Yai Tohar Menembus Batas Jogja-Lawen

Teknologi itu ibarat pisau bermata dua. Ia menjadi baik dan bermanfaat atau justru menjadi buruk dan membahayakan, tergantung pada siapa yang menggunakannya. Teknologi hari ini pun sangat memanjakan kita, asalkan gadget di tangan kita terkoneksi dengan jaringan internet, kita bisa menjelajah informasi secara real time. Melalui media sosial, melalui website, melalui kanal-kanal berita online dan lain sebagainya, pada waktu yang sangat cepat, kita dengan mudah melakukan update informasi terkini.

Yai Tohar a.k.a Pak Toto Rahardjo, salah satu sesepuh kita di Maiyah, meskipun usianya sudah sepuh, bukan berarti beliau tidak melek teknologi. Minggu lalu bahkan Yai Tohar menikmati layanan aplikasi Conference Call dengan beberapa orang, termasuk kami yang ada di Jakarta. Selama kurang lebih 3 jam, kami berdiskusi, membahas beberapa langkah taktis yang perlu diambil untuk menyikapi situasi dan kondisi saat ini.

Jika teman-teman mengikuti akun Instagram Yai Tohar (@toto_rahardjo), dalam beberapa postingan terakhir, beliau selalu update informasi terkini bagaimana Desa Lawen, kampung halaman beliau menggeliat dalam aktivitas pencegahan Virus COVID-19 yang diinisiasi oleh para pemuda-pemuda di Desa Lawen tersebut.

Sedikit saya gambarkan letak geografis Desa Lawen yang merupakan salah satu Desa yang jaraknya cukup jauh lokasinya dari Kabupaten Banjarnegara ini. Tak mudah mencapai Desa Lawen, kita akan menempuh jarak dari Kota Banjarnegara sekitar 35 KM, menurut Google Maps. Apalagi jika diukur perjalanan dari Yogyakarta. Tapi, bagi Yai Tohar itu bukan sebuah kendala. Dengan memanfaatkan teknologi, melalui Whatsapp Group “Ngadepi COVID-19”, Yai Tohar mengkoordinasi pemuda-pemuda di Desa Lawen bergerak untuk melakukan banyak hal dalam kaitannya menangkal persebaran Virus COVID-19 di Desa Lawen.

Sebagai salah satu tokoh pergerakan di Indonesia, Yai Tohar tentu sangat gusar melihat bagaimana lambatnya penanganan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang seharusnya wajib melakukan upaya-upaya agar Virus COVID-19 ini tidak menjalar ke daerah-daerah. Daripada hanya gusar dan rasan-rasan, alangkah lebih baik melakukan sesuatu. Sekecil apapun yang dilakukan, harus optimis bahwa akan ada manfaatnya. Seperti kisah semut yang membawa setetes air untuk memadamkan api yang sedang membakar Nabi Ibrahim.

Desa Lawen yang letaknya jauh dari Jakarta, sama sekali tidak tersentuh dan tidak terkoordinasi harus melakukan apa dan bagaimana. Sementara pemberitaan di televisi begitu meresahkan masyarakat. Kita berada di era ketika masyarkaat kita mayoritas masih menyerap informasi melalui televisi, yang sudah pasti daya filternya juga tidak terlalu kuat, apalagi di Desa Lawen, stasiun TV yang bisa ditonton pun sangat terbatas, belum lagi kendala sinyal internet yang tidak stabil seperti di kota. Sementara, sebentar lagi kita juga akan menghadapi momen bulan puasa, tentu isu COVID-19 ini tidak bisa dianggap remeh, dan Yai Tohar sangat concern dalam hal ini, karena sangat erat kaitannya dengan kemanusiaaan dan alam.

