Tadabbur Teman-Teman Kita Untuk Quiz Ular Mbah Nun (3)

Ha Expression

Merespon dari pertanyaan-pertanyaan yang dituliskan di quiz ular..

Yang pertama jika ular itu ialah ular yang dilepaskan oleh penyihir sewaan fir’aun maka bisa dipastikan ular-ular itu tidak nyata adanya itu hanyalah ilusi yg dinyatakan… jika itu covid-19 maka yg jadi pertanyaan ialah nyatakah ia? Jika ia dianggap nyata, maka yang patut dipertanyakan berapa banyak korbannya? Apakah angka-angka yang selama ini dipaparkan itu benar? Siapa yang memberitakan angak-angka itu? Amanah ia?. Butuh penelitian yang nyata atas sebuah kebenaran. Misal dari angaka-angka kematian, berapa % kah kenaikan angka kematian sebelum dan sesuah adanya covid-19 dari tiap2 daerah? Wajarkah kenaikan angka2 itu? Itu baru sebagian kecil data yg mungkin bisa dijadikan pertanyan, selain itu melihat kondisi di masyarakat yang sesungguhnya maka jelas terlihat fakta yang sesungguhnya… jadi yang paling dibutuhkan ialah bukan cara menangani covid-19 sebagaimana selama ini berlangsung melainkan menangani isunya atau bisa dikatakan “melemparkan tongkat dan jadilah ia ular besar yg melahap ular-ular dari penyihir-penyihir sewaan fir’aun”.

Dan dari opsi b maka yang jadi pertanyaan apa yang dilahap dari ular jelmaan tongkat musa? Selama ini kita semua melihat bahwa keingkaran, kepalsuan, keangkuhan, dan juga penyakit-penyakit jiwa lainnya ini sedang menguasai kehidupan manusia, tapi faktanya covid-19 tidak menyembuhkan dan malah menambah panjang daftar penyakit jiwa laiinnya. Apakah musa sedemikian bodohnya sehingga melemparkan sesuatu yg justru memperparah keadaan sakit jiwa manusia? Saya rasa tidak. Meskipun saya sendiri menyadari bahwa ongkos dari sebuah perubahan ialah kehancuran, minimal menghancurkan kebiasaan lama dan melakukan kebiasaan2 baru… namun perubahan yang terjadi saat ini apakah menuju kebaikan yang adil? Saya rasa tidak, yang terjadi malah sebaliknya, kebiasaan baru yg dikatakan “new normal” ini malah justru semakin menjauhkan dari rasa keadilan itu sendiri…

Dari pertanyaan ke 2 “peganglah ia dan jangan takut, kami akan mengembalikannya kepada keadaan semula”.

Maka saya mempertanyakan “kebenaran apa yang kamu pegang dari permasalahan ini?”

“Musa memegang kebenaran tongkangnya yang ia lemparkan” sedangkan kita? Kebenaran apa yang kita pegang tanpa rasa takut?

Mohon maaf tapi tetap akan saya katakan bahwa sesungguhnya kita tidak benar-benar memiliki kebenaran yang kita pegang, karna selama ini kita terjerat oleh rasa “kekhawatiran”.

Selama ini kekhawatiran dianggap sebagai bukti adanya cinta, sehingga kekhawatiran selalu dijadikan dasar pencarian sebuah kebenaran, yang pada akhirnya kekhawatiran yang kita dapatkan bukan kebenaran. Kekhawatiran itu mengikat, sedangkan cinta itu membebaskan… selama cinta disalahartikan maka selamanya kebenaran tidak akan menjadi benar-benar nyata.

Aku berharap maiyah menemukan kebenaran yang ia pegang sebagaimana musa “kebenaran yang melahap kebenaran penyihir-penyihir fir’aun” yang dilemparkan ke lapangan/di medan laga atau bisa dikatakan di kehidupan secara umum, yang dipegang atau dijalankan tanpa rasa takut…

Kenapa harus tanpa rasa takut? Karena pada dasarnya sebuah kebenaran akan selamanya bertabrakan dengan kebenaran yang bertentangan, maka sangat jelas kehancuran adalah sebuah kepastian. Kehancuran tidak terelakkan, dibiarkanpun juga akan hancur karena kebenaran yang selama ini dibenarkan sangat2 jelas dan nyata menghancurkan, maka sangat jelas opsinya memegang kebenaran tanpa rasa takut adalah sebuah jalan yang semestinya, meskipun ongkosnya adalah kehancuran tapi setidaknya kita berkesempatan merasakan kebenaran yang benar2 kita yakini, bukankah itu lebih baik? Takut dengan kehancuran tidak akan menjauhkan dari kehancuran itu sendiri.

