Sholawatun Nur: Permulaan Yang Mendasar

Girang. Pertama kali mendengar bahwa sekolah dipastikan libur selama 14 hari setelah Solo menyandang status KLB (Kejadian Luar Biasa) gegara kehadiran Coronavirus. Desiran hati ini mengatakan bahwa hari-hari berikutnya saya akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama anak dan istri di rumah kontrakan. Bisa uyel-uyelan sak kemenge dengan anak. Bisa lebih sering marah-marahan dengan istri secara live. Karena biasanya marah-marahannya lebih banyak lewat gawai. Intinya, momentum indah bersama keluarga sudah terbayang di depan mata.

Lagi asyik-asyiknya berhalusinasi yang demikian itu, tetiba saya teringat bahwa di rumah kontrakan kami tidak ada tivi. Ditambah laptop yang berisi film-film (bajakan) favorit anak saya, sehari menjelang pengumuman status KLB, rusak. Tidak mau menyala dan dari dalamnya keluar air. Saya pikir, jangan-jangan laptop adalah sumber mata air. Ah entah. Kebingungan lantas mengepung dari segala lini. Ketika tidak ada hiburan apa-apa, lantas bagaimana kami sekeluarga bisa berhibur diri? Sedangkan mall, tempat rekreasi juga sudah diwanti-wanti untuk meniadakan aktivitasnya. Lha?

Satu-satunya jalan adalah dengan menimbun video-video yang ada di Youtube. Yang bisa diunduh dan bisa diputar ketika sedang offline. Lha, kalau mau beli kuota data internet ya bangkrut kita. Kalau seluruh provider mau menggratiskan internetnya ya alhamdulillah. Tapi nanti kalau gratis, siapa yang bakal membayari pegawainya? Karena otak saya nggak nyandak kalau mikir mekanisme yang begitu, maka saya lakoni saja yang sekiranya mampu.

Ada beberapa video yang saya unduh. Lebih banyak yang berjenis gelar wicara. Karena saya suka melihat dan mendengarkan orang ngobrol. Kemudian ada vdeo animasi, ini khusus untuk anak saya. Juga video tentang kehidupan hewan buas, macan dan singa. Ini untuk istri saya. Biar dia tahu, kalau galaknya keluar wajahnya mirip yang demikian itu. Hiiii…

Ditambah satu video lagi yang entah, tumben saya mengunduhnya. Judulnya ‘Sholawatun Nur’. Kenapa saya unduh? Tidak tahu juga presisi alasannya. Mumpung di sekolah ada wifi gratis dan sebentar lagi diliburkan dengan tempo yang tidak tahu entah sampai kapan, ya saya unduh saja.

Begitu surat resmi liburan beredar, saya mulai mengkonsumsi video yang sudah saya unduh di gawai. Anak saya yang berusia satu setengah tahun dan sebentar lagi insyaallah mau punya adiknya lagi, sudah cukup mahir mendudul-dudul layar gawai made in China itu. Dipilah-pilihnya video yang ada. Yang animasi karya anak bangsa, dia mulai suka tapi mulai cepat mengalami kebosanan juga. Yang video hewan-hewan buas, dia tertarik tapi juga dengan cepat minta diganti. Dan itu berlangsung terus-menerus. Sampai saya mulai agak jengkel. Itu baru sehari. Lha kalau liburnya 14 hari? 14 bulan? 14 tahun? 14 abad? Bisa njungkir njempalik saya menuruti kekarepan anak saya.

Hampir semua video sudah diputar. Tinggal satu. Yaitu video ‘Sholawatun Nur’. Aduh, KiaiKanjeng ya. Kok jadi bapaknya yang baper? Lama tidak bersua dengan beliau-beliau. Lama tidak datang di Maiyahan. Lama pula tak melingkar bersama teman-teman pitulasan. Dan tentu saja lama tak mendengar dan melihat Cak Nun berproses bersama KiaiKanjeng. Ah ya sudah diputar saja.

Saya nikmati video itu pelan-pelan. Anak saya juga mulai penasaran. Mungkin karena selama ini dia belum pernah sekalipun mendengar suara dari bilah Saron. Sambil nunjuk-nunjuk dia ngomong “a e a e a e?”. Tafsir saya dia sedang bertanya. Saya jawab, itu Saron, itu Demung keluarga Bilah dalam Gamelan. Beda tinggi rendah nada saja. Yang satu tinggi satunya rendah. Dan itu tidak perlu diperdebatkan. Karena ada lagi Saron Peking (bukan kota di Cina ya), suaranya lebih tinggi.

