Ujian Kepemimpinan dan Kesempatan Melahirkan Perubahan

Bangbang Wetan edisi Mei 2020

Bangbang Wetan pada 10 Mei 2020 lalu mengangkat tema “Baitus Salikin” dan masih dilaksanakan secara virtual setelah bulan lalu membahas dan merumuskan bagaimana sikap kita menghadapi datangnya pandemi. Bulan Mei ini Bangbang Wetan melanjutkan pembahasan bagaimana kita bisa bertahan hidup.

Tak dipungkiri pembatasan sosial dengan segenap protokolnya memberi dampak kepada para penggiat dan jamaah. Cak Amin, sebagai moderator, menyatakan arek-arek Maiyah sudah terbiasa tahan banting secara ekonomi, tetapi beberapa bulan terakhir memang terasa lebih berat situasinya.

Maka, tema Baitus Salikin merupakan upaya urun rembug agar kita dapat menentukan sikap terbaik, misalnya dengan tetap melakukan suluk dan beraktualisasi secara positif dan bermanfaat, termasuk dalam bidang pemberdayaan ekonomi.

Kyai Muzammil merespons bahwa semangat ber-suluk meskipun dibatasi di rumah saja merupakan aktivitas yang tetap perlu dilakukan. Ia mencontohkan siklus aktivitas harian di pesantren yang diasuhnya tidak kendur sama sekali. Justru suluk dan riyadlah semakin kencang dilakukan selama Ramadhan. Beliau menekankan suluk dari rumah untuk menjaga diri supaya kita tidak tertekan secara kejiwaan.

Malam itu Bangbang Wetan juga dibersamai Cak Adil Amrullah atau akrab disapa Cak Dil, praktisi pergerakan yang sudah malang-melintang selama puluhan tahun.

Beliau menyampaikan bahwa hari ini kita berada dalam reruntuhan besar. Di balik reruntuhan itu terkandung ujian kepemimpinan yang menyodorkan peluang untuk membuat sesuatu yang baru.

Ada Kyai Tohar juga malam itu. Beliau mengamini apa yang disampaikan Cak Dil. Neoliberalisme sedang berhadapan dengan jalan buntu. Namun, ada kecemasan tersisa. Setelah pandemi ini berlalu, siapakah yang akan mengambil peran? Menurut Kyai Tohar yang paling siap biasanya adalah kaum pedagang.

Ketika disinggung persoalan konspirasi, Kyai Tohar cenderung mengelak. Beliau mengajak lebih baik kita keluar dari diskusi yang hanya mengurasi energi. Lebih baik kita fokus pada menghadapi permasalahan yang tengah berlangsung.

Kita bisa menyaksikan desa yang selama ini dipinggirkan ternyata menjadi penyangga bagi sendi kehidupan masyarakat. Pun demikian dengan pola hidup komunal yang selama ini tidak dianggap penting. Pada masa pandemi ini hidup secara komunal justru dirasakan manfaatnya.

“Inilah masyarakat ambyar,” kata Kyai Tohar. “Negara ambyar. Rakyat ambyar. Namun, seambyar-ambyarnya rakyat, tidak seambyar yang dikhawatirkan banyak pihak.”

Kyai Tohar mengungkapkan kegembiraannya karena teman-teman di berbagai daerah dan Simpul bergerak dengan caranya masing-masing. Ini adalah kesempatan yang nyata, walaupun belum sampai menciptakan perubahan. Minimal, kesempatan untuk berbuat telah diisi dengan kegiatan yang bermanfaat bagi orang banyak. Padahal sebelum pandemi ini terjadi, sekadar berbuat saja terasa susah.

Ada fenomena unik yang dipotret Kyai Tohar. Hari ini para pengayuh becak malah banyak menumpuk bantuan. Akan tetapi ada kalangan artis dan seniman yang justru luput. Mereka tampak gagah, tetapi aslinya mulai kelabakan.

Cak Dil kembali merespons tentang hilangnya semangat reinvestasi atau menabung. Tidak seperti zaman dahulu, tahun 80-an. Setelah panen tembakau misalnya, selalu ada yang disisihkan untuk disimpan. Mereka mempunyai kebiasaan menyimpan uang di cagak pring rumah. Sekarang kayu pring sudah berganti tembok.

Pada masa itu masyarakat belum akrab dengan layanan perbankan. Tradisi yang dijalani adalah menyimpan tabungan di kyai. Tradisi itu susah diterapkan zaman sekarang. Orang cenderung tidak percaya, jangan-jangan dipakai modal usaha Pak Kyai.

