Warsa Sekawan

4.

Muta’allimul Maiyah selalu berkaca
Memeriksa kembali penghidupannya
Selama masih maya di bumi yang fana
Apakah tali perjuangan dan cita-citanya
Masih teguh mengikatkan dirinya
Pada patok Allah sebagai kesadaran sangkan-nya
Maupun Allah sebagai titik paran perjalanannya

(Emha Ainun Nadjib, Allah Pusat Simpul Maiyah, 17 Maret 2018)

Dengan sedikit menengok ke belakang, ke “insiden” yang menjadikan terlahirnya Majelis Maiyah Balitar (MMB) akan kita dapati satu konklusi sederhana bahwa tak semua yang nyata terjadi pernah kita bayangkan. Demikian pula sebaliknya, apa-apa yang kita pikirkan, harap dan mimpikan tidak selamanya menghasilkan output serupa.

Begitulah hidup. Dengan kepatuhannya, ia ikuti sifat jaiz Allah. Sepintas, jaiz bisa diartikan sakkarep-karepe, absurd, lek Aku arep ngene kowe meh ngapa? Meski sejatinya impresi itu muncul dari serba ketidakmegertian kita terhadap rencana dan rancanganNya. Mungkin dari kesadaran ini pula, Sujiwo Tejo mencoba tetap bersuka cita menerima segala ketetapan Tuhan dengan menyebutnya sebagai “Maha Asyik”.

Tapi baiklah, kita simpan saja cerita terkait proses persalinan MMB sebagai khasanah kesejarahan. Kenyataannya, hari ini, 16 Februari 2020 kita syukuri bersama empat tahun perjalanan Simpul kecintaan ‘dengan mana’ dan ‘kepada apa’ kita terus upayakan ‘bergetarnya aliran’ serta ‘mengalirnya getaran’ ilmu dan kegembiraan bernama Maiyah. Satu kata yang hanya dari Allah semata ia ditakdirkan memancar, ada, dan bersama Mbah Nun — Guru, Cacak, sahabat, Bapak, sekaligus Mbah kita semua.

Di sepanjang fase empat tahun itu, kita catat betapa tidak menetapnya tempat penyelenggaraan masih menjadi penyerta. Fluktuasi jumlah hadirin dalam kisaran tak lebih dari lima puluh, datang dan perginya nama-nama serta kondisi generik lainnya adalah warna keunikan yang secara eksklusif kita miliki. Kepada Tuhan jua segala puja-puji layak kita haturkan.

Hendak kemana kita setelah tonggak masa menginjak tahun keempat? Kiranya, tekad dan ikrar kita masih ada di titik yang sama: menggali hikmah, menuju cahaya. Dibungkus renyahnya kosmos persaudaraan yang abadi-abadan, bersama kita rayakan kegembiraan penuh keilmuan dan ilmu yang menggembirakan.

Di etape bertajuk Warsa Sekawan ini, puasa nan tak menghitung lebaran, nandur yang panennya tak lagi menjadi tujuan, mari kita uri-uri, kita lanjutkan.

Lainnya

Operasi Bypass dengan Maiyah

Di Rumah (Maiyah) Saja

Kita Bersalah Hingga Allah Merajuk

Tanah Air Allah

Buku dan Merchandise