Timbul Tenggelam Musuh Tak Kasatmata

Catatan Reboan on the Sky 29 April 2020

Reboan on the Sky kembali digelar pada 29 April 2020. Sebanyak 42 audiens hadir dari lintas simpul Maiyah. Topik utama bertajuk Invisible Enemies disampaikan Cak Pudji Asmanto. Berikutnya warta simpul terbaru disiarkan empat perwakilan. Keempat simpul menggagas terobosan strategis di lingkungannya selama menunggu pandemi berakhir. Rebo Ijo (Masuisani), Formula Probiotik (Keluarga Mocopat Syafaat), Berladang Sistem Rotasi (Majlis Gugur Gunung), dan APD Face Shield (Gambang Syafaat) diwedarkan secara menarik.

Empat perwakilan dari 60 lebih titik Simpul Maiyah ini menunjukkan bahwa geliat Simpul Maiyah tidak berhenti begitu saja meskipun saat ini tidak bisa Sinau Bareng secara langsung seperti Maiyahan biasanya. Justru, dalam kondisi seperti ini mereka sedang praktik langsung di lapangan. Mengikhtiarkan beberapa hal untuk beradaptasi dengan kondisi yang ada sekarang.

Apa yang dilakukan oleh teman-teman Masuisani di Bali dengan gerakan Rabu Ijo dan mereka yang di Majlis Gugur Gunung Ungaran adalah sedikit upaya untuk bagaimana memanfaatkan lahan pekarangan yang ada di sekitar rumah. Atau juga lahan kebun yang masih belum maksimal difungsikan.

Di Reboan on the Sky minggu lalu, Yai Tohar mengingatkan bahwa aksi nyata secara langsung itu akan lebih baik jika bergerak berdasarkan aktivitas yang sudah dilakukan sehari-hari. Bercocok tanam seperti yang dilakukan teman-teman Majlis Gugur Gunung tersebut adalah satu contoh bagaimana memaksimalkan peran yang sudah diambil.

Bisa jadi, di Simpul Maiyah yang lain juga sudah melakukan hal yang sama. Kembali ke kebun atau sawah, kemudian menanam beberapa tanaman yang sebenarnya sudah biasa dilakukan. Tetapi, di masa pandemi seperti ini ketahanan pangan adalah sesuatu hal yang sangat penting.

Mungkin memang tidak akan sampai pada tahap panen besar-besaran, tetapi setidaknya dengan sedikit lahan yang dimiliki mampu dimaksimalkan untuk ditanami beberapa tetumbuhan yang hasil panennya kelak pada sekian bulan kemudian dapat mencukupi kebutuhan di dapurnya sendiri. Syukur alhamdulillah jika juga mampu mencukupi kebutuhan tetangga kiri-kanan atau saudara sekitarnya.

Tentu tidak semua Simpul Maiyah memiliki kesamaan aktivitas dalam hal ini. Teman-teman KMS di Jogja misalnya, diceritakan oleh Anggarista bagaimana mereka berikhtiar menyusun sebuah formula probiotik untuk menghasilkan sebuah cairan yang dapat diminum sebagai penambah daya tahan tubuh dan meningkatkan imunitas tubuh. Memang, belum bisa dibuktikan secara ilmiah berdasarkan ilmu kesehatan modern apakah cairan tersebut benar-benar mampu mengobati Covid-19, tapi bukankah tugas manusia adalah berusaha?

Tentu kita masih ingat bagaimana Mbah Nun mengisahkan Nabi Musa ketika pada suatu saat mengalami sakit perut dan kemudian sembuh seketika ketika Allah memerintahkan Nabi Musa untuk memakan beberapa helai daun. Dan ketika kembali sakit perut, Nabi Musa tanpa taren lagi kepada Allah, langsung saja memakan beberapa helai daun itu, tetapi tidak sembuh sakit perutnya.

Pada titik ini sebenarnya kita harus memahami bahwa sembuhnya sebuah penyakit itu bukan berdasarkan obat yang kita konsumsi. Sebenarnya, tidak perlu jauh-jauh kita membicarakan apakah Covid-19 ini sebuah konspirasi atau bukan. Karena yang penting kita lakukan saat ini adalah bagaimana kita beradaptasi dengan keadaan. Jika kita ingin bertahan hidup dalam kondisi seperti ini, maka segeralah beradaptasi dengan keadaan. Ikhtiar-ikhtiar yang dilakukan oleh teman-teman Simpul Maiyah tersebut adalah ikhtiar yang sedang diusahakan. Perkara hasilnya seperti apa nanti, urusan belakangan. Toh kita juga sudah terbiasa dengan kegagalan, dan tidak mudah putus asa ketika gagal, justru semakin ubet untuk kembali berjuang. Ya memang begitulah hidup harus berjalan.

