The Nation of Wakul Ngglimpang

Untuk Mas Ian di Thailand

Pak Ian L. Betts di Gambang Syafaat edisi 27 Juli 2019.
Pak Ian L. Betts di Gambang Syafaat edisi 27 Juli 2019.

Tajuk ini saya tujukan kepada Mas Ian Leonard Betts yang sedang suntuk menempuh “jalan sunyi” di tepian kali pembelah kota Bangkok Thailand. Saya ingin kita belajar dan bercermin kepada bangsa Thailand, satu-satunya bangsa di Asia yang tidak pernah mengalami penjajahan dari Eropa atau sesama bangsa Asia sendiri.

Terakhir bersama mas Ian dan Bu Novia kami berjamaah shalat dhuhur di sebuah Masjid tepi sungai di Bangkok. Di sekitarnya banyak penduduk bangsa Melayu dari Malaysia. Setelah shalat kami ke warung Melayu juga di kampung yang ada Masjidnya itu. Di daerah penginapan kami juga ada Masjid yang semacam, kami subuhan dll di situ, bertemu dengan TKI-2 dari banyak daerah di Indonesia, kemudian makan di warung yang masakannya juga agak Padang atau Jawa.

Mas Ian adalah duta Maiyah untuk menggali ilmu di negeri jiran yang dahsyat itu. Apalagi mas Ian hidup ajur-ajèr dengan rakyat biasa setiap hari. Beliau berangkat ke kantor naik perahu menyusuri sungai. Sehari-hari menikmati makanan rakyat biasa. Tetapi berdasarkan latar belakang hidupnya, Mas Ian terdidik untuk selalu mengamati, mencerap, mempelajari, menganalisa dan menggali ilmu dari yang dialaminya selama hidup di Thailand. Dan kita semua di Maiyah sangat memerlukan oleh-oleh Mas Ian — ilmu, pengetahuan, wawasan, hikmah dan apa saja yang pasti sangat bermanfaat bagi kita semua. Tidak hanya sebagai individu, tapi juga sebagai masyarakat dan sebuah bangsa.

Mas Ian pernah hidup di sejumlah Negara Eropa selain Inggris, pernah di Afrika Utara, dan puluhan tahun hidup dan berkaluarga di Indonesia. Pasti banyak refleksi, komparasi, keasyikan-keasyikan persepsi atas kehidupan di Thailad, lantas dibandingkan atau dicerminkan ke kehidupan keindonesiaan kita. Sangat banyak kesamaan dan ketidaksamaan anatara Thailand dengan Indonesia. Sangat banyak kesamaan yang mestinya tidak sama dan sangat banyak ketidaksamaan yang semestinya bisa sama. Dinamika sejarah pada dan antara keduanya begitu menarik dan kaya untuk dipelajari.

Selama trauma Covid-19 beberapa bulan ini: yang tidak reda adalah gema suara adzan lima waktu. Sejak bertahun-tahun yang lalu berniat atau tidak, sengaja atau tidak, secara naluriah saya meneliti dan “niteni” ekspresi budaya adzan di kampung tampat tinggal saya. Bertahun-tahun keluhan spontan saya begini: “Ummat kita ini menentukan lagu untuk adzan saja tidak ada yang mandiri. Semuanya taqlid, tidak ada yang ijtihad. Notasi adzan yang sedang popular di TV, mereka meniru sepenuhnya. Itu bedanya dengan di Menturo kampung halaman saya.

Sejak saya kecil sampai tua, muadzin di Masjid depan rumah saya selalu mandiri. Sejak zaman Guk Jèn (Zainal) era 1960an, atau Guk Sulkan (Shulhan), Guk Asyik, terutama Guk Nuri (Zainuri) yang istiqamah adzan minimal Maghrib dan Isya sejak 50an tahun silam hingga sekarang, adzannya Guk Nuri kreatif dengan lagunya sendiri. Tetap notasi Arabic, tapi tidak meniru siapapun. Di Menturo, adan dan ibadah adalah kenikmatan pribadi dan sosial. Di Yogya hampir seluruhnya dan se Indonesia pada umumnya — adzan itu seperti budaya pop. Arus dari teve swasta nasional menjadi “Nabi” mereka dalam hal adzan. Lagu adzan mutakhir dari pop-culture Indonesia oleh Yoyok KiaiKanjeng disebut “lagu Barat”. Memang cengkoknya cenderung Arab, tapi tetap di wilayah solmisasi atau doremifasol, yang tandanya adalah: bisa ditirukan oleh Saron KiaiKanjeng. Kalau adzannya Guk Nuri, apalagi Guk Jèn jaman dulu, yang kalau adzan salah satu kakinya bergoyang-goyang — tak bisa Saron KiaiKanjeng membawakannya.

