Tadabbur Asmaul Husna di Kenduri Cinta

Liputan Singkat Majelis Ilmu Kenduri Cinta Jakarta, Selasa, 14 Januari 2020

Seharusnya, sudah tidak menjadi pertanyaan lagi kenapa Kenduri Cinta dilaksanakan tidak di Jumat pekan kedua pada bulan Januari 2020 ini. Apa sebab? Karena faktanya, jamaah tetap antusias untuk datang ke Plaza Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta tadi malam (14/1).

Membuka edisi tahun 2020, Kenduri Cinta dilaksanakan secara anomali dari pakem yang biasanya terselenggara. Bukan tanpa sebab Kenduri Cinta bergeser hari pelaksanaannya. Jumat pekan lalu, sehari setelah Maiyahan di Padhangmbulan seperti yang terjadwal biasanya adalah Maiyahan di Bangbang Wetan, Surabaya. Sehari setelah Bangbang Wetan, Mbah Nun dan KiaiKanjeng dijadwalkan Sinau Bareng dengan Bonek dan Bonita di Stadion Gelora Bung Tomo. Sementara Jumat pekan ini, bertepatan dengan tanggal 17, sudah terjadwal Maiyahan di Mocopat Syafaat, Kasihan, Bantul, Yogyakarta.

Penggiat Kenduri Cinta memilih untuk menggeser hari penyelenggaraan Maiyahan. Tidak mengikuti pakem Jumat kedua. Menggeser di hari Selasa, dan sebenarnya bukan sesuatu hal yang baru. Pada 2014 silam, perayaan 14 tahun Kenduri Cinta diselenggarakan di hari Senin, atas alasan yang sama, karena ada agenda Maiyahan di tempat lain.

Inilah Maiyah. Penggiat Kenduri Cinta menyadari bahwa kita hidup di dunia tidak sendirian. Pun dengan organisme Maiyah, ada 60 titik lebih Simpul Maiyah yang ada saat ini. Penggiat Kenduri Cinta selalu menghormati Simpul Maiyah lain, terutama 4 Simpul induk selain Kenduri Cinta: Padhangmbulan, Mocopat Syafaat, Gambang Syafaat, dan Bangbang Wetan.

Terbukti, antusiasme jamaah sama sekali tidak berkurang bila dibandingkan Kenduri Cinta biasanya yang diselenggarakan di hari Jum’at. Maiyahan di Taman Ismail Marzuki ini sudah terasa menjadi rumah singgah bagi jamaah Maiyah di Jakarta. Pada akhirnya, mereka telah membuktikan meskipun diselenggarakan di hari Selasa pun tidak masalah.

Diskusi pun berlangsung interaktif sejak sesi Prolog dimulai. Maiyahan selalu menjadi panggung dengan seribu podium. Tidak ada podium secara fisik seperti acara resmi kebanyakan, tapi Maiyahan selalu memberi ruang bagi siapa saja untuk berbicara.

Avenger Almighty, sebuah tema yang diangkat Kenduri Cinta kali ini. Sebenarnya, tema ini hanya terjemahan dari salah satu Asmaul Husna; Al Muntaqim. Allah Yang Maha Pemberi Balasan.

Mbah Nun sempat memberi bekal beberapa poin yang kemudian diperdalam pada Mukadimah Kenduri Cinta edisi Januari 2020 ini. Ada banyak sudut pandang. Misalnya, bagaimana sebenarnya policy Allah dalam menerapkan mekanisme pembalasan? Kapan dan atas pertimbangan yang seperti apa balasan dari Allah itu terwujud? Kita semua mengenal dan mungkin juga hapal ayat Al Qur`an: Faman ya’mal mitsqoola dzarrotin khoiron yaroohu, wa man ya’mal mitsqoola dzarrotin syarron yarohu.

Terkadang, sebagai manusia selalu ada rasa penasaran, ketika melihat kedlaliman tetapi seolah-olah Allah tidak kunjung melakukan pembalasan terhadap kedlaliman yang terjadi. Kita mungkin mengalami, bergaul dengan orang yang sangat baik akhlaknya, mulia perangainya, tetapi ia diberi usia hidup yang pendek. Sementara yang berperilaku jahat, justru dipanjangkan usianya oleh Allah. Apakah ini juga rumusan Allah yang saklek? Tentu saja tidak.

Mbah Nun tadi malam mengajak jamaah mentadabburi Asmaul Husna. Sesi workshop singkat pun dilaksanakan. Mbah Nun meminta 3 kelompok perwakilan jamaah, kemudian diberi tugas masing-masing mendata 5 sifat Allah dalam Asmaul Husna, kemudian dari 5 sifat itu, masing-masing kelompok membuat pertanyaan yang berkaitan dengan Asmaul Husna yang mereka pilih.

Di Maiyah, kita mempelajari bahwa orang yang kreatif adalah orang yang pandai membuat pertanyaan. Sesi workshop ini secara langsung melatih jamaah Maiyah di Kenduri Cinta untuk membuat pertanyaan. Misalnya, salah satu Asmaul Husna yang kita kenal adalah Al Malik. Pertanyaan yang muncul dari perwakilan kelompok tadi adalah, apakah Allah selalu berlaku adil atas kekuasaan yang Dia miliki?

Mbah Nun kemudian merespons dengan melempar pertanyaan balik; apakah ada kewajiban Allah untuk berbuat adil kepada makhluknya? Dari pertanyaan, muncul pertanyaan yang baru, yang pada akhirnya melahirkan jawaban yang baru dari pertanyaan tersebut. Konsep pembelajaran ini sudah biasa kita lakukan di Maiyahan. Bahwa untuk menemukan jawaban atas sebuah pertanyaan, seringkali justru terbantu ketika mendapat pertanyaan selanjutnya. Bahkan terkadang jawaban yang kita dapatkan lebih komprehensif dan lebih mendalam.

Semalam, hadir juga Ustadz Noorshofa, seorang Kyai dari Jakarta Utara yang sudah sangat akrab dengan Kenduri Cinta. Sudah cukup lama Ustadz Noorshofa tidak hadir di Kenduri Cinta. Alhamdulillah, tadi malam beliau turut bergabung dan mewarnai khasanah ilmu di Kenduri Cinta.

Buku Lockdown 309 Tahun