Tajawub Wa Tawakkal Tasammuh Wa Mizan

Corona, 43

Di tengah hari-hari di dunia yang sedang dikuasai oleh Virus Corona, setiap penduduk bumi saling mengepung, saling menuduh, saling tidak mempercayai dan saling menghasut. Tapi juga saling menyembunyikan diri, saling mendoakan, saling mengharapkan dan saling menghibur.

Saling mengepung artinya kita sedang sangat membutuhkan kebersamaan fisik dan hati, tapi tidak mungkin melaksanakannya. Saling menuduh maksudnya kita tidak bisa mengelak dari persangkaan bahwa siapapun sekarang ini bisa menularkan penyakit kepada kita, demikian juga sebaliknya. Saling tidak mempercayai, artinya tidak ada ruang dan waktu di mana kita bisa saling merasa aman satu sama lain, tidak berani bersalaman, bersentuhan, berdekatan.

Saling menghasut artinya berseliweran di sana-sini berita dan informasi yang mencemaskan hati meskipun maksudnya adalah mengajak waspada. Bahwa Indonesia bisa akan harus merelakan 2,5 juta, bahkan sampai 16 juta warganya akan dimakan nyawanya oleh Corona. Bahwa untuk kasus Coronavirus ini Indonesia adalah bom waktu. Sebaliknya banyak juga kabar yang menggembirakan: Ilmuwan Jerman meneliti dan menemukan bahwa suara adzan membuat getaran dan ekplorasi Coronavirus menyusut.

Senada dengan pernah ada penelitian ilmuwan Jepang bahwa komposisi air yang “disuwuk” (sebagaimana yang dilangsungkan hampir di setiap Maiyahan) berubah menjadi penuh kandungan-kandungan positif. Itu mudah dipahami sebagaimana engkau memelihara tanaman atau menggembalakan kambing dengan hati gembira dan penuh kasih sayang, atau dengan perasaan cemberut dan uring-uringan: berbeda pertumbuhan tanaman dan binatang itu.

Walhasil tidak sedikit juga “basyiran”, kabar menggembirakan bahwa sudah ada payung untuk berteduh dari hujan, sudah ada tameng kalau ada anak panah menancap ke badan kita, sudah ada obat penawar kalau ada serangan penyakit. Teman Maiyah Pilot Internasional ketika drop-by di Korea Selatan, berusaha mencari informasi tentang vaksin Corona yang kabarnya sudah diproduksi. Tetapi belum bisa membelinya karena harus pakai resep Dokter.

Semua itu bisa berasal dari seberang benua atau belahan lain dari bumi yang sama. Bisa juga dari tidak terlalu jauh. Bahkan bisa juga dari handai taulan dekat dan terjangkau. Penyair Maiyah Darling Mustofa W. Hasyim mengirim “tahadduts binni’ mah”:

  1. Sebagai ikhtiar taktis teman-teman NM dan Gerbang selama dua minggu ini telah terhubung dengan pihak yang telah melakukan ikhtiar untuk memperbaiki keadaan akibat virus COVID-19.
  2. Pihak itu ahli dan pernah studi mikrobiologi biologi. Kemudian melakukan uji lab bahwa pendekatan mikrobiologi bisa menjadi alternatif untuk menstabilkan dan melakukan recovery tubuh. Jadi bukan pendekatan fisika molekuler berbasis farmasi kimiawi, yang selama ini jadi pilihan banyak orang.
  3. Hasil uji lab mikrobiologi ini berupa sekelompok bakteri probiotik (kesatuan bakteri yang kompak dan stabil) yang bisa menjinakkan virus itu, kemudian diproduksi dan disebarkan ke masyarakat secara baris pendem, termasuk di lingkungan NM dan Gerbang. Tim-nya termasuk Lik Trip dan dokter Ardi.
  4. Selama ini yang disentuh adalah teman teman yang termasuk di zona merah. (Mustofa W Hasyim).

Lebih dari itu, sebenarnya diam-diam setiap individu dan keluarga, masing-masing memiliki sumber-sumber dari dalam dirinya, pikiran dan pengetahuannya, ibadah dan kekhusyukannya — bahwa kita punya kemungkinan untuk tidak dihancurkan. Kita menerapkan tajawub, optimisme dan pikiran positif atas hidup kita masing-masing bersama keluarga, yang di dalamnya ada “Sohibu Baiti”, sementara kita bersikap siaga waspada terhadap apapun yang di dan dari luar diri kita.

Tajawub adalah pendayagunaan langkah berpikir positif terhadap kondisi hari-hari kita bersama keluarga, dilapis-tebali oleh langkah tawakkal bahwa ada Allah subhanaHu wa ta’ ala yang penuh kasih sayang yang melindungi kita bersama keluarga — apapun saja yang sedang terjadi dalam kehidupan di dunia fana ini.

Sesungguhnya kalau ditanya apakah kita berani meneruskan Maiyahan massal seperti biasanya? Kalau soal berani, siapa takut. Tetapi multiefek sosialnya yang harus dipertimbangkan. KiaiKanjeng beberapa kali berencana “nekad” latihan di Kadipiro, tetapi saya respons “Nanti masyarakat Kadipiro, Pak RT, Pak RW, kan mau tidak mau harus mengamankan warganya sehingga mungkin latihan KK akan dibubarkan”. Ini bukan soal takut atau berani, tetapi keseimbangan dan kemashlahatan sosial.

Ini bukan soal “Berani Hidup, Tak Takut Mati, Takut Mati Jangan Hidup, Takut Hidup Mati Saja”. Ini pengelolaan “tasammuh wal mizan”, tenggang rasa kemasyarakatan dan keseimbangan lingkungan. Jamaah Maiyah insyaallah hidup berbekal tawakkal, tetapi tidak sok tawakkal. Insyaallah Jamaah Maiyah kendel-kendel, tetapi menjaga diri jangan sampai “kemendel”. Jamaah Maiyah membiasakan diri membangun kedaulatan dan kekuatan, tetapi tidak boleh menerjang pagar “adigang adigung adiguna”. *****

Buku Lockdown 309 Tahun Buku Lockdown 309 Tahun