Wa Huwa Yudrikus Sunan Sableng dan Paduka Petruk

Harusnya malam ini pentas di TBY Concert Hall, Yogyakarta. Harusnya malam ini semua aktor dan kru Tetater Perdikan yang terlibat dalam pementasan “Sunan Sableng dan Paduka Petruk” karya terbaru Emha Ainun Nadjib, merayakan puncak gelombang kemesraan dan kesungguhan serta kebersahajaan dari hari-hari yang menggembirakan; latihan, latihan, dan latihan. Harusnya malam ini, 7 April 2020 dan besok malam 8 April 2020, adalah ujian terindah dari semua proses itu.

Joko Kamto, aktor andal yang memerankan tokoh Paduka Petruk, pasti akan mengeluarkan aura kedigdayaannya. Eko Winardi dan Kumbo sang Narator I dan II akan lincah menjalankan tugasnya sebagai jembatan penghubung bergulirnya cerita dari satu adegan ke adegan lainnya. Juga kawan-kawan Ponggawa, Para Santri, Rombongan Zalinbur, Maulana Barzakh dan Mutawakkil serta Para Bidadari, Keluarga Semar, pasti telah sampai pada peak performance mereka untuk mempersembahkan yang terbaik yang mereka miliki kepada penonton. Demikian pula dengan kawan-kawan Tawon Ndhaz yang mengawal musik, Mas Wardono pada lighting, dan seluruh kru yang terlibat.

Dan, Jujuk Prabowo, sang sutradara, akan menjadi “penonton terhormat” bagi persitiwa panggung yang dalam proses latihan telah dikawalnya dengan kesungguhan dan citarasa yang berkualitas.

Tetapi, seluruh ‘yang harusnya terjadi’ itu tidak terjadi, dan berubah menjadi keharusan-keharusan yang lain. Keharusan untuk mengikuti prosedur dan protokol WHO; keharusan menjaga jarak, keharusan untuk lebih banyak berada di rumah, keharusan untuk tidak kumpul-kumpul, dan keharusan-keharusan yang lain.

Jujur, tentu saja sedih. Kecewa. Tetapi perasaan ini segera pupus, karena di luar sana hal yang serupa terjadi pada semua orang di semua bidang dan sisi. Kita semua menghadapi keharusan yang sama.

Meski begitu, rasa syukur kepada Allah tiada terkira, bahwa pada pengalaman teman-teman Teater Perdikan ini, keharusan untuk menjaga jarak justru semakin ‘mendekatkan’ mereka, keharusan untuk lebih banyak di rumah justru semakin ‘mengakrabkan’ mereka, dan keharusan untuk tidak kumpul-kumpul juga justru semakin membuka ‘ruang rindu’ di antara mereka.

Saya jadi teringat satu dialog Sunan Sableng –tokoh yang saya dipercaya untuk memerankannya: “La tudrikuhul abshar Wa Huwa yudrikul abshar, Wa Huwa yudrikul abshar, Wa Huwa yudrikul abshar, Wa Huwal Lathiful Khobiir.”

Saat ini para penonton belum jadi mendapat kesempatan menyaksikan sebuah liqaa-un ‘adhiim -pertemuan agung, pementasan yang sudah direncanakan. Tapi saya yakin, Allah telah, sedang, dan akan terus menyaksikan apapun saja yang dengan sungguh-sungguh sudah hamba-hamba-Nya kerjakan.

Bismillah, semoga kita selalu berada pada barisan kehendak-Nya. 

Lainnya

Buku dan Merchandise