Sudah pasti, saat ini kita benar-benar mengalami ketakutan yang luar biasa. Ketakutan yang merupakan dampak nyata dari Covid-19. Kita yang sehat-sehat saja saat ini, bukan hanya khawatir akan terjangkit Covid-19. Tapi lebih dari itu, bahwa pandemi Covid-19 ini sangat mengancam kehidupan kita. Terutama urusan dapur kita masing-masing di rumah. Sudahlah krisis ekonomi ada di depan mata, krisis pangan pun sudah mulai terlihat nyata ancamannya.

Cak Pudji menanggapi ironi penanganan Covid-19. Menurutnya, WHO menyebut pandemi ini sebagai virus baru. “Tapi ironisnya direspons dengan cara-cara lama,” jelasnya. Padahal masalah baru memerlukan penanganan jitu. Ia menceritakan contoh riil di sekitar rumahnya. Metode fogging, bagi Cak Pudji, dinilai tak efektif. “Sudah jelas orang sedang disuruh di rumah saja. Malah lingkungan melakukan fogging dengan asap yang pekat. Seharusnya membasmi itu mengamankan,” imbuhnya. Hal ini berlanjut pada salah-kaprah lanjutan. Di masyarakat sendiri, lanjutnya, banyak orang salah kaprah mengenai perbedaan disinfektan, antiseptik, maupun sanitizer.

Merespons wabah yang makin meresahkan masyarakat, Cak Pudji dan kolega berinovasi melalui cairan kimia. Ia melakukan percobaan dengan mencampur air dengan garam berkualitas mumpuni. “Ini diolah dengan mesin. Di dalam cairan ini mengandung Sodium Hypochlorite (NaoCi), Hypochlorous Acid (HOCI), Ozone (O3) dan Hydrogen Peroxide (H2O2),” paparnya. Cak Pudji dan tim memberi nama ramuan ini Mauyah.

Setelah memaparkan khasiat hasil percobaannya Cak Pudji berpesan agar inovasi ini tak perlu dipusingkan status legalitasnya. Mencari legalitas, apalagi dari pemerintah, menurut Cak Pudji, adalah tindakan yang menghabiskan energi—bahkan justru menghambat. “Buktikan saja secara fakta. Tes langsung ke beberapa orang. Jika terbukti menyehatkan, distribusikan secara internal saja,” ujarnya. Cairan ini ditengarai mampu mencegah virus Corona.

Cak Pudji menangkap Maiyah bisa diposisikan sebagai produsen maupun konsumen. “Di masa pandemi ini dunia farmasi dan kesehatan adalah bisnis yang sangat potensial. Kita harus optimis. Kita sudah banyak mendapat bekal dari Cak Nun. Kita harus semangat, terus menggandeng silaturahmi,” tambahnya. Cak Pudji berpesan bagaimana seharusnya merespons Covid-19: memperkuat pertahanan, melakukan serangan balik atau bersembunyi di rumah.

Kedaulatan Pangan

Uraian legit Cak Pudji seputar inovasi dan siasat menangani pandemi menuai jamak tanggapan. Setarikan napas dengan Cak Pudji, Yai Tohar menambahkan kedaulatan pangan sebagai perimbangan menghadapi Covid-19. “Kedaulatan pangan di meja kita masing-masing harus menjadi hal utama saat ini,” tandasnya. Inovasi atau penemuan ramuan penanganan Corona, segendang sepenarian dengan Cak Pudji, jangan langsung dilabeli sebagai obat. Ia menyarankan agar disebut sebagai suplemen atau asupan vitamin.

Sejauh pengamatan Yai Tohar, kondisi pangan saat ini makin pelik. Di suatu daerah bisa surplus, sedangkan di daerah lain minus. “Bahan pokok sudah mulai menjadi rebutan,” tuturnya. Yai Tohar cukup aktif Live Instagram, ngobrol dengan beberapa pakar, dan dalam beberapa hari ini yang sering diajak ngobrol adalah mereka yang merupakan praktisi di bidang ketahanan pangan. Hal ini penting karena memang persoalan pangan adalah sesuatu hal yang primer.

