Sregep Fil Ardhi

Bermiliar-miliar kata dan kalimat telah berputar dalam kegiatan “sinau bareng”, baik dilakukan bersama Mbah Nun dan KiaiKanjeng, Mbah Nun saja, tanpa Mbah Nun, ataupun selama workshop-workshop yang telah dilakukan di Maiyahan.

Ora pathèken”, nukilan dari kalimat bersejarah yang diucapkan Soeharto; “Ora Dadi Presiden, Ora Pathèken”, pun dapat dikatakan hasil “sinau bareng” antara Pak Harto dan Mbah Nun, pada Mei 1998 lalu.

Kata tersebut bisa kita nikmati proses pemaknaannya dalam situasi kehidupan sehari-hari di mana kondisi yang berlangsung adalah; “Keadaan yang membuat Mbah Nun merasa bahwa inni ja’ilun fil ardhi khalifah itu belum berlangsung, tetapi baru akan nanti pada suatu masa yang mungkin masih jauh” (Tajuk: Sembilan Daur II yang Disimpan Dulu. Mengapa?).

Ora pathèken” bisa mengandung seni untuk bersikap “Bodo Amat”, di saat hidup bersosial di kehidupan nyata dan maya saat ini. Kebodohan nyata terdengar, terlihat, dan terasa dalam pengelolaan bumi Indonesia.

Sample kasus sangat banyak. Dari lima menit berselancar di media-sosial, kita bisa cukup tahu bahwa; “China bisa leluasa mencuri ikan di Natuna, dan Indonesia malah impor 40% ikan beku dari China”. Kita pun bisa melihat, bahwa 1% dari cadangan beras hasil impor pemerintah, yang dikelola oleh Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Bulog), harus dibuang. Nilainya sekitar 20ribu ton atau sekitar Rp. 160 miliar.

Hal tersebut memperkuat pengetahuan bahwa Indonesia menempati posisi 65 di dunia dan kelima di ASEAN dari 113 negara (Oktober 2018), dalam hal ketahanan pangan sebuah negara. Ironis! bila mengetahui bahwa; negara minim sumber daya alam seperti; Singapura, berada di posisi teratas.

Beberapa teman pun bisa merasa — disekeliling kita, begitu banyak lahan-lahan tidur, tidak dioptimalkan dengan teratur, padahal tanahnya begitu subur, dan bila pengelolaan negara tidak ngawur, masyarakat tentunya bisa makmur.

Miris! Berbanding terbalik dengan kenyataan: begitu banyak pemuda menganggur, terutama di wilayah Banten, sebagai daerah dengan jumlah pengangguran terbanyak di negara yang semestinya digdaya dalam bidang agrikultur.

“Bodo Amat!”, sebuah sikap yang dapat melatih kesadaran bahwa inilah uniknya menjadi manusia. Hanya sedikit binatang di bumi yang memiliki kemampuan berpikir, dan dapat meyakinkan diri sebelum melakukan sesuatu. Manusia diberi keistimewaan untuk dapat berpikir tentang pikirannya.

Kasus-kasus di atas, saya pilih untuk diungkapkan, karena berhubungan dengan pengelolaan makanan. Dan berharap bisa terus mempercayai kebenaran ayat-ayat Al-Quran, dalam hal memerintahkan kita, agar memperhatikan makanan.

“Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya” (80:24) dapat menjadi awalan untuk berpijak, ketika mulai menyadari salah satu tugas manusia adalah “memakmurkan bumi”. “…Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya…” (11-61).

Bagaimana caranya?, lanjutan dari ayat tersebut tertulis; “…karena itu mohon ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya.”

Pelaksanaan di kehidupannya, kita harus melakukan apa? Dimana? Kapan?

Dalam bermaiyah, kita mempunyai sebuah metode asli dari Kitab Suci: “Tadabbur”. Melihat apa yang tak terlihat, menemukan ayat-ayat yang tak tertulis, dan Al-Qur’an tidak diposisikan hanya sebagai objek kajian, melainkan metodologi untuk membaca realitas.

Pemahamannya tentu dengan menemukan kelembutan di setiap rasa, dari peristiwa-peristiwa yang kita alami sendiri. Berjuang untuk terus tekun mengikuti Sinau Bareng dapat melatih kepekaan rasa kita terhadap apa yang terjadi.

Salah satunya, dengan terus berusaha mengikuti kegiatan yang diadakan Simpul Maiyah, seperti Workshop Menulis CakNun.com, pada tanggal 4 Januari 2020 lalu.

Selain tentunya memberikan banyak pengetahuan, kita juga bisa mendapatkan rasa, dalam menemukan kata-kata kunci yang diberikan oleh Mbah Nun dan narasumber lainnya, sebagai jawaban, pencarian potensi di bidang yang diminati.

Termasuk bagi kita, yang mulai sadar untuk mencoba menjadi “pemakmurnya”. “Sregep”, salah satu kata kunci dari Mbah Nun. Menyisakan pekerjaan untuk menemukan maknanya, dengan mengaplikasikannya sesuai potensi diri.

Dimana? Tentunya: “Fil ardhi” — di bumi. Kapan? Monggo dijawab sendiri.

Buku Cak Nun Majalah Sabana