Model analisis dan internalisasi Maiyah mengerti bahwa ini bukan sekadar soal adzan. Ini adalah masalah sikap mental bangsa Indonesia, yang didukung penuh oleh Presiden dan Pemerintahnya di era kapanpun.

Kalau kita kembali ke Mas Ian di Thailand, kalau melihat khasanah-khasanah tradisi di Indonesia, khususnya Jawa, sebenarnya banyak indikator budaya dan karakter manusia kita yang mestinya bisa lebih spesifik dan mandiri dibanding Thailand. Tapi melihat keseluruhan wajah Indonesia, kalau dijajarkan dengan Thailand – kita seperti bangsa yang baru lahir kemarin sore, hidup untuk menjadi buntutnya kebudayaan dunia. Kita menjadi bangsa pengekor, dari Presiden sampai adzan di langgar-langgar desa.

Thailand punya Muay Thai, seni bela diri keras dari Kerajaan Thai. Muay Thai mirip dengan gaya seni bela diri lain dari Indocina, seperti Pradal Serey dari daerah Kamboja, Tomoi dari daerah Malaysia, Lethwei dari daerah Myanmar dan Muay Lao dari daerah Laos. Muay Thai adalah olahraga nasional Kerajaan Thai dan turunan dari bela diri kuno Muay Boran.

Muaythai menjadi acuan beladiri dunia. Para petarung Kick Boxing dunia dan Mix Martial Art, hampir tidak ada yang tidak pernah “kursus” Muaythai, bahkan magang di Thailand beberapa lama. Bisa berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Kalau kita nonton pertandingan UFC, Bellator, Pride, dll — kita bisa menandai petarung ini itu punya dasar Muaythai atau tidak.

Dunia belajar kepada Thailand. “Carilah ilmu sampai ke Thailand”. Kita juga punya “carilah ilmu sampai ke Negeri Cina”, dengan cara membuka gerbang Negara kita selebar-lebarnya untuk dikuasai oleh Cina. Dunia tidak belajar kepada Indonesia, Indonesia yang belajar kepada dunia, setengah-setengah pula. Kita punya pencak silat, tetapi Pemerintah dan kebudayaan masyarakat tidak membangun organisasi yang mengelola aplikasi dan ekspressi keindonesiaan apalagi ke panggung dunia. Produk kita adalah tradisi “tawuran”, banyak tenaga-tenaga kerja kita di luar negeri yang menjadi biang tawuran. Atau paling jauh “Pencak Dor”, itupun tidak direspon, ditata dan didewasakan.

Sehelai di Thailand diwujudkan menjadi industri pariwisata yang menyerap konsumen dunia, satu kwintal padi di Indonesia “wakul ngglimpang segane dadi sak-latar”. Mungkin salah satu hal yang bangsa Thailand mengungguli kita, yang saya rasakan adalah kesungguh-sungguhan hidup. Kecerdasan yang khusyu dalam mengelola kemungkinan-kemungkinan hidup mereka. Tidak kecil kemungkinan saya salah dengan hipotesis itu, maka Mas Ian kita minta memaparkan perbedaan mendasar antara manusia Indonesia dengan manusia Thailand, bangsa dan Pemerintah Indonesia dengan bangsa dan Pemerintah Thailand.

Sumber kreativitas Muaythai diteladani dan ditransfer langsung oleh Raja di zaman Ayutthaya di awal milenium Masehi. Kita punya tokoh-tokoh sakti dalam sejarah, dari Anglingdharma hingga Gadjahmada, tapi sekarang kita menjadi bangsa Muqallidin, bangsa taqlid buta, pengekor, anut grubyug, rubuh-rubuh gedhang. Dari soal adzan hingga bagaimana mengelola tanah air dan Negara. Bangsa yang tidak pernah belajar sehingga mengerti bagaimana memilih pemimpin. Tidak waspada terhadap beda antara arif bijaksana dengan rekayasa citra. Plonga-plongo disangka sederhana. Dungu dianggap kesaktian yang “piningit”. Bahkan hampir tidak seorang pun, meskipun Presiden, yang “waltandzur nafsun ma qaddamat lighad” 50 tahun 100 tahun ke depan. “Lighad” hanya sebatas “setelah saya menjabat, kalau bisa istri saya, adik saya, anak saya, atau pokoknya famili saya”.

Kita yakin kita Jamaah Maiyah bisa menggali dan memetik sangat banyak pelajaran Thailand dari Mas Ian.

Lockdown 309 Tahun