Adakah Alasan untuk Tidak Bahagia?

Majelis Ilmu Padhangmbulan, 19 November 2021
Dok. Padhangmbulan

Mendung menggelayut di desa Mentoro. Sesekali gerimis menyapa. Persiapan menjelang Pengajian Padhangmbulan yang terpusat di halaman sebelah timur masjid tidak terhalang cuaca mendung dan gerimis. Para pedagang terlihat lebih ramai dari bulan sebelumnya. Pasar rakyat, pelan namun pasti, mulai kembali meramaikan jalan menuju halaman Pengajian Padhangmbulan.

Di masjid jamaah shalat Isya baru saja selesai. Pengajian Padhangmbulan akan dimulai satu jam lagi. Namun, shaf paling depan hingga baris kelima sudah penuh. Teman-teman jamaah mengalir berdatangan lalu mengambil tempat duduk pada posisi paling enak.

Pukul 19.30 WIB Mbah Nun rawuh. Keluarga ndalem Mentoro yang sejak usai Maghrib berkumpul di teras bergantian menyambut beliau. Pengajian Padhangmbulan adalah acara berkumpulnya keluarga besar Bani Abdul Lathif di Mentoro. Guyub dan gayeng.

Tidak berselang lama rombongan Kapolres Jombang menyusul hadir di Mentoro. Adalah AKBP Moh. Nurhidayat yang baru dilantik sebagai Kapolres Jombang bersilaturahmi kepada Mbah Nun dan keluarga. Perbincangan berlangsung santai. Bapak Kapolres Jombang mengatakan dirinya kerap menyimak pengajian Mbah Nun.

“Padhangmbulan yang sudah berjalan selama 28 tahun aslinya berawal dari acara berkumpulnya anggota keluarga di Mentoro,” terang Mbah Nun. “Bagaimana acara keluarga ini bisa memberikan manfaat kepada orang, maka lahirlah Pengajian Padhangmbulan.”

Berkali-kali jamaah diajak mendeteksi adakah laba materi atau motif keduniaan selama mengikuti pengajian? Jujur, mereka menjawab, tidak ada. Yang tidak pernah pupus adalah kebahagiaan mengikuti Pengajian Padhangmbulan, demikian Mbah Nun memaparkan.

Pada konteks itu sesungguhnya Mbah Nun sedang menegaskan bahwa jamaah Maiyah adalah manusia yang mengamankan sekaligus menyelamatkan lingkungan mereka. Tidak mencuri, tidak menjarah, tidak merampok, tidak membunuh, karena selama mengikuti Maiyahan kemanusiaan mereka diajeni, optimismenya dibangkitkan, hatinya dibahagiakan. Manusia yang hidupnya bahagia tidak akan berbuat yang tidak-tidak.

Bapak Moh Nurhidayat juga berkesempatan menyapa jamaah. “Masyarakat Jombang ini unik,” ujarnya. “Indonesia harus belajar dari Jombang.”

Dok. Padhangmbulan

Itu bukan retorika untuk mengambil hati jamaah. Memang demikian fakta masyarakat Jombang. Sebut saja Mbah Hasyim, Nurcholis Madjid, Gombloh, Eyang Subur, Abu Bakar Ba’asyir, Asmuni. Yang tidak kalah fenomenal: Ponari dan Riyan. Masih ingat satire dari tukang becak di Jombang yang pernah disampaikan Mbah Nun? Seorang caleg buang air besar sambil bawa pecut.

Mbah Nun dan jamaah Padhangmbulan mengantarkan Bapak Moh Nurhidayat memulai tugas di Jombang dengan shalawat Alfa Salam. Seribu keselamatan, seribu berkah dan manfaat, seribu kebaikan dan keindahan semoga menaungi Kapolres dan warga Jombang.

Darul Arqam: Rumah Pengaderan Akidah

Secara khusus Mbah Fuad telah menyiapkan bahan tentang kegiatan pendidikan pada zaman Rasulullah Muhammad Saw. Istilah itu dikenal dengan Darul Arqam. Susunan dua kata itu terdiri dari Dar (rumah) dan Arqam (nama seorang sahabat). Nama lengkapnya adalah Arqam bin Abil al-Aqram al-Mahzumi. Jadi, Darul Arqam adalah rumah salah seorang sahabat yang menjadi pusat pengaderan ketika dakwah Nabi Muhammad Saw dijalankan secara tersembunyi.

Yang pasti Arqam bukan dari kelompok Bani Hasyim. Atas pertimbangan itu Nabi memilih rumah Arqam sebagai tempat pengaderan sehingga kelompok Abu Lahab tidak mencurigai kegiatan Nabi. Yang dididik Nabi adalah mereka yang masuk Islam pertama kali. Di antaranya, Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib dan Arqam sebagai pemilik rumah.

