Tahun Penuh Pembelajaran: Is That Healing or A Chance?

Foto: Adin (Dok. Progress)

Tinggal menghitung jam, kalender tahun 2020 sudah tidak akan terpakai lagi. Tidak sampai 1 x 24 jam, lembaran kalender baru akan menemani kita mengawali tahun dua ribu dua puluh satu. Lantas, apa pasal kalau tahun baru?

Sebelumnya, dua ribu dua puluh ini, barangkali menjadi tahun yang cukup ‘mengesankan’ bagi kita semua. Semesta memberikan kita kejutan akan kehadiran makhluk baru, yang masih sangat asing untuk kita. Virus Corona, yang tepat satu tahun lalu dideteksi pertama kali muncul di daerah Wuhan, China. Kehadirannya di tengah hidup kita, membuat kita masyarakat dunia kelimpungan bagaimana menyikapinya. Karena kita memang belum punya banyak data tentangnya. Kita belum terlalu mengenal Corona.

Sebelum pandemi menghampiri, tidak sedikit orang menyambut tahun baru dengan hal-hal yang berbau euforia. Pesta kembang api, melancong, atau apalah yang berbau hiburan dan liburan. Meskipun begitu, ada juga yang memanfaatkan momen tahun baru ini untuk refleksi. Mengevaluasi apa yang sudah dilalui selama satu tahun ini, dan apa sekiranya yang akan menjadi goals di satu tahun berikutnya nanti.

Prediksi untuk Waspada

Kadang kala, kita sebagai manusia memang butuh suatu momentum tertentu untuk mengubah sesuatu. Dan barangkali, inilah momentum itu.

Bisa jadi, akhir tahun ini sama halnya dengan akhir tahun lalu. Kita merenungi kembali apa yang sudah terlewati, kemudian merancang untuk menggenapi apa yang belum tereksekusi. Pun sekarang, kita kembali merenungi, sembari merancang, apa sekiranya yang akan kita lakukan untuk mencapai tujuan-tujuan jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang di hari kemudian.

Berbicara tujuan-tujuan yang sempat kita rancang di akhir tahun lalu, untuk diupayakan tercapai di tahun 2020, apakah sudah tercapai semua? Apakah sudah terlaksana semua aktivitas-aktivitas yang telah kita agendakan? Barangkali, sembilan puluh sembilan koma sekian persen dari kita belum bisa mencapai semua yang telah kita rencanakan secara sempurna. Di samping karena memang tahun 2020 ini sedikit berbeda karena kehadiran Corona yang serba ‘tiba-tiba’, juga karena secara teori, sangat jarang prediksi manusia berjalan 100% sempurna tanpa cela. Selalu ada biasnya. Sekalipun itu hanya nol koma sekian persen saja.

Kehadiran Corona seakan menjadi pengingat, bahwa seperti apapun akuratnya formula perencanaan dan prediksi kita, akan selalu ada faktor X yang berada di luar kendali kita sebagai manusia. Ibaratnya, dalam meramalkan sesuatu kita butuh data-data masa lalu, untuk kemudian dilihat polanya, dan besar kemungkinan, pola tersebut akan kembali terulang di masa berikutnya. Hanya saja, kita lupa kalau ada data ekstrem yang sangat jarang terjadi. Seperti halnya kehadiran wabah ini, yang bisa saja hanya terjadi ratusan tahun sekali. Tentu saja, kehadiran data ekstrem wabah ini, bisa seketika menghancurkan formula prediksi yang sudah dibuat tanpa memperhitungkan kemungkinan kehadirannya, misalnya.

Sekalipun tidak ada data ekstrem, prediksi yang kita buat juga belum tentu sepenuhnya akurat. Bisa saja ada faktor-faktor lain yang sebenarnya mempengaruhi suatu kejadian yang kita prediksikan, tapi faktor tersebut luput dari pandangan maupun pengetahuan kita.

Kalau begitu, apa gunanya melakukan prediksi jika ujung-ujungnya semua tetap tidak seratus persen berfungsi? Prediksi ibarat kita memasang kuda-kuda. Kita bersiap agar lebih waspada. Kita merancang agar lebih terarah. Meskipun tetap harus dengan kesadaran, prediksi maupun perencanaan kita bukanlah sesuatu yang mutlak kebenarannya. Akan ada banyak kemungkinan lain yang sangat bisa saja kita temui nantinya.

Kesadaran Berserah

Setidaknya, kalau kita sudah ada gambaran perencanaan, kita tidak memasuki ‘hutan belantara’ dengan tangan hampa.

Bersiap dengan melakukan prediksi serta perencanaan-perencanaan, dan kesadaran bahwa prediksi kita bukanlah suatu hal yang mutlak kebenarannya, bisa jadi justru merupakan sebuah kombinasi yang pas. Tawakkal, barangkali kalau saya boleh menyebutnya. Kita berusaha semampu kita, tapi juga tetap sadar, bahwa akan tetap ada ‘Kekuatan’ di luar kendali kita yang tentu saja Maha Kuasa atas segalanya.

Berusaha, tapi juga berserah. Berharap, tapi tidak menuntut. Mengharapkan yang terbaik, tapi juga belajar siap akan hal yang “buruk”.

Di samping prediksi yang tepat, hal lain yang juga berperan terhadap suatu keberhasilan adalah eksekusi. Apa gunanya prediksi dan perencanaan, jika kita tidak mengeksekusi sebagaimana yang telah direncanakan.

Barangkali, di sinilah titik yang bisa kita evaluasi. Atas apa yang sudah terjadi, apakah sudah sesuai yang diharapkan? Kalaulah belum, dari sisi mana sekiranya yang paling berpengaruh akannya. Keputusan akan perencanaan kita, ataukah justru eksekusinya?

Lagi-lagi, ini bukanlah sesuatu yang pakem. Seperti halnya yang kita hadapi satu tahun ini. Segala hal ‘terpaksa’ harus berjalan di luar dugaan. Kehadiran Corona ‘memaksa’ kita untuk berpikir dan bertindak cepat. Bisa saja, apa yang sudah kita lakukan berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat karena harus mengikuti pola baru yang ada. ‘Memaksa’ diri untuk menyesuaikan dengan keadaan, agar tetap bisa bertahan di masa yang penuh ketidakpastian.

Apapun dan bagaimanapun itu, yang jelas, perjalanan waktu yang sudah lalu telah mengajarkan dan mengingatkan kita kembali akan banyak hal. Sebagai manusia, sebagai makhluk ciptaan-Nya, kita hanya bisa berusaha semampu kita, sembari mengembalikan semua hanya kepada-Nya.

Sayup-sayup masih teringat jelas janji-Nya, bahwa bersama kesulitan akan selalu ada kemudahan. Bahwa tidak diturunkan-Nya suatu coba, melainkan dipersipakan pula jalan keluarnya.

Wahai Yang Maha Pengasih, apakah waktu ini adalah jalan penyembuhan, ataukah justru ladang kesempatan. Apapun itu, semoga Engkau tetap berkenan memberikan petunjuk, memberikan anugerah langkah yang senantiasa Engkau ridla, yang mendekatkan kami kepada-Mu, yang semakin memperkuat iman dan cinta kami kepada-Mu, serta yang memberikan maslahah untuk kami, agar tetap bisa kami setia pada janji penghambaan kepada-Mu di tengah situasi yang kami semakin tidak tahu akan itu.

Lainnya