Memperingati 40 Hari Wafat Syaikh Nursamad Kamba

“Titi Kolo Mongso” Buat Buya

Titi

Kolo

Mongso

Sejatinya itu saja komentar saya tentang Buya. Tapi, masa’ cuma tiga baris? Editor buku ini, yang pasti sudah menyediakan kapling halaman untuk saya, tentu akan bingung. Saya tak mau mengulangkan kebingungan saya tahun 90an kepadanya. Saat itu menjadi editor sebuah koran besar di Jakarta. Saya pesan untuk menulis obituari kepada pemusik besar SAS atas meninggalnya sejawatnya sesama pemusik. Saya sudah canangkan ruang beberapa kolom untuk tulisan pemusik senior lulusan Prancis tersebut. Beberapa hari kemudian tulisan masuk. Itu mepet 2-3 jam menjelang deadline. Dan, ternyata hanya, tiga baris:

Batu

Langit

Engkau

Asu tenan! Heuheuheu… Atas mepetnya waktu, tak mungkin saya mencari alternatif penulis lain. Ya, sudah, bersama senior saya di koran itu saya membuat tulisan tiga halaman kuarto atas nama pemusik tersebut. Ya, termasuk ngawur-ngawur segala, pokoknya berdasarkan imajinasi kami tentang batu, langit, engkau… Jadilah tulisan obituari 3 halaman kwarto. Sore setelah koran itu terbit pagi, sang “penulis” menelepon saya, “Matur nuwun, Mas Jiwo. Pas banget tulisannya. Ya, memang itu yang sebenarnya yang saya maksud.”

Ooooo, wedhus… Heuheuheu…

Saya tak mau melampiaskan dendam, tak mau diwedhus-wedhuskan oleh editor buku ini, saya tak mau ikut-ikutan Tuhan Yang Maha Pendendam, karena dendam-Nya Tuhan pasti untuk tujuan kebaikan. Otak saya ndak nyampek untuk mendendam dan membenci seperti benci-Nya maupun dendam-Nya. Tapi, buat mengenang Buya, apa yang bisa saya panjang-panjangkan lagi dari titi, kolo, mongso?

Hmmm… Baiklah. Kalau harus dipanjangkan lagi, dialah orang baik yang saya temui pertama kali di Jedah dan beberapa tahun kemudian menulis bareng dengan saya buku “Tuhan Maha Asyik”. Bila harus dipanjangkan lagi, sampai munculnya buku tentang hal-ikhwal ketuhanan tersebut, ada beberapa peristiwa yang susah saya lupakan. Suatu pagi sekitar pukul 9-an di bulan Ramadan saya telepon Buya bahwa mau mampir di rumahnya di Kampung Dukuh. Saya minta digorengkan tempe dan teman-temannya seperti rawon dan lain-lain. Sampai di Kampung Dukuh, makanan itu lengkap sudah terhidang di meja makan. Masih kepul-kepul. Buya dan Fatin Hamamah, istrinya, menemani saya makan. Tepatnya, sekadar menenami saya ngobrol karena seisi rumah termasuk Mbak Sal, asisten rumah tangga mereka, sedang menjalankan ibadah puasa.

Beberapa tahun kemudian, dalam buku “Tuhan Maha Asyik”, Buya menyinggung tentang Abu Yazid Al Bustomi, sufi yang untuk menghindari dianggap suci oleh warga maka ia berbuat segala hal yang mendukung penghindaran itu termasuk makan-makan siang bolong di bulan puasa. Setiap kali mengenang bagian itu di buku “Tuhan Maha Asyik”, saya selalu teringat pula pada peristiwa rawon dan tempe goreng pagi hari bulan Ramadan di Kampung Dukuh itu. Apakah pada pagi itu, pada titi kala mongso itu, Buya tahu bahwa saya sejatinya pura-pura tidak berpuasa?

Hmmm…

Titi

Kolo

Mongso

Kalau tiga baris itu masih harus saya panjangkan lagi, saya akan gelarkan jalan panjang dari Jakarta ke Pinrang. Kota kecil di Sulawesi Selatan itu sekitar 1 jam dari tempat Habibie lahir, Parepare. Di pinggiran kotanya, dikepung sawah-sawah, ada rumah panggung sederhana yang dihuni oleh saudara kandung Buya dan ibu yang mereka jaga, Hj. Mardani Kanna. Perempuan yang sudah sangat sepuh, hanya bisa berbaring dan sesekali duduk. Hj. Mardani ada di kamar belakang. Saya melihat bagaimana beliau sangat mencintai Buya, anak ke-3 dari 8 bersaudara. Beliau tidak bisa berkata-kata. Dan matanya, dengan kacamata tebal, kelihatannya juga sudah tak berfungsi normal. Saya melihat bagaimana ia bangkit duduk dari baringnya, merangkul Buya. Saat pamitan, saya dan Nunung, istri saya, menunggu cukup lama di luar rumah, menunggu Buya masuk ke dalam dan pamitan. Beliau kemudian melongok dari jendela rumah panggung itu ketika kami pergi meninggalkan Pinrang.