Umar bin Khatab adalah kader berikutnya setelah kegiatan di Darul Arqam berjalan hampir tiga tahun sejak masa kenabian. Itu pun diawali oleh keinginan Umar yang hendak membubarkan kegiatan di rumah Arqam yang terletak di lereng bukit Shofa. Di tengah perjalanan menuju Darul Arqam, Umar bertemu Nu’aim bin Abdullah yang mengabarkan bahwa Fatimah, adik Umar bin Khatab, telah memeluk agama Islam.

Diurungkannya perjalanan menuju Darul Arqam. Umar pun berbalik arah. Ia bergegas pergi ke rumah Fatimah. Umar mendapati adiknya sedang ketakutan sambil menyembunyikan sesuatu di balik punggungnya. Ternyata yang disembunyikan adalah shuhuf atau lembaran Al-Qur’an. Fatimah membaca ayat yang tertulis di lembaran itu: surat Thaha ayat 1-6.

Seluruh kekuatan Umar bin Khatab rontok usai mendengar ayat itu. Adegan selanjutnya adalah Umar menemui Nabi Muhammad Saw di Darul Arqam untuk bersyahadat. Umar menjadi salah satu pilar yang menyokong dakwah Nabi.

Dok. Padhangmbulan

Fakta sejarah ini penting untuk dipelajari. Menurut Mbah Fuad, saat itu Nabi Muhammad dan para sahabat adalah sekumpulan “rakyat jelata” dalam arti sebenarnya. Mereka tidak menguasai akses ekonomi dan politik. Miskin dan terlunta-lunta akibat embargo ekonomi yang dijalankan para penguasa Quraisy.

Kendati Nabi Muhammad Saw mendapat gelar Al-Amin, hal itu tidak lantas membuat dakwah Nabi mulus tanpa hambatan. Ketika berurusan dengan akidah dan keimanan kepada Allah Swt masyarakat kafir Quraisy menutup mata terhadap kualitas pribadi Al-Amin yang disandang Muhammad sejak sebelum diangkat jadi Nabi.

Kebangkitan gerakan Nabi yang berpusat di Darul Arqam dinilai Abu Lahab dan kroninya bisa mengancam keuntungan jaringan ekonomi dan kemapanan politik kekuasaan mereka. Tidak heran, untuk menghentikan gerakan dakwah Nabi, jaringan konglomerasi pemuka Quraisy menawarkan kekayaan dan kekuasaan kepada Nabi.

Adalah Utbah bin Rabi’ah yang menawarkan berapa pun harta kekayaan dan apa pun kekuasaan yang diinginkan Nabi, mereka siap memenuhinya. Syaratnya satu: Nabi menghentikan dakwahnya. Dan inilah jawaban Nabi Muhammad Saw: “Wahai pamanku, demi Allah, andaikan mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan agama ini, hingga Allah memenangkannya atau aku ikut binasa karenanya, maka aku tidak akan meninggalkannya.”

Itu dialog adalah peristiwa akidah, peristiwa iman, peristiwa tauhid. Fondasi dasar pendidikan di Darul Arqam yang diajarkan Nabi kepada para sahabat assabiquunal awaaluun.

Beragama dengan Bahagia

Mbah Fuad pun menegaskan akidah harus ditanamkan sebelum mengajarkan syariat. Tanpa kesadaran akidah sebagai bentuk tanggung jawab kepada Allah hati akan terpaksa dan tertekan saat menjalani kewajiban syariat agama. Shalat menjadi kewajiban yang terasa berat dikerjakan. Puasa pun menjadi rutinitas yang penuh keterpaksaan selama bulan Ramadlan.

Dok. Padhangmbulan

Sebaliknya, ketika akidah berbuah kesadaran tauhid kepada Allah, hati terasa lapang. Laa khoufun ‘alaihim wa laa hum yahzanuun. Tidak ada alasan untuk tidak bahagia. Menderita kayak apa pun, rahmat dan kasih sayang Allah masih lebih luas dibandingkan secuil penderitaan kita. Mbah Nun bahkan meneguhkan kita ini “ada” maka kita bahagia.

Bagaimana maksudnya? Aku yang awal dan aslinya tidak ada, lalu di-ada-kan oleh Allah sehingga aku ada, adanya aku berbarengan dengan adanya bahagia yang ditanam secara laten dalam adanya diriku.

Bagaimana tidak bahagia? Kita tidak dibebani tugas mengolah lalu mendistribusikan zat-zat yang dikandung makanan ke seluruh sel-sel tubuh. Makan tinggal makan, minum tinggal minum, kencing tinggal kencing, ngantuk ya tidur, bangun tinggal bangun. Apa alasan kita tidak bahagia? Ketika dihimpit penderitaan segera lakukan zooming untuk mendapatkan sudut pandang yang lebih luas. Jika kalian menghitung nikmat Allah maka kalian tidak akan sanggup menghitungnya.

Sesungguhnya kita tengah dikepung oleh semesta bahagia yang maha luas, seluas Rahman Rahim Allah yang tidak berbatas tepi.

Lainnya