Setan Corona, Bencana, Peluang, dan Kebangkitan Baldah Maiyah

DATA. Kalau sore-sore Pemerintah Indonesia mengumumkan jumlah penduduk Negeri ini yang terpapar Covid-19 (misalnya sekarang 15.438), itu tidak berarti jumlah saudara-saudara kita yang terjangkit Corona. Itu adalah jumlah yang sejauh ini diketahui oleh Pemerintah, tidak berarti jumlah yang sebenarnya. Sebab kalau punya 10 saudara, kita periksa berapa yang sakit, semua 10 orang itu harus diperiksa. Sedangkan pemeriksaan yang dilakukan atas penduduk NKRI, belum ada 1%.

Berarti sebegitulah kadar kerja Penanggung jawab NKRI ini dalam hal Corona. Hidup ini kasunyatan atau kenyataan. Kenyataan itu nyata. Nyata itu secara teknis disebut data. Dan soal data ini luar biasa Negara kita semua tidak siap. Di luar itu ada multidimensi fakta yang menjadi latar belakang, menyertainya, dan menjadi akibatnya. Kita belum berpikir dan melakukan analisis komprehensif sebagaimana yang seharusnya. Ini Setan Covid sudah memvirusi semua sel kehidupan. 267 juta orang tidak bisa mencari nafkah keluar rumah, anak-anak tidak bisa sekolah, tidak bisa beribadah bersama, tidak bisa melakukan apapun yang dulu merupakan zona nyaman kehidupan.

MENSARJANAI CORONA. Pemerintah dan kita semua bahkan baru sedang bersekolah dasar mata pelajaran Corona. Kita sama sekali belum mensarjanai Covid-19. Apalagi dia pendekar mabuk, bisa berubah-ubah jurus, bermutasi tak habis-habisnya. Yang memimpin bangsa Indonesia tidak pernah belajar tentang kekuatan dan kelemahan alamiah, kekuatan dan kelemahan budaya, kekuatan dan kelemahan jenis manusia bangsa Indonesia. Maka setiap langkahnya mencerminkan bahwa mereka tidak mengerti dan memang tidak punya kesadaran untuk mempelajari watak bangsanya. Dipikirnya masalah Corona adalah terbatas pada urusan sakit dan kesehatan. Ketika kemudian multiefek Corona sampai ke proses kehancuran ekonomi, budaya dan politik — tidak ada sedikit pun siap mengantisipasinya sebagai sebuah problem keseluruhan.

Kalau oleh serbuan Setan Corona Pemerintah tidak patah kursinya, berarti bangsa Indonesia adalah kumpulan manusia paling “nyegara” hatinya, jembar dadanya, santun, pandai mengalah, dan penuh kemurahan hati.

SOLUSI PANCASILA TERHADAP CORONA. Tanyakan kepada Presiden dan semua ahli: apa jawaban Pancasila terhadap Corona? Kalau tidak bisa menjawab pertanyaan besar dan global misalnya “bagaimana antisipasi dan kebijaksanaan Pancasila melayani kapitalisme global?” — sekarang pertanyaannya cukup menyangkut hal yang sangat kecil, mikro dan tidak kasat mata, yaitu Corona. Kalau tidak juga bisa menjawab hal setan siluman Corona, kenapa kalian dulu mencalonkan diri untuk mengurusi Indonesia?

Perhatikan kira-kira bagaimana jawaban mereka? Bagaimana mereka menemukan hubungan antara sila-sila Pancasila dengan masa depan bangsa berdasarkan Corona? Bermurah hatilah mempermudah jawabannya, dengan pertanyaan lebih lanjut tentang apa hubungan antara dampak Corona dengan “gotong royong”? Kenapa tidak pernah ada pemerintahan yang mencoba menerjemahkan gotong royong menjadi sistem politik, mekanisme sosial budaya, dan perekonomian bangsa? Apalagi Pemerintahan sekarang ini, yang konsentrasi utamanya adalah pencitraan sehingga sangat sibuk membikin topeng-topeng mengkamuflase wajah aslinya.

MENGINDONESIA SENDIRI SAJA. Maka Jamaah Maiyah dengan semua simpul-simpulnya bersegera meneguhkan diri untuk meng-Indonesia sendiri saja. Sejak awal ber-Maiyah kan memang mandiri hampir dalam segala hal. Tidak bergantung pada funding dari manapun kecuali dari mereka sendiri. Kalau mau berkeluarga dan makan minum ya tidak tergantung siapa-siapa di luar Allah dan Kanjeng Nabi. Kalau mau beribadah ya tidak tergantung madzhab, atau NU dan Muhammadiyah. Kalau mau berpikir dan berjihad tidak tergantung Pesantren, Universitas dan Sekolah. Kalau mau bernegara ya tidak tergantung undang-undang Negara dan kebijakan Pemerintah. Kalau mau menjaga kesehatan dan kesejahteraan jiwa raga tidak tergantung langkah-langkah penguasa.