Itulah suatu saat, suatu titi kolo mongso dalam kehidupan saya bersama Buya.

Saya merasa senasib, karena merasa sama-sama menjadi putra lelaki kesayangan ibu. Dan, seperti biasanya, Tuhan selalu iseng memain-mainkan perasaan saya. Di ruang sekitar 4×5 meter persegi ruang ibunda itu, dimasukkan-Nya juga seorang perempuan sepuh. Ia masih bisa melipat lututnya di dada dalam posisi jongkok. Tubuh serta wajahnya masih tampak fit. Dia adik bungsu ibunda Buya? Dia kakak ibunda Buya! Kenapa beliau masih tampak fit, bicara masih lancar, mata tanpa kacamata? Mungkin karena sejak remaja setiap hari ia bertani sampai sekarang, sementara ibunda Buya duduk mengajar membaca Al Quran. Ini mungkin yang dalam buku “Tuhan Maha Asyik”, Buya bilang bahwa peribadatan tak cuma berkaitan dengan ritus-ritus seperti sembahyang dan membaca Kitab Suci. Bekerja konkret di lapangan, di laboratorium-laboratorium, adalah juga bagian yang sah dari peribadatan. Malah hasilnya kadang lebih menyehatkan.

Kawasan di rumah panggung di Pinrang itu dulunya adalah Darud Da’wah Wal-Irsyad Parepare, pesantren yang diasuh oleh H. Abdul Samad Kamba, seorang ayah dari bocah yang sangat ndablek, tukang berantem, jarang pulang ke rumah, tapi kelak kemudian belajar di Universitas Al Azhar Kairo selama 17 tahun hingga berhasil mencapai gelar Doktornya: Prof. Dr. Muhammad Nur Samad Kamba. Waktu di Parepare, saya sempat makan siang di rumah seorang ibu-ibu di tepi laut. Ia bercerita bahwa Buya masa remajanya sering secara mengejutkan tiba-tiba muncul di rumah itu untuk menumpang menginap dan makan. Kejutan itu biasanya muncul kalau Buya lagi ada masalah dengan orangtuanya atau dengan teman-temannya, entah karena soal cinta maupun habis berantem.

Hmmm…

Titi

Kolo

Mongso

Kalau masih harus dipanjangkan lagi, titi kolo mongso itulah saat ketika Buya menjadi lantaran bahwa Fatin Hamamah tak bisa mengelak dari nasibnya. Putri pasangan Hj. Haninas Rasjad El Yunussy AL Khalidiyah – H. Rijal Syam Malin Parmanto pengasuh pesantren Dinniyah Putri Padangpanjang ini “dibuang” untuk kuliah di Al Azhar Kairo, karena di Sumatera Barat Fatin terlalu larut dalam kegiatan kesenian terutama sastra. Pihak orangtuanya tak begitu setuju agama dicampur-campur kesenian. Eh, di Kairo putri “buangan” ini malah bertemu pemuda Bugis dari Pinrang, Buya, yang bukan saja amat mendukung kegiatan berkeseniannya, malah menjadikannya sang istri.

Pasangan itu datang saat saya ngunduh mantu Minang saya di Pekanbaru 2019 walau saya sudah berwanti-wanti agar mereka tak usah repot-repot jauh-jauh datang. Toh datang juga. Saat membantu membawakan kopor Fatin dari Bandara, saya rasa kopor itu berat sekali. Ternyata berisi alat-alat kesehatan untuk mendukung Buya. Di luar dugaan, usai acara resmi adat, dalam keadaan sakit Buya turut larut berjoget bersama kami. Pemandangan umum tentang Buya adalah sosok berambut putih, yang bersila, dan menyampaikan pesan-pesan tasawufnya. Seumur-umur belum pernah saya melihat Buya berjoget dan lepas sama sekali dari urusan intelektualitas.

Buya pula yang membuat saya berani membentak kakak saya waktu saya mantu di Jakarta 2019. Pasalnya, Kakak saya seperti sedang bereuni dan asyik ngobrol dengan saudara-saudara yang ketemunya ya cuma pas di acara akad nikah itu. Padahal, saat itu Buya sedang saya minta untuk menyampaikan pidato pesan-pesan pernikahan usai ijab kabul.

Kakak saya bisa terima. Dan Buya sudah mendahului kita. Dan saya lunaskan wasiatnya, agar saat pemakamannya saya menyanyikan lagu Titi Kolo Mongso.

Al-Faatihah.

Buku dan Merchandise