Sinau Bareng Memproduksi Pengetahuan

Pengetahuan seringkali bersifat ekslusif. Keengganan atau sekaligus juga terkadang adanya ketidakmampuan untuk mendokumentasikan dalam bentuk tulisan adalah salah satu penyebabnya. Maka sebagai tindak lanjut hasil Silatnas Maiyah di Semarang Desember lalu, Koordinator Simpul bekerjasama dengan Progress mengadakan workshop kepenulisan untuk penggiat dan jamaah Maiyah yang diadakan di Rumah Maiyah, Sabtu, 4 Januari 2020.

Gelem ora gelem, teman-teman juga harus memahami apa yang disebut sinau bareng.” Demikian pernyataan Pak Toto Rahardjo atau yang sering disebut Yai Tohar yang menyampaikan di bagian akhir kegiatan workshop. Tapi karena memang selama ini tidak diberikan standard baku, baik aspek filosofis, epistomologis, psikologis dan aspek-aspek lainnya, makanya bentuk sinau bareng bisa beragam. Semuanya bisa jadi benar. Yang penting tujuan dari proses pembelajaran tercapai.

Sekitar pukul 8.30 WIB acara baru dimulai. Suasana mendung yang cenderung syahdu tak membuat peserta yang datang dari berbagai penjuru tanah air kehilangan semangatnya untuk ngangsu kawruh atau menimba ilmu. Bahkan capek dan letih perjalanan tidak tampak tergambar dari raut muka peserta yang hadir. Meski ada yang baru hadir tepat sebelum acara di mulai.

Setelah mantra suci kerinduan kepada kekasih pujaan, Nabi Muhammad, dilantunkan. Berturut-turut Mas Helmi, Mas Saiful, Mas Ronny, Mbak Hilwin, dan Mas Fahmi sharing tentang produksi teks (menulis) dari berbagai perspektifnya. Semuanya dilakukan dalam suasana yang cenderung santai dan tentu saja gelas teh dan kopi yang setia menemani. Mau duduk bersandar, duduk tegap, duduk sila, ataupun selonjoran semuanya akan kita temui dalam workshop ini. Seperti biasa, tak lupa bau asap rokok yang tersebar ikut mengaromai suasana belajar bareng. Di mana ada workshop sebebas itu coba, kalau bukan di Maiyah.

Dengan metode dialog interaktif, Mas Helmi Mustofa melatih peserta  untuk mampu melihat “beyond” reality. Melihat apa yang tidak biasanya orang lihat sehingga mampu menghasilkan tulisan-tulisan yang berperspektif yang unik. Beliau juga memberi tips kepada kita ketika hendak melaporkan reportase, mencatat poin demi poin, yang akan menjadi backbone (tulangan) dari tulisan kita.

Mas Saiful, salah satu penulis senior di caknun.com, manambahi pentingnya melihat berbagai kemungkinan angle dalam penulisan reportase. Setidaknya dari 5W dan 1H yang lazim dalam suatu penulisan berita, bisa dihasilkan 120 angle di mana kalau kita mempelajari matematika, angka tersebut merupakan hasil permutasi siklis. Apa itu? Coba cari sendiri. Jangan Manja!

Berbeda dengan Mas Helmi yang mengupas seluk beluk reportase (Rubrik Maiyahan), Mas Saiful lebih banyak berbicara mengenai rubrik Mènèk blimbing. Sebagai saluran yang bersifat reflektif dan kontemplatif, yang mana itu sangat personal tergantung penulisnya, maka seyogianya tulisan yang akan dimuat dalam rubrik Mènèk Blimbing harus dimulai dari pertanyaan “why”. Tapi jangan lupa memberi pijakan tulisan agar menjadi kontekstual. Demikian papar Mas Saiful.

Setelah Mas Saiful, Mas Roni dan Mbak Hilwin kemudian menyusul bergantian sharing pengalaman menulis mereka untuk caknun.com. Kalau Mas Roni lebih berkutat pada kajian akademis terhadap tulisan-tulisan yang membahas Mbah Nun, KiaiKanjeng, dan Maiyah yang kemudian dikomparasikan dengan tulisan tulisan yang dihasilkan Mbah Nun mulai dari tahun 70-an. Ternyata Mas Roni menemukan adanya konsistensi nilai-nilai yang disampaikan Mbah Nun melalui tulisan-tulisannya dari dulu hingga sekarang. Ini tidak hanya menunjukkan konsistensi berpikir Mbah Nun, namun juga memperlihatkan bahwa tulisan-tulisan beliau tidak lekang ditelan zaman.

Selain karena merasa sudah banyak yang disampaikan pembicara sebelumya, Mbak Hilwin sebagai perempuan satu-satunya yang berbagi pengalaman pada workshop kali ini tidak menyampaikan banyak hal. Mungkin itu karena ketawadhuan beliau. Tapi setidaknya beliau menunjukkan bahwa siapapun kita, laki-perempuan, tua-muda, bisa mengambil perspektif tertentu, untuk memproduksi teks dalam bingkai kemaiyahan. Agar nilai-nilai Maiyah yang diajarkan Mbah Nun dan seluruh Marja’ Maiyah tidak hanya dinikmati oleh jamaah Maiyah sendiri.

