Kebon (94 dari 241)

16 Bom dan Menteri Pertanian

Foto: JB Suratno/Kompas

Inisialnya PM. Dalam suatu pertemuan tak sengaja di restoran sebuah hotal di Jl Gondangdia Lama Jakarta Pusat, ia menyapa. Kami duduk minum bersama. Ia menyatakan terima kasih kepada saya.

“Terima kasih untuk apa?”

“Untuk membatalkan saya menekan remote bom”

“Bom apa?”

“16 bom sudah saya pasang di 16 titik seputar Istana Negara. Saya standby dengan remote. Jendral SSy yang akan kasih kode apakah saya ledakkan atau tidak”

“Hubungannya dengan saya apa?”

“Karena Cak Nun membuat Pak Harto dan sembilan orang yang bertemu beliau di Istana tertawa-tawa santai”.

O itu maksudnya.

“Ada tiga hal yang membuat bom diledakkan”, ia meneruskan, “pertama, kalau Pak Harto kasih kode. Kedua, kalau Pak Harto terdiam tidak bicara sampai cukup lama. Ketiga, kalau pertemuan beliau dengan 9 orang itu tidak mencapai titik temu”.

Saya tidak pernah menjadi prajurit atau tentara. Jadi saya tidak punya kepekaan dan ingatan untuk bertanya bom jenis apa dan level seberapa yang ia pasang itu. Saya hanya bertanya: “Kenapa harus dibom?”

“Karena tidak boleh ada vacum kekuasaan. Kalau posisi Pak Harto tidak jelas, tentara terpaksa mengambil alih kekuasaan dan memastikan negara berada dalam kendali. Ketika John F Kennedy ditembak di Dallas, wakil baliau, Lyndon B Johnson yang sedang berada di pesawat langsung dilantik menjadi Presiden Amerika 4 menit sesudah meninggalnya Kennedy. Begitulah logika otoritas negara di seluruh dunia. Tidak boleh kosong kekuasaan lebih dari beberapa menit”.

“Bagaimana Anda tahu apa yang berlangsung di Istana?”, saya bertanya.

“Dari dalam tank dengan layar televisi khusus kami memonitor setiap detik apa yang terjadi dengan Pak Harto. Ternyata Pak Harto senyum-senyum terus dan bahkan tertawa”.

Saya kemudian menjelaskan bahwa pertemuan Pak Harto dengan 9 orang-orang tua bangsa Indonesia termasuk Gus Dur itu tahapnya sudah ibarat resepsi pengantin. Akad nikahnya sudah berlangsung sehari sebelumnya. Surat kepada Pak Harto yang ditandatangani oleh Cak Nurcholish Madjid, Mas Oetomo Dananjaya, Pak Sugeng Drajat, dan saya, disampaikan kepada Pak Harto pukul 15.30 tanggal 18 Mei 1998, melalui Mensekneg Saadillah Mursyid di Istana Negara. Sehabis Maghrib Pak Harto membacanya. Sehabis Isya Pak Harto telepon Cak Nur kemudian telepon saya, diterima oleh Bu Novia Kolopaking di Perumahan Kelapa Gading. Pak Harto menyatakan terima kasih atas saran kami berempat dalam surat itu, serta memastikan beliau legowo untuk turun dari jabatan Presiden, asalkan prosesnya ditemani oleh kami berempat.

Jadi ketika kami bersembilan bertemu dengan beliau tgl 19 Mei 1998 pukul 09.00 pagi itu, Pak Harto sudah rileks. Pak Harto beberapa kali “melatih” ucapan “Tidak jadi Presiden tidak pathèken”. Gus Dur menambahkan di akhir pertemuan: “Selama bertahun-tahun saya ini berpikir bahwa Pak Harto itu monster. Hari ini saya baru tahu bahwa ternyata Pak Harto adalah manusia”.

قُلۡ أَمَرَ رَبِّي بِٱلۡقِسۡطِۖ وَأَقِيمُواْ وُجُوهَكُمۡ عِندَ كُلِّ مَسۡجِدٖ وَٱدۡعُوهُ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَۚ
كَمَا بَدَأَكُمۡ تَعُودُونَ

Katakanlah: “Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan”. Dan (katakanlah): Luruskanlah muka (diri)mu di setiap sembahyang dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu akan kembali kepada-Nya)”.

Seberapapun kadar keikhlasan Pak Harto, tetapi ia benar-benar lila-legowo melepas tongkat kekuasaannya dan turun dari kursinya. Kebanyakan orang, kelompok-kelompok atau juga sejumlah ahli sejarah, tidak lapang dadanya untuk mengakui bahwa Pak Harto turun karena kemauannya, bukan karena diturunkan. Bahkan sesudah beliau tidak menjadi presiden, selama 10 tahun sampai kemudian ia meninggal, Pak Harto tidak melarikan diri ke luar negeri sebagaimana lazimnya terjadi pada kebanyakan pemimpin yang diturunkan di negara-negara manapun saja. Bahkan selama 10 tahun itu tidak ada satu kali pun demonstrasi ke rumah beliau di Cendana.

Melalui saya Pak Harto menuliskan 4 Sumpah:

  1. Saya, Soeharto, mantan Presiden Republik Indonesia, bersumpah tidak akan pernah menjadi Presiden lagi sampai akhir hayat saya.
  2. Saya, Soeharto, mantan Presiden Republik Indonesia, bersumpah tidak akan pernah turut campur dalam proses pemilihan Presiden.
  3. Saya, Soeharto, mantan Presiden Republik Indonesia, bersumpah bahwa saya siap dibawa ke Pengadilan Negara untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatan saya selama menjadi Presiden.
  4. Saya, Soeharto, mantan Presiden Republik Indonesia, bersumpah bahwa saya siap dan ikhlas mengembalikan seluruh harta benda yang ada pada saya sesuai dengan klaim Pengadilan Negara.

Tetapi sampai meninggalnya, tidak pernah ada inisiatif hukum untuk mengadili Pak Harto. Apa sebabnya? Karena sebenarnya Pak Harto masih berkuasa meskipun di belakang layar? Sehingga tidak ada satu pihak pun yang berani berusaha membawanya ke pengadilan? Karena tidak mungkin ada satu biji aktivis politik Indonesia yang mengemukakan alasan bahwa memang tidak bisa menemukan kesalahan Pak Harto. Kita semua berhenti pada membenci Pak Harto, ngrasani atau melempar batu dari kejauhan.

إِنَّ ٱلَّذِينَ يُنَادُونَكَ مِن وَرَآءِ ٱلۡحُجُرَٰتِ أَكۡثَرُهُمۡ لَا يَعۡقِلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar(mu) kebanyakan mereka tidak mengerti”. Memanggil, memaki, mengutuk, ngrasani, dari balik tembok kamar.

Si PM yang saya kisahkan di atas, di akhir omong-omong kami bertanya: “Kok Cak Nun tidak jadi menteri?”

“Lho, kok jadi menteri? Menteri apa?” saya balik tanya.

“Ya mungkin menteri pertanian kek atau menteri apa gitu…”

“Kenapa saya jadi menteri?”

“Kan Cak Nun salah satu yang memperjuangkan peralihan kekuasaan dari Pak Harto. Biasanya gitu itu kan lantas menjadi pejabat”.

Saya mau jawab tegas, tapi tidak tega. PM itu orang Ambon. Sangat jauh dari Menturo desa kelahiran saya. Dia tidak tahu bahwa saya seorang kerdil, tidak terpelajar, dan tidak punya nyali. Dia menanyakan sesuatu yang saya sama sekali tidak punya kapasitas dan kepantasan untuk itu.

Lainnya