Berharap anak saya besok mudeng apa yang disampaikan bapaknya. Dan kalau besok dia seneng musik khususnya Gamelan, mungkin karena memori dari intro Sholawatun Nur meresap ke DNA nya. Suara gamelan pertama kali yang dia dengar adalah gamelan KiaiKanjeng.

Saya sendiri awalnya merasa tidak ada apa-apa dengan intro itu. Karena satu, gampang. Iya, itu mudah untuk ditirukan atau dimainkan. Coba saja. Itu nada-nada pokok. Teori dasar musik ada di sana. Lha, mosok karya seorang Cak Nun kok ‘hanya’ kayak gini? Kesombongan mulai merasuk pemirsa. Iya dong, kita yang sarjana etnomusikologi, belajar ini itu musik sana musik situ, kaget dong mendengar komposisi intro awalnya cuma memainkan nada do – mi – sol – do itu.

Lalu seperti ditampar, halooooo saat kondisi seperti ini, mau kemana lagi kalau tidak kembali ke dasar? Beberapa menit saya melamun. Omelan dan rewelan istri seolah menjadi tak terdengar untuk sesaat. Ada rasa untuk mendengar dan melihat video itu lebih saksama.

“Sebelum Allah menciptakan segala sesuatu, Dia menciptakan Cahaya Muhammad…”

Penjelajahan itu pun dimulai. Sholawatun Nur, meneguhkan dasar-dasar apa yang sebaiknya kita miliki untuk bekal hidup di dunia dan ketika kembali kepada Allah. Secara musikal pun begitu. Saya menangkap ada dua pembabakan. Iya, cukup dua.

Satu, musik (intro) dengan susunan nada-nada pokok yang sudah saya sampaikan tadi dengan balutan Chord Mayor yang melodinya dimainkan dengan gamelan (Saron, Demung, dkk) Do – mi – sol – do dan seterusnya. Awal do, akhir do.

Dua, bagian bait. Ketika Cak Nun mulai bersholawat, Chord musik berubah menjadi Minor. Mungkin secara detail tangga nada Minor Zigana, tangga nada yang lazim digunakan untuk memainkan musik-musik Arab. Dimainkan dengan menggunakan violin dan keyboard. Nada dari violin meliuk-liuk bak ular padang pasir. Sedang dari awal posisi keyboard dan dibantu bass elektrik mengeluarkan suara mirip dengung sebagai lambaran. Bukan buzzer tapi. Dalam musik, teknik dengung atau yang sering disebut humming ini, merupakan bunyi-bunyian yang usianya sudah tua mungkin setua Bumi. Konon dulu orang sering beribadah menggunakan teknik ini. Suara yang dihasilkan serupa ‘hmmm’ bernada rendah tapi tanpa putus selama mungkin. Teknik ini bisa bikin pusing kepala. Karena disuarakan dengan mulut tertutup dan mengatur pernapasan. Sekilas nyaris tak terperhatikan, tapi dia ada karena sustainable yang hampir tanpa jeda itu. Tradisi Zen kayaknya masih menggunakan tenik itu.

Suara dengung itu memang nyaris tak terhatikan. Punya kulkas di rumah? Itu mesinnya bunyi lho. Tapi karena terbiasa dan tidak sadar jadi kadang kita acuh. Coba sesekali kulkasnya dimatikan. Rumah Anda terasa ada suara yang hilang.

Dua babak itu saling bersahutan. Chord intro bernuansa Mayor, begitu masuk bait pindah ke Minor. Begitu terus menerus. Harmonisasi yang digunakan bukan dari G ke Em, tapi dari G ke Gm. Secara susunan nada berubah itu karena nada ketiga (mi) diturunkan setengah nada.

Anehnya, di dalam teori dasar musik selalu diperkenalkan berita semacam ini, bahwa Tangga Nada Mayor itu identik dengan nuansa gembira. Sedang nada Minor, identik dengan Kesedihan. Kebetulan kah kalau dalam karya Sholawatun Nur ini Cak Nun ingin menyampaikan bahwa gembira dan sedih itu sangat lembut perbedaannya? Selembut tawakkal dan takabbur. Syukur kalau takabburmu menuju tawakkalmu. Kalau kebalik?

Maka setelah dimulai dengan tangga nada Mayor, Minor, Mayor, Minor, Mayor, Minor, akhirnya kembali ke Mayor juga. Siapa tahu kita kembali ke Do dengan keadaan yang gembira. Diantarkan Sholawatun Nur, sebuah mula yang mendasar…

Nuwun Kanjeng Nabi…

Lainnya

Syuhada dan Fix You

Catur Sila

Momentum Kholidina Fiiha Abada

Berawal dari YouTube

Buku dan Merchandise