Tinggi Hati Kepada Allah

Corona, 63

Allah, Rasulullah dan Islam sangat murah hati menolong jenis orang seperti saya, yang tidak berada di garis puncak dari struktur dan stratifikasi di bidang apapun saja. Betapa beruntungnya saya tidak menjadi ulama, raja, presiden, profesor, doktor, tokoh nasional dan banyak puncak-puncak gunung lainnya. Karena alamat saya di kerendahan, di dataran tanah paling rendah, maka malah bebas dari ukuran. Tidak ada orang bertanya tanah dan sawah di desamu berapa tingginya? Kecuali untuk urusan administrasi “di atas permukaan laut”: toh tidak ada orang bertempat tinggal di laut. Orang hanya melancong melewati laut. Makanya orang Madura marah besar “Kenapa urusan laut Sampiyan bawa-bawa ke darat?”

Karena beralamat di kerendahan, di garis nol, maka kalau ada yang menanyakan kepada saya tentang apapun saja, sangat mudah menjawabnya. Misalnya “Sampai berapa lama berlangsungnya wabah Corona ini? Apa sampai tahunan? Kira-kira berapa lama lagi vaksin penawar Covid-19 akan bisa dipastikan fix dan kita semua bisa mengaksesnya?” Sekali lagi, sangat mudah menjawabnya. Pertama, “wallahu a’lamu bis-shawab”. Kedua, “Antum a’lamu bi`umuri dunyakum”. Itu kalimat tokoh Palabagong di lakon drama “Sunan Sableng dan Paduka Petruk”: “Aku mengetahui apa yang kalian tidak ketahui”, dalam positioning “Allah mengetahui apa yang kita tidak ketahui”. Ana a’lam wa antum la ta’lamun.

Bahkan tidak hanya strata tahu, tapi juga mengerti dan bisa. Habib Nurmuhammad, atau kalau pakai Bahasa Rusia Khabib Nurmagomedov, sehabis setiap kemenangannya dalam pertarungan MMA (mix martial art) selalu melakukan adegan pantomim ini: pertama tangan kanannya menunjuk dadanya, berarti “aku”. Lantas tangan yang sama dinaikkan dengan digerak-gerakkan ke kiri dan kanan, berarti “bukan aku”. Terakhir tangannya naik, telunjuknya menuding tepat ke atas. Berarti maksudnya: “Yang menang melawan Laquinta, Edson Barboza, Dustin Poirier, Connor McGregor dll bukanlah saya, melainkan Allah subhanahu wata’ala.

Khabib sangat berprinsip “Inna lillahi wa inna ilaiHi roji’un”. Bukan hanya ia sebagai makhluk dan hamba Allah yang berasal dan kelak kembali kepada-Nya. Tetapi setiap yang pernah dicapainya dalam kehidupan pada hakikatnya adalah kehendak Allah, kemurahan Allah, ketetapan Allah. Maka setiap melawan kebrutalan kata-kata dan kekejaman hati McGregor, Khabib selalu mengatakan “I will make him humble”. “Aku pengin njotos rai-nya McGregor untuk membuatnya belajar berendah hati.”

Khabib adalah muballigh Islam di setiap langkah dan ucapannya. Ia mempraktikkan sikap tawadldlu’ dan berikhtiar membuat siapa saja ber-tawadldlu’ juga kepada Allah. “Wa ma ramaita idz ramaita walakinnallaha rama”. Kita menang atau kalah, Allahlah yang memenangkan atau mengalahkan. Apalagi McGregor, preman Irlandia yang menyatakan “kalau Jesus turun dan bertanding lawan saya, maka saya juga akan tendang bokongnya”. McGregor bukan hanya icon utama dunia kapitalisme olahraga, tapi juga model paling karakteristik dari Peradaban Ummat Manusia abad 20-21.

Makanya saya selalu memohon kepada Allah agar Khabib jangan pernah mau tanding ulang melawan McGregor makhluk yang menjijikkan itu. Bahkan lawan Khabib yang seharusnya digelar 18 April, Tony Fergusson, juga saya mohonkan tak akan pernah terjadi. Dan Coronavirus membatalkannya, padahal ini sudah rencana jadi yang kelima. Tony juga tidak kalah nyinyir dan adigang adigung adiguna-nya. Semoga Allah memberikan yang terbaik pasca Corona kepada Khabib, karena kiprah pemuda saleh Dagestan itu sangat berhubungan dengan hati dan perasaan Kaum Muslimin sedunia.

