Sunan Sableng dan Paduka Petruk, “Arsip Hidup” Teater Perdikan

Minggu surup (01/03) saya berkesempatan mampir ke latihan Teater Perdikan di Pendopo Rumah Maiyah Kadipiro Yogyakarta. Para pemain dan bagian produksi melingkar bersama dengan titik pusat Jujuk Prabowo (Sutradara). Di sebelahnya Joko Kamto ikut serta memberikan arahan sebagai pemain sekaligus sesepuh Teater Perdikan.

Latihan rutin, baik keseluruhan maupun bagian-bagian, mereka selenggarakan hampir tiap hari. Totalitas pentas niscaya sebujur dengan geliat proses latihan — apalagi pentas yang melakonkan naskah Sunan Sableng dan Paduka Petruk besutan Cak Nun ini akan diselenggarakan sebulan kemudian (7-8 April 2020).

Saya selalu percaya sebuah pementasan yang diselenggarakan sekadar momen puncak, suatu akumulasi dari deretan peristiwa sebelum-sebelumnya. Mempersiapkan pementasan jauh lebih kompleks ketimbang pementasan itu sendiri. Latihan adalah salah satu contoh di antara peristiwa persiapan itu, di samping segi produksi maupun artistik.

Saya memfokuskan tulisan ini pada satu lanskap, selapis momen proses latihan Teater Perdikan. Kendatipun satu lapis, saya menemukan banyak hal, khususnya dua dimensi. Pertama, proses latihan sebagai perwujudkan harmoni yang di dalamnya menyiratkan nilai kedisiplinan, keikhlasan, dan kefokusan. Kedua, Teater Perdikan sebagai arsip hidup yang tiap individu di dalamnya mengimplikasikan sebuah informasi historis.

Harmoni

Sebagai sebuah teks drama naskah berjudul Sunan Sableng dan Paduka Petruk karya Cak Nun mengakomodasi prolog, dialog, dan epilog sesuai penokohan masing-masing berikut penjelasan teknis musikal sampai tata pencahayaan. Keterbagian peran menjadi penting dalam seni pertunjukan teater. Ia membatasi sebuah ranah keaktoran, strategi pemeranan berdasarkan psikologi tokoh, aksi-reaksi antarpemain, hingga respons para pemain terhadap lingkungan sosialnya.

Kita membayangkan bagaimana para pemain meresepsi naskah, menghayati ketokohan sesuai peran tersendiri, serta mengartikulasikannya ke dalam dialog yang membangun sebuah cerita. Betapa proses pembacaan dan merefleksi adalah dua aktivitas dialogis. Di satu sisi ia mendaras naskah sedangkan di sisi lain menginternalisasi karakter. Di sana terpisah jarak yang menganga karena berupaya membangun karakter yang bukan “dirinya”.

Teater terbilang sukar ditempuh dalam dunia seni pertunjukan karena ia bekerja dua kali. Pekerjaan pertama memahami teks dan pekerjaan kedua menggubah dirinya sesuai teks bersangkutan. Dengan begitu proses latihan turut serta mendorong sebagai wahana katalisator: makin sering latihan maka makin mahir. Saya kira proses pembiasaan akan melahirkan kebisaan (behavioristik).

Itu kenapa peran Jujuk Prabowo sedemikian penting. Ranah kerjanya sebagai sutradara dalam mengarahkan sekaligus mengharmonikan para pemain yang dianggap ganjil: terlambat merespons dialog, kekurang-pendalaman karakter, ketidakberaturan posisi pemeran, hingga ketidaktepatan komposisi musikal dan pencahayaan. Jujuk diberikan kewenangan secara manajerial, bahkan ia — sepanjang pengamatan saya — sangat tegas bila terdapat pemain yang terlambat.

Saya kira ini pembelajaran penting bagi proses berkesenian, terlebih teater yang bersifat komunal. Teater mengakomodasi keberbedaan individu, baik gap usia, latar sosial, maupun pengalaman, yang kesemua itu bukan menjadi demarkasi (garis pemisah), melainkan justru modal untuk mengolah perbedaan ke dalam harmoni. Keseimbangan yang dikondisikan Jujuk barangkali sekilas terkesan galak, namun sebetulnya justru dengan cara demikian proses latihan akan berjalan kondusif.

