mereka sendiri. Mereka canggih dan sangat rajin melakukan pencurian, menipulasi, eksploitasi, rekayasa dan adu domba. Dan mereka tidak mengkhawatirkan apa-apa dalam melakukan semua itu.

Pasti mereka juga mengenal atau minimal pernah mendengar ada yang Namanya Tuhan, sebab para maling di sawah dan kebun saya itu rata-rata adalah warga dari Negara yang punya “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Tetapi entah apa yang mereka maksud dengan Tuhan di itu. Mereka sendiri kelihatannya tidak begitu mengenal yang mereka sebut Tuhan itu.

Maka mereka juga tidak mengerti bahwa Tuhanlah yang menciptakan mereka dan seluruh alam semesta ini. Dan karena Tuhan penciptanya, maka Ia juga yang punya hak untuk menentukan segala aturan atas ciptaan-Nya.

Para Maling yang lahir di kurun pra-Musa tapi hidup di abad ke-21 itu pasti juga tidak pernah mendengar, dan andaikan pun mendengar, mereka pasti juga tidak paham apa maksudnya Tuhan berfirman: “Sesungguhnya adzab Tuhanmu pasti terjadi”. “Sesungguhnya adzab Tuhanmu benar-benar keras”. “Maka Allah mengadzabnya dengan adzab di akhirat dan adzab di dunia. Sesungguhnya kamu pasti akan merasakan adzab yang pedih. Dan adzab yang lain yang serupa itu berbagai macam. Maka alangkah dahsyatnya adzab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku”.

Tetapi para pencuri, para maling dan para Raja Tega itu tidak punya organ di otaknya untuk menjadi takut kepada ancaman Tuhan itu. Maka mereka tidak khawatir apa-apa atas keadaan yang akan menimpanya besok pagi, atau beberapa hari lagi, atau beberapa minggu lagi atau beberapa bulan lagi. Mereka juga tidak punya alat di otaknya untuk menemukan keterkaitan adzab itu dengan keadaan keluarganya, anak istri dan semua familinya. Mereka selalu sangat mantap terus-menerus melakukan pencurian dan eksploitasi itu karena justru mereka merasa punya kekuasaan atas kehidupan ini sehingga meyakini dan mengucapkan:

وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ

Dan kami sekali-kali tidak akan di“adzab”. Tuhan sendiri yang secara langsung, tegas dan eksplisit mengumumkan bahwa adzab-Nya itu pasti. Tetapi mereka tidak keder, tidak takut apa-apa, karena mereka merasa sejajar dengan Tuhan. Tuhan hanyalah salah satu kompetitor mereka.

Lainnya