BALDAH MAIYAH. Sekarang di zaman Corona bikin sendiri Baldah Maiyah. Baldah itu kluster. Di Al-Qur`an ada Bilad, ada Balad, ada Buldan, dan ada Baldah. Rasanya Baldah lebih lembut makna dan wilayahnya. Ia bisa Negara atau Kerajaan atau satuan komunitas manusia. Yang utama bukan bentuk padatnya, melainkan mekanisme kebersamaan atau Maiyahan di antara semua manusia yang berhimpun. Bahkan tidak penting batasan teritorialnya. Ia semacam komprehensi dari semangat hidup yang sama di antara Manusia- manusia di Baldahnya.

Jamaah Maiyah belajar ke Mas Rudd Blora, ke Cirebon, Banyumas atau Sidoarjo. Serap dari Sabrang Perdana Menteri Maiyah tentang data sebab dan akibat Corona sampai semua area tematiknya, sehingga mengerti dengan runut dan detail “faltandhur ma qaddamat lighad”. Utamanya lagi belajar kepada Mbah-mbah, nenek moyang. Belajar soal gentong air di depan rumah, soal ngapurancang tanpa bersentuhan kulit kepada orangtua, belajar bab Lumbung dan semuanya. Baldah Maiyah bisa mencapai “baldah thayyibah wa Rabbun Ghofur” tidak harus dengan kapitalisme global, Mal, industri, produksi massal.

STANDAR HIDUP. Sekarang Corona adalah utusan Tuhan yang bertugas memaksa manusia untuk merumuskan dan memperharui standar kehidupan mereka. Semua kesulitan yang kita alami selama dua bulan terakhir inilah standar hidup kita. Ya begini ini hidup. Bahkan mungkin perlu dipersiapkan standar yang lebih rendah lagi, ketika nanti Corona mengakibatkan berbagai macam kehancuran, kemacetan, kebuntuan, dan kehinapapaan pangan, budaya pergaulan, pendidikan dan bidang-bidang lain yang dulu kita nikmati dengan kurang bersyukur.

QUM WA TSIYABAKA FATHAHHIR. Kemarin Corona adalah bencana. Sekarang Corona adalah peluang. Besok pagi Corona adalah kritik keras agar manusia merancang kebangkitan. “Ya ayyuhal muddatstir. Wahai orang yang berselimut karena takut Corona. Berdiri bangkitlah. Sebarkan peringatan. Pakaian (politik, budaya)mu bersihkanlah. Dosa-dosa tinggalkanlah. Berhentilah mindset laba laba laba laba labaaaa melulu. Bergotong royonglah. Ya ayyuhal Muzzammil. Bangunlah tengah malam. Bersujudlah. Baca Al-Qur`an pelan-pelan. Sesungguhnya Aku aku akan menurunkan perkataan yang berat (Corona)”.

Tahap pertama, Jamaah Maiyah mengkonsep atau menganggap bahwa setiap Jamaah Maiyah, seluruh bangsa Indonesia dan masyarakat dunia semua sudah terpapar Covid-19. Tidak seorang pun yang tidak terjangkit Corona. Itu menjadi landasan kesadaran untuk kegiatan sehari-hari: keluar rumah atau tidak, pakai masker atau tidak, jaga jarak atau tidak, perlu minta tolong kepada Allah atau tidak, dan semua kemungkinan lainnya.

Tahap kedua kebangkitanmu adalah memastikan Baldah Maiyah, sistem gotong royong di antara sesama Jamaah, atau Jamaah membaldahkan desa atau kampungnya. Apa yang Jamaah Maiyah pikirkan, sikapi dan lakukan selama Corona, pada saatnya akan menunjukkan perbedaan mencolok antara Jamaah Baldah Maiyah dengan umumnya bangsa Indonesia.

ADRENALIN JIHAD. Tahap berikutnya ijtihad Jamaah Maiyah lewat daring, zooming, youtubing atau jalan online apapun mengkonsentrasikan musyawarahnya ke tema peluang dan kebangkitan. Keterasingan Maiyah di tengah Indonesia dan Dunia adalah potensi di mata pandang Allah Swt dan diri mereka sendiri.

Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi bumi” (Al-Qasas: 5).

Maiyah tertindas di muka bumi. Maiyah tidak dianggap potensi apapun oleh Indonesia. Maiyah bukan partisipator nilai masa kini apalagi masa depan oleh Media Massa. Maiyah itu ‘istudl’ifu fil ardl. Teralienasi. Terasing. Jamaah Maiyah adalah penempuh Jalan Sunyi.

Semua Jamaah Maiyah sedang berjihad, dan salah satu yang wajib dilakukan dalam proses jihad itu adalah berijtihad. Saya minta tolong Progress, Sabrang, Gandhie untuk merampakkan adrenalin ijtihad itu. Saya mohon kepada Cak Fuad, Syeikh Kamba, dan Kiai Tohar untuk memandu dan ngawat-awati mereka. Jamaah Maiyah yang memproses kualitas dirinya untuk kompatibel terhadap janji Allah “hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi bumi”. Allah Swt sendiri yang berjanji. Bukan Kanjeng Nabi. Apalagi saya. ***

Buku dan Merchandise