Pernah di sela-sela pertengahan latihan, seorang pemain membaringkan badan. Melihat itu Jujuk sontak bertutur satir. Kurang-lebih mengatakan kalau letih semuanya begitu, tapi ayo berada di posisi siaga. Pemain itu langsung duduk bersila, menempati titik di mana dirinya berperan. Ini satu contoh kecil yang saya catat betapa menunggu pergantian peran bukan berarti leha-leha, melainkan harus tetap berada di posisi siap. Kesiagaan itu ditandai dengan duduk bersila di belakang garis yang dibayangkan sebagai panggung nyata.

Jiwa korsa sangat dominan dalam seni teater dan Jujuk saya kira paling militan dalam persoalan ini. Kedisiplinan, tentu saja, merupakan kunci keberhasilan sebuah latihan. Pada aras demikian nilai ini kemudian dibarengi dengan sikap ikhlas para pemain. Keikhlasan berarti menerima pelbagai kemungkinan sebagai sebuah proses belajar bersama. Di dalam teater identitas keakuan, kekamian, dan kekamian dikantongi sementara, sebab semua pemain harus berada pada ikatan kekitaan.

Titik fokus latihan teater, selain terus mensimulasikan secara performatif, pada gilirannya, adalah sinau bareng — belajar menjadi “manusia ruang” untuk bersedia memberi sepetak pemain lain di dalam kamar identitasnya. Hal ini jelas terlihat saat peristiwa pembabakan yang tiap bagian terdiri atas para pemain yang berinteraksi. Masing-masing aktor membangun dialog sesuai alur, diperjalin-kelindankan oleh relasi antartokoh, sehingga peristiwa itu membangun keutuhan cerita.

Pada praktik performatif, interaksi bukan hanya tuturan kata, melainkan juga mimik wajah, gestur tubuh, bahkan diamnya aktor niscaya menandai makna tertentu. Ini berarti segenap tindak-laku-tutur pemain mencitrakan maksud khusus yang secara simbolis dapat diberi makna. Chaos akan terjadi, setidaknya terlihat dari audiens, manakala disharmoni antarpemain mengemuka. Agar terhindarkan dari situasi itu maka memerankan sesuai ranah masing-masing diperlukan.

Secara teknis Jujuk menggarisbawahi persoalan tersebut. Ia berpendapat kalau aktor semestinya memerhatikan keutuhan pembagian peran. Terlalu berimprovisasi dianggap tak terlalu tepat. Terpaku pada teks juga akan membuat kaku. Jujuk mengetengahkan keduanya agar seimbang. Lihai membaca peluang, selalu awas terhadap kebermungkinan di panggung. Komponen ini menjadi signifikan dan relevan dalam teater tatkala harmoni menjadi nilai bersama.

Arsip Hidup

Kita tahu Teater Perdikan telah banyak makan asam garam pada jagat perteateran Yogyakarta. Nama Joko Kamto, Novi Budianto, Eko Winardi, Jujuk Prabowo, dan lain sebagainya dikenal luas sebagai aktor sangat senior. Sejak pementasan naskah Nabi Darurat Rasul Ad-Hoc (2012), Tikungan Iblis (2008), Mencari Buah Simalakama (2017), Sengkuni (2019), dan akan datang Sunan Sableng dan Paduka Petruk (2020), memperlihatkan konsistensi mereka ke dalam proses berkesenian.

Usia boleh di atas kepala enam tapi spirit para bapak itu tak kalah dengan generasi kiwari. Sebagai individu mereka bisa terkategorikan ke dalam “arsip hidup” yang memiliki segudang pengetahuan, kendatipun relatif, dengan konteks kesejarahan masing-masing. Pada konteks performativitas teater, arsip di ranah pertunjukan ini menjelaskan kedudukan mereka terhadap sejarah sosialnya yang kesemuanya dipertautkan oleh nilai bersama.

Teater Perdikan terdiri atas para aktor “inti” yang secara usia terbilang sepuh. Kesepuhan di sana menandakan “ruang sosial” bernama Teater Perdikan mempunyai rekam jejak memori atas pengalaman masing-masing. Cak Nun mencatat pergumulannya terhadap Teater Perdikan selama lebih dari 40 tahun dalam tulisanya berjudul Jawaban Perdikan (2017), “Para warga Perdikan Teater adalah manusia-manusia yang bersatu-gelombang karena mereka sudah tiba pada puncak hikmah di dalam jiwa mereka masing-masing.”

