The Old Normal

Kita berilmu tapi sedang sangat bodoh. Perekonomian dan kebudayaan lumpuh. Politik negara terjepit oleh dilema-dilema. Manusia hidup di bumi simalakama. Peradaban harus mengalami hard-reset. Mau kreatif keluar dari jepitan tidak ketemu-ketemu caranya.

Derita ummat manusia ini dikasih illustrasi musik dari langit. “Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, manusia ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Allah”. (QS. Nuh 25).

Lantas kita mengeluh kepada Tuhan, dan Tuhan menjawab: “Tidak ada yang ditunggu-tunggu orang kafir selain dari datangnya para malaikat kepada mereka atau datangnya perintah Tuhanmu. Demikianlah yang telah diperbuat oleh orang-orang kafir sebelum mereka. Dan Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang selalu menganiaya diri mereka sendiri”. (QS. An-Nahl 33).

Jadi kita adalah orang-orang kafir. Kafir kepada Tuhan, minimal hidup kita banyak kekufuran kepada-Nya. Meremehkan sunnah-Nya. Menganggap enteng rahmat-Nya. Bermain-main terhadap barakah-Nya. Kurang menyadari pertolongan-Nya, sehingga kurang juga syukurnya. Sekarang dicabut itu semua. Dan kita jadi bodoh sebodoh-bodohnya dan lumpuh selumpuh-lumpuhnya.

Kecuali rakyat Indonesia, yang banyak di antara mereka berlaku “the old normal” sebagaimana biasanya. Tenang-tenang saja. Tetap nggerombol-nggerombol saja. Bahkan marah kepada PSBB yang menurut mereka melanggar Hak Asasi Manusia. Di samping gen mereka memang bandel, banyak yang bilang “hidup mati saya di tangan Allah, bukan Corona”. Seorang Habib menimpali, “yang kena penyakit itu yang tidak sembahyang”. Semoga yang rajin sembahyang tapi sedang berbaring oleh Corona tidak mendengarnya.

Buku dan Merchandise