Situasi genting ini memerlukan respons praktis. Agus Wibowo, pegiat Majlis Gugur Gunung, melihat revolusi kultural dengan memfokuskan di ranah pertanian menjadi pilihan terbaik. Revolusi kultural ini diambilnya dari konsep Cak Nun berjudul Pilihan 3 Daur yang mencacah corak perubahan radikal: revolusi sosial, revolusi kultural, dan revolusi spiritual.

Majlis Gugur Gunung sendiri telah memanfaatkan media polybag. Medium ini menggantikan penanaman padi selain sawah. Padi, menurutnya, bisa ditanam di halaman rumah. Menanam padi di media polybog tak perlu mempertimbangkan musim tertentu. Terobosan demikian dapat menjadi prototipe pendidikan alternatif selama pandemi. “Kesempatan di dunia pendidikan bahwa saat ini ada celah untuk memaksimalkan potensi anak-anak di rumah agar mereka menatar dirinya sendiri. Kembali pada konsep orang Jawa dahulu bahwa ketangguhan mental dimulai dari bagaimana dirinya mampu menatar dirinya secara mandiri,” ucapnya.

Cak Rudd dari Blora mempertajam pembahasan mengenai berkebun di rumah. Ia menyarankan kalau hendak menanam di rumah masing-masing sebisa mungkin mencari tanaman yang berusia panen pendek. Sekitar kisaran dua sampai empat bulan. Rudd memprediksi potensi besar penanaman padi di polybog.“Jika kita benar dalam merawatnya maka hasil panennya justru bisa melebihi hasil panen di sawah. Jika di sawah perpohon mungkin 60-70 bulir padi, sementara di polybog bisa mencapai 100 bulir perpohon,” responsnya.

Banyak variasi tanaman yang bisa dipraktikan di rumah untuk memperkuat ketahanan pangan. Rudd menyarankan kalau menanam cabai, di sela-sela pohon, bisa pula dibarengi tomat. “PR-nya agak bertambah karena terlalu rapat. Tetapi jika kita rajin menyemprotkan anti bakteri dan jamur yang alami, maka tanaman akan tumbuh subur,” imbuhnya.

Ingat dan Waspada

Kedaulatan pangan yang dipercakapkan di Reboan malam itu makin menunjukkan relevansinya bila ditilik dari denyut ekonomi makro. Mas Erik Supit membaca situasi pandemi masih akan berlangsung lama. “Saya membantah beberapa riset yang mengatakan bahwa Juni 2020 pandemi ini akan mereda.

Karena rujukan riset-riset itu diambil dari negara-negara yang sangat ideal dalam merespons Covid-19. Sementara di Indonesia tidak seideal negara-negara tersebut,” kritiknya.

Resesi ekonomi, menurut Mas Erik, akan melebihi tahun 1998 dan 2008. “Stok pangan di Indonesia ini sebenarnya tidak cukup, meskipun bulan depan akan memasuki masa panen. Tetapi di beberapa lumbung seperti Jawa Tengah dan Jawa TImur itu banyak yang diserang hama lahan pertaniannya. Sementara itu, juga banyak pasar yang tutup. Ini mengganggu distribusi logistik,” jelasnya. Problem distribusi antardaerah juga mengkhawatirkan. Sopir yang mengantarkan ini berpotensi terpapar atau menulari. Mobilitasnya ke daerah-daerah dianggap rawan.

Pangan menjadi komponen penting di masa ketakpastian ini. Menurutnya, produksi dan distribusi pangan mendorong betapa sekarang faktor pertanian dan perkebunan sedemikan krusial. Ia membaca jumlah UMKM yang kolaps hari ini diprediksi tak mampu bertahan sampai 2022. “Yang sekarang bertahan pun karena mereka memiliki bahan baku sendiri. Yang dipantau pemerintah hanya sebatas distribusi, sementara UMKM sendiri memiliki persoalan dalam bidang distribusi. Secara infastruktur sebenarnya dunia UMKM kita belum siap untuk transformasi ke sistem digital,” ujarnya.