Sampai kemarin sore, juru bicara Corona kita mengucapkan “Insyaallah” saja gengsi dan merasa terlalu tinggi untuk mengucapkan kalimat yang menurutnya mungkin akan merendahkan dirinya dan manusia. Maka gantinya “insyaallah” adalah “pasti”. Kita pasti bisa. Indonesia pasti bisa. Memang dengan sejumlah pengetahuan dan strategi perilaku nasional, kata “pasti” itu rasional untuk untup-untup di lidah kita. Dan kita merasa lebih hebat dari Nabi Sulaiman Raja Agung sepanjang zaman, yang loyo terduduk di kursinya melihat ketidakberhasilan rencananya untuk memperanakkan Raja penggantinya, hanya karena tidak mengucapkan “insyaallah”. Kata teman kanak-kanak saya di Jombang dulu tentang anak-anak pemberani dan tinggi hati “arek iku durung tau dibatek ilate”.

Saya tidak lantas mengasumsikan, apalagi mengklaim dan memastikan bahwa Allah akan murka oleh tinggi hati Indonesia kepada-Nya. Allah itu Maha Syakur dan Maha Shabur. Maha Bersyukur dan Maha Penyabar. Juga ia berkuasa mutlak atas segala hal, termasuk menangguhkan murka-Nya atau mengampuni hamba-Nya. Yang saya ingin katakan hanyalah bahwa Jamaah Maiyah dan saya sama sekali tidak punya keberanian untuk bersikap tinggi hati di hadapan, apalagi kepada Allah.

Pasti sangat tidak populer apa yang saya tulis, wilayah tematiknya, cara pandangnya, pengambilan dimensi nilainya. Misalnya kalau mau ketemu Fir’aun, Hamman dan Qarun, tak usah jauh-jauh ke sejarah masa silam. Aba wastakbara. Idzhab ila Fir’auna innahu thagha. Pahami saja Indonesia negerimu ini sendiri, serta seluruh karakter dan perilaku nilai-nilai global yang sedang berlangsung. Dan kita Jamaah Maiyah juga tidak GR untuk merasa kita adalah Musa dan Harun, apalagi berhalusinasi bahwa Allah kasih tongkat penelan sihir kepada kita sebagaimana dikasihkan kepada Nabi Musa. Kita semua Jamaah Maiyah termasuk saya sendiri benar-benar hanya “wong cilik” dalam term sosiologi modern Indonesia dan dunia. Kita tidak berdaya. Tetapi tidak berarti mereka boleh dan bisa menekuk kita agar bersujud kepada pilihan nilai-nilai mereka.

Respons atas Maiyah dan tulisan-tulisan ini persis sebagaimana digambarkan oleh Allah: “Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sekuat-kuat sumpah; sesungguhnya jika datang kepada mereka seorang pemberi peringatan, niscaya mereka akan lebih memilih untuk mendapat petunjuk dari salah satu ummat-ummat yang lain. Tatkala datang kepada mereka pemberi peringatan, maka kedatangannya itu tidak menambah kepada mereka, kecuali jauhnya mereka dari kebenaran Allah.” (Fathir).

Jamaah Maiyah juga tidak memimpikan akan terwujudnya firman yang lain: “Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang mereka mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: Jadilah kamu kera yang hina.” (Al-A’raf). Tidak ada wiridan Maiyah yang bunyinya “kunu qiradatan khosyi’in”. Jadilah kalian semua kera-kera yang hina. Untuk apa menkhayalkan atau mengikhtiari sesuatu yang sudah nyata.

Jamaah Maiyah juga tidak mengatakan bahwa pelaku peradaban sekarang ini adalah “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.” (Al-Isra). Bukan. Mereka bukan itu. Mereka sekadar pengidola, pengikut dan pembebek kaum yang Allah sebutkan itu.

Dalam dua-tiga gelombang, Corona sedang bekerja keras untuk mengubah manusia. Tetapi Allah sendiri sudah memfirmankan: “Tatkala datang kepada mereka pemberi peringatan, maka kedatangannya itu tidak menambah kepada mereka, kecuali jauhnya mereka dari kebenaran Allah.” (Fathir). Yang akan berubah hanyalah pola perilaku budaya mereka, cara berputarnya perekonomian mereka, serta sejumlah nilai-nilai keduniawian mereka — sebagaimana dulu lahirnya Renaissance atau masyarakat pasca-Hud dan pasca-Nuh. *****

Buku Lockdown 309 Tahun