Dan dari pertanyaan ke 3, yang berdasakan firman-Nya “dan kepitkanlah tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia ke luar menjadi putih cemerlang tanpa cacad, sebagai mukjizat yang lain pula”.

Bagiku itu adalah firman kebenaran… tangan yang dikepit di ketiak pasti dia dikeluarkan tanpa cacad, berbeda jika tangan yang di kepit ke pintu maka ia keluar dengan cacad minimal lecet/memar… xd

Karena pada dasarnya kebenaran Tuhan pasti nyata.

Terima kasih


Rizal Mashuri, Pasuruan

Berikut saya kirimkan yang saya ingat, rasakan, dan tdabburi dari Quiz Ular

Jawaban pertanyaan pertama: A

Yang merayap cepat dari covid adalah ular nabi Musa. Saat covid belum jadi wabah di China, yang saya rasakan adalah kekhawatiran saya akan perang dunia ke 3. Peristiwa yang saya ingat sebelum covid adalah:

  1. Terbunuhnya Jenderal Aassem Solaimani oleh drone Amerika yang memicu serangan balasan dan kekhawatiran warga AS akan serangan balasan rudal balistik Iran ke negara mereka.
  2. Sengitnya hubungan Amerika — China karena persaingan memperebutkan pengaruh di dunia. Amerika dalam ini diwakili oleh Trump yang senang menebar psywar lewat Twitter.
  3. Perlakuan buruk China ke etnis Uighur. Sehingga sosmed saat itu menganggap kalau corona adalah hukuman Tuhan untuk China.
  4. Drama perang minyak antara Saudi dan Rusia
  5. Heboh unicorn-decacorn di Indonesia yang output akhirnya sebenarnya akan membuat bangsa hanya akan menjadi “negara jajahan” dari “VOC model baru”. Perusahaan global ini pada saatnya akan membuat kecanduan baru dan membuat usaha kecil makin mengecil “bargaining power”nya dan akan didikte oleh perusahaan besar itu.

Beberapa drama diatas menjadikan negara dan rakyat kecil seakan hanya menjadi seperti peribahasa “Gajah bertarung lawan gajah, pelanduk mati di tengah-tengah”. Ular Firaun saling berebut pengaruh jadi yang paling sakti dan bersiap melawan ular Musa. Hikmah covid adalah membuat ular raksasa global terhambat laju penguasaan atas ekonomi dan sumber daya bangsa (secara tanpa disadari oleh bangsa itu).

Di sisi lain, ular bernama covid itu ternyata memunculkan pembeda yang jelas antara pemimpin yang sungguh-sungguh juga kompeten memimpin bangsa di tengah krisis dengan pemimpin yang abai, asal-asalan, dan pengecut.

Pertanyaan kedua: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula”.

Kira-kira maksudnya, ular covid memang sangat menakutkan. Tapi tetap saja ada “obatnya” yaitu senantiasa menjaga ketahanan dan kekebalan tubuh. Mungkin efeknya kita akan sakit, tapi tidak sampai meninggal. Ketakutan seseorang akan membuat daya tahan dan daya juang sel akan menurun sehingga bisa menyebabkan kematian lebih cepat. Ular covid tidak sedemikian besar efeknya daripada ular penguasaan ekonomi oleh perusahaan global terhadap masyarakat di satu negara.

Pertanyaan ketiga:

Tangan adalah simbol kemandirian seseorang. Adanya covid akan membuat individu dan masyarakat (seharusnya) akan menjadi lebih mandiri dengan memaksimalkan potensi lokal-kolektif berdasarkan asas kepercayaan satu sama lain. Melipat tangan ke ketiak berarti menemukan ulang kemandirian pada pangkal/asalnya, yaitu berbasiskan kelompok kecil yang saling mengenal, berdekatan, dan saling percaya.

Pada saat membuka Al-Qur’an sesuai saran Mbah Nun, saya ketemu ayat QS Hud 8, 9, 10, 11.

Dan sesungguhnya jika Kami undurkan azab dari mereka sampai kepada suatu waktu yang ditentukan. niscaya mereka akan berkata: “Apakah yang menghalanginya?” lngatlah, diwaktu azab itu datang kepada mereka tidaklah dapat dipalingkan dari mereka dan mereka diliputi oleh azab yang dahulunya mereka selalu memperolok-olokkannya.

Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih.

Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata: “Telah hilang bencana-bencana itu daripadaku”; sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga, kecuali orang-orang yang sabar, dan mengerjakan kebajikan, mereka memperoleh ampunan dan pahala yang besar.

Terimakasih

Rizal Mashuri
Jamaah Maiyah Pasuruan

Lainnya

Buku dan Merchandise