Mas Fahmi mengakhiri sesi pagi dengan pentingnya menguasai gaya penulisan bertutur, atau story telling. Kenapa demikian? Karena kebanyakan saat ini orang cenderung menyukai tulisan tulisan yang mengalir yang sifatnya tidak menggurui. Unsur terpenting dalam penulisan model ini, menurut Mas Fahmi, adalah dengan berusaha semaksimal mungkin melibatkan emosi pembacanya. Sehingga tidak sekadar panca indera pembaca yang merasakan, tapi perasaan mereka pun ikut larut. Hingga tulisan kita akan membekas kuat dalam ingatan pembaca.

Setelah istirahat siang, sesi dilanjutkan dengan praktik menulis reportase dan story telling. Masing-masing peserta diberikan waktu satu jam untuk membuat reportase dari video singkat yang ditayangkan serta dipersilakan mengambil foto apapun dalam rubrik Mozaik di website caknun.com sebagai bahan untuk penulisan story telling.

Waktu satu jam ternyata tidak cukup. Maklum peserta masih belajar, termasuk saya, sehingga diberikan tambahan waktu sekira lima belas menit. Setelah itu Mas Helmi dan Mas Fahmi bergantian memberikan feedback terhadap hasil tulisan peserta. Ada yang perlu banyak masukan, namun ada juga yang tulisannya sangat bagus.

Sesi sharing setelah break Ashar mungkin adalah sesi yang paling berharga bagi peserta. Di sesi ini peserta bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada tiga pendekar lulusan universitas Malioboro. Mbah Nun sendiri, Pak Iman Budhi Santosa, dan Pak Budi Sardjono. Semua peserta merapat ke panggung yang tingginya sekira 40 cm.

Dalam sharing ini Mbah Nun mengingatkan kembali tentang sudut pandang, jarak pandang, resolusi pandang, dan sebagainya sebagai alat bantu untuk memperkaya tulisan kita. Beliau memberi contoh kejadian yang terjadi di zaman Nabi, di mana seorang nenek yang biasa menyapu halaman masjid Nabawi meninggal. Ketika mengetahui peristiwa tersebut beliau ke kuburan sholat jenazah (ghaib) di pusara nenek tersebut.

Bagi ulama fikih, riwayat tersebut akan dipandang dengan kacamata hukum. Sehingga didapat kesimpulan kebolehan sholat di pusara. Tapi apa tidak ada kacamata lain melihat peristiwa tersebut? Kenapa kita tidak melihat misalnya, betapa sifat welas asih sedimikian terpancar dalam laku keseharian beliau yang mana itu seharusnya bisa kita terapkan pula dalam keseharian kita.

Tak lupa beliau memberikan kunci keberhasilan untuk mampu menulis dengan baik adalah sregep. Sregep itu kalau dalam bahasa Indonesia padanannya adalah rajin. Tapi tidak pas begitu juga. Karena selain rajin, sregep juga mengandung arti tekun, istiqamah. Beliau menceritakan bagaimana kebiasaan beliau yang bahkan ketika pulang Maiyahan pada pukul tiga dini hari pun mewajibkan dirinya untuk singgah di depan komputer untuk menulis. Masak kita yang muda, apalagi mengaku anak cucu beliau, tidak mau dan mampu meniru laku beliau?

Imajinasi dan intuisi adalah dua hal yang melengkapi dan menjadikan tulisan kita “abadi”. Demikian titik tekan yang disampaikan oleh Pak Budi Sardjono. Beliau mencontohkan bahwa riset-riset yang dilakukannya, sebagai basis penulisannya, kalau ditulis dalam bahasa reportase biasa akan terasa kering dan cepat basi. Tapi dengan tambahan imajinasi dan intuisi data-data yang diperoleh dari hasil riset bisa diproduksi berbentuk novel yang akan cukup relevan dibaca kapanpun.

Pendekar terakhir, Pak Iman Budhi Santosa, memberikan tips kepenulisan yang cukup praktis. Tips yang seyogyanya mudah untuk dilakukan. Sebuah tips yang berasal  dari wewarah dan petuah Ki Hadjar Dewantoro. Niteni, Niroake dan Nambahi. Kalau di terjemahkan kedalam bahasa Indonesia dekat maknanya dengan memperhatikan, meniru, dan menambahi.

Tidak perlu malu untuk meniru, karena semua awalnya adalah meniru. Demikian pesan dari Pak Iman. Dengan banyak belatih, meski awalnya meniru, kalau kita benar-benar sungguh ingin menulis dengan baik, maka kita akan sampai pada tahapan bisa menambahi. Sehingga tulisan yang kita hasilkan akan unik dan menjadi milik kita sendiri (memiliki kekhasan tersendiri).

Daur menulis menjadi bekal terakhir yang diberikan oleh Yai Tohar setelah break makan dan sholat Maghrib. Setelah sebelumnya kegiatan memberikan feed back terhadap hasil tulisan peserta dilanjutkan kembali.

Setelah Mas Wakijo, penggiat Gambang Syafaat, memimpin sholawatan bersama, tepat pukul delapan malam acara ditutup. Tentu saja ada banyak pekerjaan rumah bagi peserta workshop untuk mampu memproduksi pengetahuan, menulis, dengan baik. Tentu saja saya termasuk di dalamnya.

Buku Lockdown 309 Tahun