Mukadimah Bangbang Wetan Edisi Maret 2020

SelfExpedition

Dalam sejarah perkembangannya, filsafat bermula dari pertanyaan tentang keberadaan alam semesta dan dari mana kehidupan berasal. Setelah masa-masa ontologis itu, muncul aliran yang mengungkap akan peran tunggal Tuhan di setiap kejadian dan fenomena.

Lalu lahirlah pemikiran yang memusatkan perhatian kepada manusia sebagai subjeknya. Dalam hal ini, manusia dijadikan diskursus mengenai ada dan keberadaannya serta hal ihwal yang berkenaan dengan asal muasal dan eksistensinya.

Simplifikasi dari itu semua adalah pertanyaan asasi yang menjadi bahan perbincangan tiada habis bertemakan: siapakah manusia, dari mana, dan hendak ke mana, serta untuk apa ia hadir dan tercipta di dunia?

“Dunia ini panggung sandiwara”, begitu ungkap tembang lawas yang dinyanyikan lagi oleh ladyrocker Nicky Astria. Falsafah Jawa juga mewariskan idiom urip kuwi mung mampir ngombe. Beberapa frasa lain menyiratkan hal senada bahwa manusia sebenarnya makhluk surga yang singgah sejenak di bumi untuk pada akhirnya kembali ke tempatnya semula. “Urip mung mampir outbound”, begitu kelakar Mbah Nun.

Ibarat bermain teater atau film, kita adalah sekumpulan aktor/aktris yang memperoleh peran sesuai naskah dan arahan Sang Sutradara. Panggung yang menjadi arena totalitas curahan kemampuan menghayati peran itu seluas cakrawala pemahaman masing-masing tokoh terhadap keseluruhan skenario. Jagatpakeliran itulah yang kita sebut dunia; satu padatan dimensional yang tersusun atas ruang dan waktu.

Hipotesis sederhana dari premis-premis tersebut adalah bahwa pengetahuan terkait peran yang harus kita mainkan dan naskah yang harus kita tuntaskan menjadi kunci dari kualitas kehidupan.

Sang Maha Sutradara berhak dan telah memberi peran sekaligus bekal maqam yang berbeda-beda kepada semua aktor dan aktrisnya. Tugas kita adalah beristikamah mencari, meneliti, dan menjalankan sebaik-baiknya peran tersebut agar terus terjaga koordinat antara kita dengan Sang Sutradara.

Rona, spektrum, atau beragam kelir kehidupan inilah yang setiap hari kita jalani di panggung kehidupan. Tak perlu mengeluh kalau sesekali mendapat peran yang oleh banyak orang sebaiknya dihindari. Bukankah susah-senang, kesulitan-kemudahan, puas-kecewa menjadi dua unsur yang dihadirkan Tuhan secara bersamaan. Ia berkelindan di hari-hari yang masih misteri dan terungkap hanya di saat menyandang status telah terjadi. Kiranya perlu terus diingat ucapan Nabi Muhammad di Perang Badar yang terjemahan bebasnya adalah prinsip menghindari teriakan “cut!” dan marah dari Sang Sutradara kepada kita.

Sambil menunggu segera ditayangkannya film TETA dan pementasan Teater Perdikan berjudul “Sunan Sableng & Paduka Petruk” mari bersama-sama kita merenung, mencari, dan mengingat-ingat kembali peran serta menjalankannya hingga tingkat kepemimpinan diri. Berharap forum bulanan BangbangWetan edisi Maret ini akan menjadi media yang penuh suka cita dan keilmuan dalam upaya retrospeksi. (Tim Tema BangbangWetan)

Buku Cak Nun Majalah Sabana