Tuhan Memang Satu, Tafsir Kita yang (Mungkin) Berbeda

Image by Bessi from Pixabay

Kebenaran mutlak milik Allah, manusia hanya diberikan rambu-rambu untuk mendekati kebenaran tersebut.

Membayangkan kehidupan yang ideal dalam beragama adalah bagaimana setiap manusia bisa mendoakan kebahagiaan satu sama lain, saling menolong. Mengendapkan ego untuk tidak gampang menyalahkan, menghilangkan sikap iri, dengki, dan sumpah serapah kepada sesama. Kasarnya, tanpa agama pun kita sudah bisa memilah kebaikan dan keburukan untuk kehidupan sosial yang harmonis.

Petaka itu muncul kala para mufassir mencoba membedah Ayat dan Hadis yang kemudian dijadikan rujukan kelompok atau madzhab tertentu. Jika pemahaman kaku dan cenderung tekstualis, akan ditemukan sikap menyalahkan pemahanan atas tafsir yang lain. Mengorek dalil untuk dijadikan hujjah atas argumennya. Bertaklid buta kepada ustadz yang diyakini sebagai sumber kebenaran, tanpa sudi melihat kebenaran atas pendapat lainnya.

Kata Gus Sabrang, “Murid tidak berhak menilai rapor temannya sendiri”. Dalam dunia pendidikan formal, ada “Guru” yang pantas menilai dan membuat rangking untuk muridnya. Sesama murid hanya bisa memberikan selamat atau mungkin memprasangkainya. Otoritas “Guru” tentu jauh lebih besar daripada seorang atau sekelompok “murid”.

Artinya setiap orang mempunyai keyakinan masing-masing berdasarkan ilmu pengetahuan yang didapatkannya. Tidak elok rasanya jika sesama hamba saling menghujat satu dengan yang lain untuk sebuah kebenaran yang semu. Daripada memperdebatkan kebenaran yang sama-sama tidak diketahui keabsahannya, manusia sebenarnya cukup menjadi baik. Karena benar belum tentu baik, sedangkan baik sudah tentu benar.

Seperti penjelasan di atas, tanpa agama pun, setiap orang sudah bisa berlaku baik dengan tidak menyakiti sesama. Cukup saling menghargai dan menghormati mereka yang berbeda pandangan dan keyakinan tentang kebenaran. Jika butuh sesuatu untuk menyalahkan, maka salahkanlah diri sendiri sampai tidak ada lagi celah untuk merendahkan yang lain.

Tuhan Maha Esa

Agama samawi mengakui tentang keesaan Tuhan, mulai dari Yahudi, Nasrani, dan Islam. Namun kenyataannya konsep ketuhanan antar agama berbeda satu dengan yang lain. Hal paling utamanya adalah, bahwa setiap agama selalu mengajarkan kebaikan berdasarkan kebenaran agama yang diyakini. Tidak ada agama yang mengajarkan tentang perbuatan mencuri, membunuh, menyakiti sesama, menyebarkan fitnah, menipu, berkhianat, dan kekerasan atas nama agama. Semua agama menghendaki adanya perdamaian dan kehidupan yang harmonis. Jika masih membenarkan sikap anarkhisme dalam beragama, perlu direnungi kembali tentang dakwah yang diajarkan agamanya dahulu. Benarkah agama mengajarkan kekerasan?!

Karena Tuhan Maha Esa, maka kebenaran pun sifatnya tunggal. Menjadi banyak perdebatan pada sebuah perbedaan disebabkan karena tafsir setiap orang berbeda-beda. Tafsir setiap orang tersebut dihimpun dari sandaran madzhab, kajian pengetahuan yang tidak lengkap, dan pengaplikasian secara kontekstual yang tidak sama antara situasi satu dengan yang lain.

Ada banyak jalan menuju Roma. Begitu pun dalam menemukan kebenaran. Jangan gampang menyalahkan mereka yang menuju “Roma” hanya karena berbeda “kendaraan”, atau berbeda jalur (jalan). Semua bebas menentukan jalan yang dikehendakinya, entah melalui daratan, lautan, ataupun udara. Tafsir seharusnya memperkaya khasanah keilmuan umat untuk lebih berlaku bijaksana. Bukan malah menjadi kaku dan bersikap eksklusif. Jika dipaksakan untuk menolak kebenaran yang lain, berarti ada anggapan bahwa Tuhan sudah tidak lagi Esa. Tuhan menjelma menjadi prasangka-prasangka umat-Nya.

Membedah Tafsir

Dalam agama Islam, terdapat 6 kitab hadis utama. Seperti Shahih Bukhari dengan 7.397 hadis, Shahih Muslim dengan 7.275 hadis, Sunan Abi Dawud dengan 5.274 hadis, Sunan At- Tirmizi dengan 3.959 hadis, Sunan An-Nasa’i dengan 5.671 hadis, dan Ibnu Majah dengan 4.341 hadis. Selain itu masih banyak lagi hadis dari para ulama salaf yang tersebar di penjuru dunia. Belum lagi ada kajian tentang kualitas hadis shahih, hasan, dhaif, dan lain sebagainya.

Data sekilas sedikit menjelaskan tentang betapa fakirnya ilmu kita untuk menemukan kebenaran agama. Apalagi tiap madzhab terjadi banyak perbedaan pandangan. Beda ormas juga banyak perbedaan. Bahkan sama-sama beragama Islam, berorganisasi dan bermadzhab sama pun seringkali terjadi perselisihan pendapat. Sejatinya perbedaan itu adalah rahmat.

Ketika memahami tentang beranekaragamnya tafsir para alim ulama, hendaknya menyadarkan kita bahwa kebenaran itu ada banyak, minimal berdasarkan versi masing-masing individu yang meyakininya. Jika susah menerima perbedaan, jangan lantas menyalahkan persepsi kebenaran orang lain. Toh, kita sama-sama tidak terima kalau disalah-salahkan dengan dalih menyempurnakan kebenaran orang lain.

Puluhan ribu hadis dan jutaan tafsir yang kita terima adalah sarana untuk senantiasa menjadi baik. Ciri manusia dewasa adalah ketika dia sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Jika dirasa sebuah hadis atau tafsir menjadikan kita bersikap buruk, maka perlu ditelaah ulang. Salah hadisnya, atau salah tafsirnya, atau salah kita sendiri yang kurang kompeten memahami tafisr atau hadis.

Sandarkan ilmu pengetahuan pada pengalaman yang dimiliki. Jangan bertaklid buta dalam mencari kebenaran. Apalagi menyandarkan prinsip hidup kepada seseorang yang belum begitu kita kenali pengalaman hidupnya.

Tuhan memang satu, tafsir kita beda
Haruskah aku, lantas pergi
Meski cinta… tak kan bisa… pergi…

Lainnya