Syafaat Digital Antara Gemolong-Chicago

Sepekan lalu, seseorang nun jauh di sana menghubungi saya. Bertukar kabar dan sharing panjang lebar. Mbak Lien namanya (istri mas Jamal Redaktur Maiyah). Beliau saat ini sedang menempuh pendidikan S3 di negeri Paman Sam.

Obrolan saat itu berlangsung hangat. Cair dan diselingi tawa. Membahas konsep Tadabbur yang diajarkan Mbah Nun (seputar Tadabbur Quran dan Tadabbur Daur) berikut aktualisasi dalam realitas kehidupan sehari-hari. Kurang lebih enam puluh menit kami berbincang seru. Saling mencari dan ‘mencuri’ ilmu.

Keesokannya, sebaris tanya mengusik. Seolah menyentil, seraya menyingkap tabir. Sik sik. Bukankah orang yang menelepon saya via WA itu tengah berada di Amerika? Sedangkan saya sendiri ada di kota kecil Gemolong, kawasan Kabupaten Sragen Provinsi Jawa Tengah wilayah negara Indonesia.

Tapi kenapa sambungan telepon kami malam itu lancar. Suaranya jelas, dan tidak magrek-magrek. Ini tidak biasa teman-teman. Jangankan telepon jarak jauh Indonesia-Amerika. Menelepon teman dalam satu wilayah (Gemolong) saja kadang suaranya kemresek. Dan kerap putus-nyambung.

Lha ini beda wilayah, beda negara, bahkan beda benua, suara di speaker ponsel terdengar jernih. Heran. Padahal selisih waktu antara Indonesia dengan Amerika itu 13 jam. Tak tanggung-tanggung. Jika di sini waktu menunjukkan pukul 10 malam atau 22.00 WIB, maka di Amerika (Mbak Lien tinggal di Chicago City) pukul 11 siang. Kono awan, kene bengi. Dampak rotasi bumi.

Keheranan tersebut akhirnya saya ceritakan ke Mas Helmi. Beliau-lah orang yang mengoneksikan saya dengan Mbak Lien. Dengan santai beliau pun menjawab, “mungkin itulah yang disebut syafaat digital”. What?

Tak puas dengan jawaban versi Mas Helmi (perihal syafaat digital), saya pun mengklarifikasi mbak Lien. Menanyakan apakah saat menelepon kemarin menggunakan kode khusus sehingga suara terdengar jelas. Ternyata tidak. Mbak Lien tidak menombol kode apapun dilayar ponsel. Justru beliau baru ngeh ketika hal itu saya sampaikan. Iya juga ya mas, katanya. Istri mas Jamal tersebut juga mengaku sempat beberapa kali mengalami gangguan telepon ketika berkomunikasi dengan kerabat di Indonesia pada waktu yang lain.

Ayat Tuhan yang Difirmankan dan Tak Difirmankan

Apaan sih kayak gitu aja dibahas. Gak penting amat! Itu cuma kebetulan. Kali aja saat itu cuaca cerah. Jaringan nggak sibuk. Sinyalnya bagus. Sehingga komunikasi jarak jauh menjadi lancar. Ya begitulah. Pengetahuan manusia sangatlah terbatas. Melihat hanya pada sesuatu yang tampak. Tidak tampak berarti tidak ada. Mata pandang manusia telah banyak mengalami degradasi menjadi mata materi.

Mbah Nun kerap berpesan. Pelajarilah ayat Allah yang tak difirmankan. Peristiwa mukjizat Nabi Musa As. membelah Laut Merah dapat kita jadikan bahan pelajaran. Yang difirmankan Allah kepada Musa ialah Allah memerintahkan Nabi Musa memukul laut dengan tongkatnya sehingga laut terbelah. Ini termaktub dalam surah Al Baqarah ayat 50.

Sedangkan ayat yang tak difirmankan Allah yakni Allah memerintahkan air laut untuk membelah diri ketika tongkat Musa dipukulkan di atasnya. Bahasa lisannya mungkin begini, “Hey laut, ketika Musa memukulkan tongkatnya kepadamu membelahlah — terbentanglah,” kata Allah. Inilah yang dimaksud ayat tak difirmankan. Sebab tak diabadikan dalam kitab suci Al-Quran.

Dua mekanisme di atas berlangsung bersamaan. Bareng. Ayat Tuhan yang difirmankan dan tidak difirmankan sejatinya saling berkelindan. Berkorelasi, dan bersinergi.

Dengan demikian, ayat Tuhan yang difirmankan adalah yang tertuang dalam kitab Al quran, terdiri dari 30 juz, 114 surat, dan 6666 ayat (meski ada perbedaan pendapat di kalangan ulama). Atau biasa disebut ayat qauliyah. Ayat yang tercatat dan dapat dihitung jumlahnya.

Sedang ayat Tuhan yang tak difirmankan meliputi semua yang tersaji di alam semesta (ayat kauniyah). Ayat yang tak terhitung jumlahnya. Terhampar di mana-mana. Pada daun, sapuan angin, gelombang, cahaya, dan pelbagai fenomena. Alam merupakan “buku besar” untuk kita iqrai bersama sampai usai usia.

***

Kita kembali pada kasus ‘hubungan’ saya dengan Mbak Lien. Faktor cuaca, waktu, jaringan, sinyal, adalah sesuatu yang bisa diidentifikasi. Dapat dicerna logika (nalar). Mampu dikaji dengan ilmu. Sanggup diukur lewat alat atau peranti teknologi. Bersebab cuaca cerah, frekuensi jaringan bagus, sinyal kuat, berakibat suara yang keluar dari ponsel terdengar jelas. Itu sama halnya dengan ayat Tuhan yang difirmankan.

Di luar faktor cuaca, waktu, jaringan, hingga sinyal, ada instrumen lain yang menjadikan komunikasi jarak jauh tersebut tak alami hambatan. Berjauhan tapi serasa berdekatan. Terbentang jarak, namun seolah berhadap-hadapan. Itulah syafaat digital. Pertolongan yang murni datangnya dari Allah Swt. Sebuah ayat Tuhan yang tak difirmankan. Tidak dengan ilmu, logika, atau teknologi apapun untuk membuktikannya. Hanya iman yang mampu menjangkaunya.

***

Pertanyaannya, kenapa Allah berkenan memberi pertolongan (syafaat digital) dalam “silaturahmi” kami? Mungkin saja karena kami sedang membicarakan-Nya. Sinau mengeja dan membaca ayat-ayat-Nya. Belajar tafakkur, tadzakkur, dan tadabbur atas firman-firman-Nya.

Atau bisa jadi lantaran kami menyebut nama orang yang sangat mencintai dan dicintai-Nya. Yang selalu mengajarkan pentingnya hubungan segitiga cinta (Allah, Rasulullah, Hamba). Yang setia menemani anak-cucunya berproses menemukan dan meletakkan Allah sebagai Shohibu Baity. Tuan Rumah yang sejati. Hingga mencapai puncak Nyawiji. Manunggaling kawula lan Gusti.

Ya Allah jaga dan himpunlah kami semua dalam gelembung agung Al-Mutahabbina fillah. Guyuri kami rahmat. Ciprati kami syafaat.

Shallu ‘alan Nabiy Muhammad

Gemolong, 10 Februari 2020

Buku Cak Nun Majalah Sabana