Memperingati 40 Hari Wafat Syaikh Nursamad Kamba

Syaikh Muhammad Nursamad Kamba: Hamba yang Disembunyikan

Kenduri Cinta, Oktober 2019. Foto: KC.

Imam Junaid Al-Baghdadi pernah mengutarakan, “Allah menyembunyikannya dari segala sesuatu, dan Allah menghidupkannya hanya untuk diri-Nya”. Kalimat itu Ia ungkapkan sebagai wujud ketakdzimannya kepada salah satu gurunya yang bernama Muhammad Al-Qashshab. Karena, bagi Imam Junaid, Muhammad Al-Qashshab adalah orang yang melakukan segala sesuatu hanya karena Allah. Kini kalimat yang serupa saya utarakan kepada guru saya, orang tua saya, Syaikh Muhammad Nursamad Kamba: Allah menyembunyikanmu dari segala sesuatu, dan Allah menghidupkanmu hanya untuk diri-Nya. Bagi saya Syaikh Kamba adalah seorang hamba yang benar-benar menghabiskan hidupnya hanya untuk mengabdi kepada Tuhannya.

Sedih rasanya, pada hari Sabtu tanggal 20 Juni 2020 lalu, pukul 01.00 dini hari Allah benar-benar “menyembunyikan” Syaikh Kamba dari kita semua. Di sepertiga malam itu, sekitar jam 3 dini hari handphone saya berdering. Mas Irfan putra tertua Syaikh Kamba dengan nada tersendat disertai tangisan memberi kabar Syaikh Kamba meninggal dunia. Saya kaget tentu saja, guru yang sekaligus sudah saya anggap sebagai orang tua sendiri kini pergi untuk selama-lamanya. Tanpa perlu pikir panjang, setelah shalat subuh, saya segera meluncur dari Bandung ke Jakarta, menuju rumah duka di Kampung Dukuh Jakarta Timur.

Sesampainya di rumah duka, dengan tubuh yang gemetar saya masuk ke rumah dan melihat Bu Fatin istri Syaikh Kamba duduk terpaku di samping jenazah Syaikh seraya bertanya, “siapa?” Saya langsung melepas masker dan menjawab, “Maulani, Bu.” Sambil menangis Bu Fatin berkata, “Buya sayang Maulani.” Ketika itu, saya tidak bisa menahan air mata, saya menangis.

Perjumpaan awal saya dengan Syaikh Kamba terjadi pada 2013. Ketika duduk di bangku perkuliahan, perjumpaan itu selayaknya dosen dan mahasiswa ketika di kampus. Pada bulan Mei 2016 saya ditunjuk sebagai ketua pelaksana HARLAH Ke-3 CSSMoRA (salah satu komunitas mahasiswa di UIN Bandung). Agenda yang setiap tahun digelar dengan menyelenggarakan sekian rentetan acara dalam beberapa hari. Agenda tahunan ini dipuncaki dengan acara Ngaji Bareng Syaikh Kamba dan Mbah Nun. Saat itulah intensitas komunikasi dan perjumpaan saya dengan Syaikh mulai terjalin “mesra”. Alhamdulillah berkat bantuan Syaikh Kamba dan segenap Civitas Akademika UIN Bandung tentunya, acara ini telah terlaksana empat tahun berturut-turut hingga tahun kemarin.

Di penghujung 2017, Syaikh Kamba sering meminta saya untuk menemani beliau mengajar di kampus UIN Bandung. Justru ini merupakan sebuah keistimewaan yang luar biasa bagi saya, dan patut saya syukuri kepada Allah Swt. Setiap selesai mengajar, Syaikh selalu mengajak saya ke rumah beliau, momen inilah saya manfaatkan untuk menggali lebih dalam pemikiran beliau. Saat itu, meskipun saya sudah tidak mengikuti kuliah Syaikh Kamba secara langsung di kelas, tetapi saya justru mendapatkan banyak ilmu dari beliau.

Beliau Syaikh Kamba yang menjelaskan bahwa tasawuf bukanlah sekumpulan teori yang harus dihapal, buku yang harus dibaca, atau disiplin ilmu yang mesti memiliki epistemologi dan metodologi. Melainkan lebih dari itu, tasawuf merupakan alat atau metode untuk menghamba secara totalitas kepada Allah Swt agar terjadi interaksi yang baik dan mesra antara Tuhan dan hamba.

Syaikh selalu memberi pengertian baru mengenai keilmuan Islam, seperti halnya konsep “syirik”. Beliau memulai dengan firman Tuhan, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain itu…” (Q.S An-Nisa’:48). Menurut beliau, syirik bukanlah menyembah berhala, memberi sesajen, dan sejenisnya. Akan tetapi, syirik (menyekutukan Tuhan) ialah berbuat kejahatan dan curang kepada orang lain dengan mengatasnamakan Tuhan. Dalam hal ini Allah tidak mau ikut campur, tidak akan mengampuni kesalahan tersebut sebelum mendapatkan maaf dari orang yang tersakiti.

Bagi Syaikh perbuatan orang-orang Mekah dalam menyembah berhala bukan merupakan perbuatan syirik. Karena, dalam keyakinan mereka (orang-orang Mekah) Al-Lata dan Al-Uzza (berhala) bukanlah Tuhan mereka, melainkan sebagai perantara menuju Tuhan. Oleh karena itu, Syaikh berpandangan bahwa sebenarnya yang ditentang oleh Nabi bukanlah pengultusan terhadap Al-Lata dan Al-Uzza. Tetapi yang ditentang oleh Nabi adalah tradisi jahiliyah masyarakat Mekah yang saling menindas satu sama lain.

