Simulasi Sorga

Corona, 24

“Bersama kita bisa melawan Corona”, dilaksanakan di sejumlah sisi dan wilayah. Yang langsung adalah solusi “syifaiyah”, teknis medis. Kemudian ikhitar “daulah walayah”, kebijakan politik, penerapan kekuasaan yang diterapkan secara hukum sejumlah langkah untuk melindungi rakyat. Yang ketiga adalah ikhtiar “ubudiyah”, hal-hal yang dilakukan berdasarkan sifat hubungan manusia dengan yang menciptakan dan memiliki kehidupan.

Para dokter dan semua petugas kesehatan di bidang penanganan medis atas Coronavirus adalah Kaum Mujahidin, para pejuang jihad pada tataran makna termasuk yang tertinggi. Orang modern menyebut mereka pahlawan. Kita juga menyebut mereka para pahlawan kehidupan. Kalau kelak kita masuk sorga, para pahlawan itu sudah duluan tinggal di sana.

Hal-hal yang berkaitan dengan strategi peperangan wilayah melawan Coronavirus berada di tangan para Penguasa suatu Negeri. Pemerintah dari puncak hingga paling bawah dan ujung tombak. Kalau pahlawan medis tugasnya adalah “Mengupayakan kesembuhan bagi yang sudah terinfeksi”, sedangkan para penguasa wilayah bertugas “Menghindarkan yang belum terjangkit dari kemungkinan terjangkit”. Maka ada langkah “Karantina Wilayah”, istilah “lockdown”, “social distancing”, “physical distancing”, “health distance” dan macam-macam lagi. Sejumlah pihak pusing kepala dan marah-marah kepada Pemerintah kenapa tidak sedini mungkin menutup akses keluar masuk Jakarta, sehingga sekarang Corona bisa tamasya ke semua Provinsi di Indonesia.

Apakah Maiyah turut mengkritisi tindakan-tindakan atau tiadanya tindakan-tindakan Pemerintah? Sejauh ini tidak sama sekali. Sejak awal secara konstitusi maupun budaya Jamaah Maiyah dipaksa untuk mengakui Pemerintah tidak peduli ikut memilih atau tidak, serta punya pendapat berbeda atau tidak — sehingga akhirnya juga memaksa diri untuk ber-husnudhdhon bahwa pasti mereka mengerti apa yang harus mereka lakukan, termasuk ketika ada tamu siluman yang bernama Corona.

Dulu sudah niat ingsun mencalonkan diri, sudah membiayai sangat mahal, sudah melakukan segala rekayasa pencitraan supaya dipilih dan supaya tetap dipuji kalau sudah terpilih — mestinya mereka sudah belajar dan tahu persis apa kewajiban dan tugas-tugas mereka, dengan segala komplikasi dan dilema-dilemanya — misalnya simalakama sangat berat antara “lockdown” dengan risiko perekonomian nasional dan rakyat.

Sekarang rakyat Indonesia terombang-ambing antara harapan dan keputusasaan. Antara optimisme dan pesimisme akan selamat atau tidak. Kalau hari Kiamat dilaksanakan hanya dengan “shoihatan wahidah”, satu teriakan dahsyat di mana bumi berbenturan dengan benda-benda lain di semesta raya, maka mungkin itu lebih “ringan” dibanding disayat-sayat, diiris-iris, diulur-ulur antara hidup dengan mati melalui siluman sangat kecil yang bernama Covid-19.

Andaikan Allah mentakdirkan besok pagi atau siang atau sore firman-Nya: “Apabila matahari digulung. Apabila bintang-bintang berjatuhan. Apabila gunung-gunung dihancurkan. Apabila lautan dipanaskan. Apabila langit dilenyapkan. Apabila neraka jahanam dinyalakan. Maka setiap jiwa akan mengerti apa yang telah dikerjakannya…”

Tetapi Covid-19 bukan itu. Andaikan karena tiap hari kita laksanakan fatwa Mbah Surip almarhum “bangun tidur, tidur lagi, habis bangun, tidur lagi, banguuuun, tidur lagi” lantas kita iseng-iseng melihat angka 19 di Al-Qur`an, ketemulah Surat Maryam, contoh keajaiban Allah tentang kelahiran Nabi Isa, dengan diawali sandi terpanjang: “Kaf Ha Ya ‘Ain Shad”, dan pada ayat 19 dituturkan kalimat Malaikat Jibril AS: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci”.

Kita dramatisir saja: sesudah Covid-19 ini reda, sebagaimana syair “Kekasih Tak Bisa Menanti”: “Sesudah maut yang tak terduga itu, datanglah kelahiran yang baru”. Zaman baru. Daur ulang peradaban baru. Anak laki-laki yang baru, simulasikanlah menjadi misalnya zaman yang penuh kejantanan atau sportivitas, peradaban yang objektif dan jujur, politik dan kedaulatan yang lebih rasional dan proporsional, kepemimpinan yang Allah sendiri men-tanazzul-kannya sebagaimana takdir istimewa bayi Isa AS.

Tetapi kalau ternyata tidak terjadi perubahan apa-apa, dan manusia tetap saja lalai, abai dan tidak waspada, manusia tetap saja sombong dan ingkar — jangan kaget atau heran juga.

“Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan-Ku dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu, berserta orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami — mereka itu tempatnya adalah neraka, berdasarkan apa yang mereka kerjakan di dunia”.

Lumayan di Maiyahan kita selalu berikhtiar untuk mensimulasikan Sorga.

Buku Lockdown 309 Tahun