Rentang waktu hampir setengah abad adalah durasi yang terbilang mapan untuk sebuah persaudaraan, terlebih ruang teater sebagai payung bersama mereka praktis telah menggodok dinamika internalnya. Pasang-surut sebuah proses di dalam ruang berteater menjadi sesuatu yang tak terhindarkan bagi mereka. Justru itulah yang membuat dinamika berkesenian makin matang.

Pertanyaan berikutnya yang menarik dibentangkan adalah dokumen sosial macam apa yang dapat dijadikan sebagai referensi bagi generasi muda. Pertanyaan ini diproyeksikan untuk merespons arsip sebagai “kenyataan performatif” yang secara spesifik bisa dicontohkan berdasarkan kecenderungan individu. Sebagai contoh paling kasatmata, individu merekam sejumlah peristiwa, dan di sini saya mengambil sosok Joko Kamto.

Sunan Kok Sableng, Paduka Kok Petruk

Selama latihan berlangsung Joko Kamto merebut perhatian saya. Pawakannya yang gagah dan lincah tepat dipasangkan untuk memerankan Paduka Petruk. Sebagaimana judulnya secara eksplisit menyebut dua tokoh, selain Sunan Sableng, Paduka Petruk juga berposisi sentral. Paduka Petruk yang dimaksudkan di sini menginduk pada konsepsi Punakawan dalam Pewayangan Jawa.

Orang sekilas akan mengira kenapa tokoh Petruk justru ditempatkan sebagai “paduka” yang lazimnya dipredikatkan kepada bangsawan. Bukan Semar yang berposisi penjaga keseimbangan atau Gareng bak filsuf yang sibuk dengan kontemplasinya sendiri. Petruk biasanya berkarakter pengamat, namun dalam naskah ini, ia justru menempati posisi strategis. Bahkan memiliki staf khusus yang mengangguk tiap kali diperintah.

Di sinilah letak ironi itu dimainkan. Sunan yang diasosiasikan kudus tapi disebut sableng, sedangkan Petruk malah diberi sebutan paduka. Tapi itu semua, sepanjang pengamatan saya, hanya citraan untuk menggambarkan kondisi sengkarut sebagai permasalahan utama. Joko Kamto dengan lemah gemulai dan sesekali patah-patah berjoget ria mengikuti arakan pasukannya. Dialog penuh berbalasan banyol kepada Punakawan lain sehingga menghidupkan interaksi. Biasanya mereka bercakap sebagai kaum arus bawah, namun pada skenario itu Petruk berkedudukan lebih tinggi ketimbang Semar, Gareng, dan Bagong.

Naskah tekstual, oleh Joko Kamto, ditubuhkan secara performatif. Ia mengemban karakter yang mendua: di satu sisi terikat penokohan Punakawan, sementara di sisi lain harus berlaku aristokrat. Sebuah peran yang saya kira cukup susah, namun hal itu bagi Joko Kamto terlihat mudah. Bagi seorang maestro teater seperti dirinya memerankan karakter semacam itu seperti sekadar berganti baju. Bersalin pakaian satu ke lainnya tak memerlukan jeda lama. Semuanya terlalui secara halus dan mulus.

***

Eko Winardi pernah mengatakan Teater Perdikan tak mengekor kepada esetetika seni tapi cenderung silaturahmi. Saya kira ini kredo yang tepat untuk menggambarkan Teater Perdikan sebagai arsip hidup. Para sesepuh di dalamnya tak terjebak pada kantong-kantong baku dan beku, sebagaimana acap diwacanakan dalam kajian pertunjukkan.

Bukan berarti pernyataan itu merupakan sikap “anti-intelektualisme”, melainkan sebuah bentuk manifesto Teater Perdikan terhadap komunalitas, militansi, maupun persistensi. Saya kira ketiga poin inilah bentuk paling subtil dari arsip hidup Teater Perdikan. Sebelum tirai ditutup tanda usai pementasan, di baliknya terdapat proses panjang berkesenian. Teater Perdikan adalah proses itu.

Buku dan Merchandise