Melalui Whatsapp Group, Yai Tohar mengkoordinir pemuda-pemuda Desa Lawen untuk membuat: Tempat cuci tangan dan menyediakan sabun di tempat-tempat strategis, menyelenggarakan sosialisasi dan himbauan kepada warga untuk membatasi pertemuan-pertemuan dengan banyak orang, termasuk sholat berjamaah karena pola penyebaran Virus COVID-19 ini melalui droplet yang tidak kasat mata, kemudian juga menghimbau untuk tidak bepergian meninggalkan Desa, juga menghimbau agar setiap masyarkaat mengupayakan asupan gizi dan makanan yang cukup agar imunitas tubuh tetap kuat. Para pemuda ini juga membantu PUSKESMAS untuk mendata orang-orang yang baru datang dari bepergian, dan yang tidak kalah penting juga mempersiapkan seluruh elemen di Desa untuk menyambut lonjakan pendatang di Bulan Puasa nanti saat mudik.

Dengan peralatan yang sederhana itu, para pemuda-pemuda ini membuat tempat cuci tangan untuk digunakan oleh seluruh warga Desa Lawen yang melintas. Di beberapa titik, drum-drum berwarna biru dan ember-ember berwarna putih yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa sudah bisa dimanfaatkan untuk cuci tangan oleh warga. Kemudian, proses penyemprotan cairan disinfektan di beberapa objek vital di desa seperti Masjid dan juga halaman rumah warga juga dilakukan. Penyemprotan ini dilakukan setiap hari, secara bergiliran, menyisir satu tempat ke tempat lain di wilayah Desa Lawen.

Tak cukup sampai disitu Yai Tohar memandu, benteng di tataran teknis sudah disiapkan sedemikian rupa untuk mengantisipasi, lalu tidak kalah pentingnya pondasi lain yaitu perlunya radar tawakal untuk diaktifkan. Selasa minggu lalu (24/3) Yai Tohar menghubungi Mas Gandhie untuk memintakan doa dan wirid kepada Mbah Nun, untuk menjadi bekal mereka. Tak sampai lama Mbah Nun untuk memberikan panduan tersebut, yang kelak, panduan tersebut digunakan dan diedarkan kepada Jamaah Maiyah semua melalui Koordinator Simpul Maiyah, tidak hanya untuk teman-teman Desa Lawen, tetapi menjadi bekal untuk kita semua.

Lengkap sudah bekal mereka saat ini. Setelah semua ikhtiar teknis dilakukan, pada malam harinya beberapa warga berkumpul di Masjid, setelah Sholat Isya’, mereka berjamaah melantunkan wirid tersebut, dan memandu seluruh warga Desa melalui pengeras suara untuk mengajak mereka yang berada di rumah juga rengeng-rengeng wiridan. Sungguh peristiwa yang indah bukan. 2 perisai perlindungan diri dari Virus COVID-19 ini dipersiapkan oleh Yai Tohar, aktivitas teknis di lapangan dan juga “ritual” spiritual berupa wirid di Masjid. Konkret.

Setelah sebelumnya Mbah Nun memberi bekal kita semua Ijazah Tetes Kelembutan Muhammad. Semalam, di Desa Lawen sendiri beberapa warga sudah melaksanakannya pada hitungan hari ke-6.

Sebagai catatan tambahan, tuntunan wirid Ba’da Isya’ tersebut juga bisa dilakukan secara mandiri oleh semua Jamaah Maiyah di rumah masing-masing bersama keluarga, tidak harus berkumpul bersama di Masjid dengan jumlah banyak. Dan dilakukan sendiri-sendiri pun tidak menjadi soal, sebagai bentuk ikhtiar kita semua dalam rangka setor kebaikan kepada Allah Swt.

Melihat apa yang dilakukan oleh Yai Tohar ini betapa beliau telah menembus batas, bukan hanya menembus batas jarak antara Yogyakarta dan Lawen, tetapi juga menembus batas usia senjanya sendiri. Lazimnya, orang seusia Yai Tohar ini lebih enak jika duduk saja di rumah, nonton televisi atau tunyak-tunyuk HP, nonton yutub, tapi hal ini tidak berlaku bagi Yai Tohar. Tidak tahan rasanya jika tidak berbuat sesuatu untuk Desa Lawen.

Buku dan Merchandise