Suatu hari, Syaikh Kamba pernah menceritakan kegelisahannya tentang kesalahpahaman para kaum akademisi tentang Islam dan Tasawuf, di mana mereka beranggapan bahwa tasawuf merupakan bagian atau aspek dari pengetahuan Islam, tetapi bagi Syaikh Kamba tasawuf adalah inti Islam itu sendiri. Begitu juga tentang kesepakatan kalangan pemerhati tasawuf yang menyepakati dan meyakini bahwa puncak keemasan tasawuf adalah pada abad ke 3-4 H/9-10 M. Lagi-lagi Syaikh Kamba memiliki pandangan lain. Bagi Syaikh Kamba, kehidupan Nabi Muhammad Saw merupakan puncak kehidupan sufistik, terutama pada periode Madinah.

Satu hal yang mungkin orang banyak tidak ketahui tentang background pemikiran tasawuf Syaikh Kamba. Dalam menyelesaikan studi S3-nya di Universitas Al-Azhar Kairo, Syaikh Kamba menulis disertasi yang beliau beri judul: “Nadzhoriyah Al-Ma’rifah Indal Junaid Al-Baghdadi (Konsep Ma’rifat Dalam Pandangan Imam Junaid Al-Baghdadi)”. Beliau menulis disertasi tersebut pada 1994. Beliau menceritakan banyak pengalaman spiritual yang beliau alami ketika menulis disertasi ini. Salah satunya adalah berkat bimbingan Mursyid beliau, Syaikh Diyauddin Al-Kurdi, tanpa disadari dengan mudahnya Syaikh Kamba bisa menuangkan pemikiran tasawuf Imam Junaid dalam disertasinya, layaknya air yang sedang mengalir. Syaikh Kamba merasakan betul kehadiran Imam Junaid ketika beliau menuliskan disertasi ini.

Syaikh Kamba juga menceritakan, betapa kagetnya beliau ketika salah satu dari penguji disertasi ini seakan-akan tidak percaya kalau Syaikh Kamba yang menulis, karena orang Arab sekalipun mungkin tidak bisa menulis karya sebaik dan sebagus disertasi yang beliau tulis. Akan tetapi, Syaikh bisa meyakinkan penguji dengan penjabaran beliau yang sangat gamblang dan detail tentang pemikiran tasawuf Imam Junaid dalam sidang munaqosyah-nya. Syaikh Kamba pernah mengatakan kepada saya, buku “Kids Zaman Now Menemukan Kembali Islam” merupakan kesimpulan dari disertasi beliau.

Bagi Syaikh Kamba pengalaman beliau ketika menulis tentang konsep Ma’rifat Imam Junaid merupakan contoh dari Ma’rifat itu sendiri: Allah telah mengambil alih diri hambanya, serta mengantarkannya untuk mengenali diri-Nya. Sama halnya seperti pengalaman Syaikh dengan Imam Junaid, di mana Imam Junaid telah “mengambil alih” diri Syaikh ketika menulis tentang dirinya. Tidak mudah menjelaskannya, tetapi memang demikianlah yang diceritakan oleh Syaikh Kamba kepada saya.

Selama mengajar di jurusan Tasawuf Psikoterapi UIN Bandung, Syaikh juga sering mengutarakan, “Kalau ingin memahami ilmu tasawuf secara utuh, maka pelajarilah Imam Junaid Al-Baghdadi”. Tentu bukan tanpa alasan mengapa Syaikh Kamba menyatakan demikian. Sebagai seorang ahli tasawuf merekomendasikan seseorang untuk dipelajari tentu atas dasar pertimbangan yang sangat matang.

Satu momen penting dan tidak pernah saya lupakan adalah momen saat beliau pernah menyampaikan sebuah pesan kepada saya, ketika kami sama-sama membersihkan rumah beliau di Bandung, “Mul, saya ingin menulis tiga buku lagi. Pertama, buku “Tuhan Maha Asyik jilid 2”. Kedua, buku tentang teori-teori tasawuf, agar bisa digunakan Mahasiswa Tasawuf Psikoterapi untuk menulis skripsi. Ketiga, Tafsir Al-Qur’an, agar orang-orang Islam bisa memahami betul maksud dan makna Al-Qur’an. Kalau ketiga buku ini sudah selesai, jika Tuhan ingin memanggil saya, ya panggillah.”

Alhamdulillah dua buku sudah selesai beliau tulis: “Tuhan Maha Asyik jilid 2” sudah terbit, dan buku tentang teori-teori tasawuf yang beliau beri judul “Mencintai Allah Secara Merdeka: Buku Saku Tasawuf Praktis Pejalan Maiyah”. InsyaAllah dalam waktu dekat akan diterbitkan. Tapi Allah berkehendak lain, Syaikh belum sempat menulis buku Tafsir Al-Qur’an. Allah memanggilnya terlebih dahulu. Mungkin ini isyarat dari Allah untuk saya dan kita semua agar terus belajar dan berkarya.

Syaikh Muhammad Nursamad Kamba adalah seorang hamba yang disembunyikan oleh Allah dari segala sesuatu, dan Allah menghidupkannya hanya untuk diri-Nya.

Terima kasih Syaikh atas bimbinganmu selama ini.

Ya Rahman Ya Rohim Irhamhu

Lahul Fatihah….

Buku dan Merchandise