Lain Indonesia, lain Thailand. Pak Ian L. Betts mengabarkan situasi grafik Covid-19 di Negeri Gajah Putih mulai landai. “Taman-taman kota sudah mulai dibuka. Hanya saja mal belum dibuka. Toko-toko kecil juga akan dibuka kembali di awal Mei nanti,” katanya. Penanganan Corona di tiap negara relatif berbeda. Ia berpendapat kalau Indonesia akan menjalani masa pandemi lebih lama ketimbang Vietnam dan Thailand. Selain faktor corak penanganan, faktor besarnya populasi juga berpengaruh.

“Saya memprediksi Covid-19 ini tidak akan cepat berlalu,” papar Pak Ian, “Ini akan lama. Tidak seperti SARS, MERS, atau Ebola. Virus Corona ini memiliki karakteristik yang berbeda dari SARS, MERS, atau Ebola. Virus ini lebih mudah menyebar dan mortality rate-nya cukup tinggi bagi para lansia. SARS dan Ebola itu sulit menular. Dan jika terkena virus tersebut kemungkinan meninggal sangat tinggi.” Kendati demikian, Pak Ian mengapresiasi sekaligus mendorong Simpul Maiyah untuk terus berinovasi. Ia menanggapi bahwa konsep Rebo Ijo, Formula Probiotik, Berladang Sistem Rotasi, dan APD Face Shield adalah inovasi bermanfaat dan penting di situasi sekarang.

“Konsep Rabu Ijo dari Masuisani Bali mengingatkan saya 30 tahun yang lalu ketika tinggal di Denmark. Kita semua kembali ke taman. Kembali ke kebun di rumah masing-masing. Kembali ke lingkungan kita yang terdekat di rumah. Rabu Ijo bisa dikembangkan menjadi salah satu kultur Maiyah. Jangan sampai berhenti dilakukan di masa pandemi ini saja. Jangan terlalu fokus dalam distribusi ekspor dan impor, tetapi utamakan distribusi untuk lingkungan terdekat,” pungkasnya.

Dari sektor industri pun ada banyak hal yang harus segera diadaptasi oleh manusia di dunia. Beberapa sektor perekonomian dipastikan lumpuh dalam kurun waktu setidaknya satu tahun ke depan. Dalam rentang waktu itu, akan ada banyak korban PHK massal, karena industri yang mati total tidak memiliki pendapatan untuk membiayai operasional mereka yang juga vakum.

School from Home, tidak semudah yang dikira

Tantangan yang juga dihadapi di masa pandemi ini adalah ketika anak-anak yang harus belajar di rumah. Teknis belajar mengajar yang awalnya tatap muka di kelas, kini berubah menjadi tatap muka melalui aplikasi Conference Call. Tetapi ternyata tidak semudah yang dibayangkan dengan mengubah teknis pembelajaran.

Yang terjadi sekarang hanya mengubah media pembelajaran dari yang awalnya tatap muka secara langsung menjadi pertemuan digital. Sementara materi pembelajarannya belum benar-benar ditransformasikan secara digital, hanya sekadar copy-paste materi pembelajaran yang awalnya ditulis di papan tulis, kemudian dijadikan file digital.

Tantangan yang juga dihadapi oleh orang tua adalah bahwa situasi di rumah juga tidak kondusif, sehingga siswa mengalami distraksi di rumah. Tidak mudah mengkonversi pembelajaran secara tatap muka menjadi pertemuan digital. Nyata benar adanya bahwa masih banyak dari kita yang gagap teknologi. Dan masih banyak hal lagi yang ternyata pola belajar-mengajar secara digital saat ini tidak memperhitungkan beberapa hal teknis di lapangan. Misalnya, berapa Giga Byte kuota internet yang dibutuhkan setiap hari untuk memperlancar proses belajar mengajar secara digital ini? Dari kuota internet saja sudah bisa dibayangkan berapa banyak uang yang dibutuhkan untuk membayar biaya koneksi internet di rumah.

Belum lagi jika siswa butuh bantuan dari teman, apakah sudah optimal teknologi yang ada dimanfaatkan? Tentu ada juga roso yang berbeda ketika anak-anak berdiskusi dengan teman-temannya secara langsung seperti yang terjadi di situasi normal, mereka ngobrol di dalam kelas, di sela-sela pergantian pelajaran atau di jam-jam istirahat.

Ternyata, masih ada banyak hal yang harus segera kita adaptasikan dalam situasi pandemi Covid-19 ini.

Buku dan Merchandise