Setelah menyadari desa memiliki peran vital sebagai penyangga peradaban, menurut Cak Dil, problematika yang harus dicermati adalah ketiadaan mekanisme bisnis di desa. Uang cepat mengalir keluar desa.

Uang bantuan misalnya, silakan saja diamati, tidak lebih dari 20% yang tetap bertahan di desa. Jadi, yang harus dikerjakan hari ini adalah membangun di lingkungan yang paling primer. Di basis sosial tersebut disiapkan institusi yang mendasar.

Bergeser ke Cak Suko, beliau memberikan sharing bahwa hingga hari ini telah dilaksanakan survei di 18 wilayah. Hasilnya adalah PSBB tidak efektif diterapkan. Maka, menghadapi pandemi yang tengah berlangsung ini andalan kita adalah disiplin dan kolaborasi.

Mengenai degradasi masa lalu yang hilang perlu dihidupkan lagi, demikian saran Cak Suko. Namun, menghidupkan tradisi lama seperti menabung di cagak pring tidak dikerjakan secara serabutan, melainkan diberangkatkan dari konteks yang tepat dan aplikatif. Salah satunya adalah mengoptimalkan fungsi koperasi.

Aplikasi yang kontekstual disampaikan Cak Dil mengenai penerapan lumbung. Secara fisik lumbung padi sudah tidak ada, karena hasil panen petani sudah dibeli melalui sistem ijon sebelum panen.

Oleh karena itu, gagasan lumbung dapat dimulai dari bentuk yang sederhana. Cak Dil sedang merancang sebuah formulasi lumbung pangan berbasis masjid. Menurut beliau, lumbung bisa diterapkan pada tingkat rumah tangga. Bahkan menanam atau berkebun di rumah merupakan aplikasi dari bentuk lumbung. Setiap rumah memiliki “lumbung” tanaman yang dapat dimanfaatkan kemudian hari.

Masih menurut Cak Dil, hilangnya budaya reinvestasi juga bisa kita potret hari ini pada skala badan usaha. Rapuhnya perusahaan-perusahaan yang hanya mempunya reserve keuangan jangka pendek sehingga pontang-panting menjaga diri dari mem-PHK karyawan.

Kyai Tohar menambahkan faktor kerapuhan dunia usaha berikutnya adalah karena sistem ekonomi yang dianut hari ini adalah sistem ekonomi berbasis makelar. Padahal kita mestinya membangun penguatan produksi. Kyai Tohar juga mengkritisi geliat start up digital yang hanya jadi makelar dengan menggunakan sarana digital.

Atas keprihatinan kerapuhan ekonomi inilah, Cak Rachmad menyampaikan pandangannya supaya kita ngenyang kahanan agar ekonomi bisa tetap hidup. Kyai Tohar spontan menanggapi bahwa pemikiran Cak Rachmad ini sama persis dengan cara berpikir pemerintah yang economy minded.

Cak Acang turut memberikan pandangan. Dalam sepuluh tahun ke depan dunia akan berinvestasi lebih banyak pada aspek kesehatan ketimbang aspek filosofi dan pencarian makna hidup. Ia melansir hal tersebut dari seorang peneliti Barat Noah Harari.

Mas Sabrang menyampaikan bahwa dirinya tak berurusan dengan optimisme atau pesimisme. Kita harus membaca data secara tepat supaya selamat menentukan langkah ke depan, demikian sarannya.

Dari pembacaan Mas Sabrang, pintu pertumbuhan spiritual terbuka lebar. Kita sering berkumpul tetapi tidak merasa saling peduli. Justru ketika dipaksa hidup sendiri-sendiri seperti hari ini, kita malah terdorong untuk memikirkan kebersamaan.

Ketika ditanya apakah keadaan saat ini sudah puncak kehancuran, Mas Sabrang merespons bahwa dirinya cenderung selalu berhati-hati untuk mengatakan “ter“ atau paling, terutama terhadap hal-hal yang kita tidak mengetahui skalanya.

Setidaknya dalam keadaan seperti hari ini, kita menjadi sadar betapa fondasi cara hidup kita selama ini tidak solid. Yang mesti kita temukan adalah bagaimana membangun fondasi yang solid untuk menghadapi keadaan-keadaan semacam ini di masa mendatang.

Buku dan Merchandise