Maiyahan Cak Nun dan KiaiKanjeng ke-4139

“Selebrasi” Tahun Baru di Karanganyar, Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng

Sinau Bareng Karanganyar Menyambut tahun baru 2020, Alun-Alun Karanganyar, Selasa, 31 Desember 2019

Istilah shalat, lanjut Cak Nun, memerlukan posisi inheren yang berposisi kebaikan. Tanggapan Cak Nun ini berkaitan dengan pertanyaan salah satu jamaah bernama Darmadi: “Apakah shalat itu ada kaitannya dengan tindak-tanduk sehari-hari. Apakah shalat berkaitan dengan tingkah laku?”

Cak Nun menjawab kalau shalat itu mencegah perbuatan yang buruk. “Ada rumus bahwa shalat itu akan menjauhkan perbuatan yang mungkar. Allah dan malaikat pun juga shalat. Manusia juga shalat. Tapi keduanya mempunyai manifestasi shalat yang berlainan,” jawabnya.

Kalau ada orang secara syariat shalat, tetapi melakukan perbuatan buruk, maka ia baru menjalankan “perintah upacara”, alih-alih mengejawantahkannya ke laku sehari-hari. Cak Nun menyampaikan contoh kalau orang sudah shalat tapi mencopet maka sesungguhnya termasuk merugi. “Shalatnya batal secara hakiki. Meski secara syariat tidak,” tegasnya.

Alam Semesta pun Berpikir

Maiyahan di Karanganyar malam itu terang-benderang. Meski sebelumnya, sejak sore, Karanganyar diberkahi hujan deras. Kiai Muzammil membaca fenomena ini sebagai wujud bahwa alam semesta itu juga berpikir. “Kita bisa belajar pada peristiwa Nabi Ibrahim (air), Rasulullah (gunung), dan lain sebagainya saat menghadapi masalah. Itu kenapa tak hujan di alun-alun. Karena kasihan dengan jamaah yang sudah bersusah payah datang ke sini untuk Sinau Bareng,” ucapnya seraya tersenyum.

Pak Bupati merespons kalau semua orang diberi akal sebagai tempat berpikir. Berpikir itu, menurutnya, sama dengan mengolah data. Ia senada dengan aktivitas memasak. “Dalam konteks berpikir itu karena kita memiliki otak. Itu kenapa otak itu sangat penting dan harus dirawat,” katanya.

Pada Sinau Bareng aktivitas berpikir merupakan modal utama. Cak Nun mengatakan kalau sebagai individu manusia harus mempunyai orientasi, imajinasi, dan proyeksi ke depan. Baik masa depan yang dekat dan jauh maupun yang terlihat maupun tak terlihat. Cak Nun kemudian mengkategorikan aktivitas berpikir lebih detail: ada otak, pikiran, dan akal.

“Kalau pendapat saya, di dalam pemahaman kedokteran modern, maka semua pikiran itu tersimpan di otak. Namun, pertanyaannya adalah otak itu hardware dan akal itu software-nya. Otak bukan tempat berpikir, melainkan akallah yang melakukannya. Kenapa akal? Karena ia tak terikat ruang dan waktu. Ketika mati kelak, malaikat Munkar dan Nakir akan menanyakan kepada kita, sehingga yang menjawab adalah akal kita masing-masing berdasarkan memori atas perbuatan personal sendiri-sendiri,” papar Cak Nun.

Kiai Muzammil menyampaikan studi kasus agar melatih jamaah berpikir. Utamanya ia kaitkan dengan momen tahun baru Hijriyah dan Masehi. “Kalau di tahun Masehi figur menjadi yang utama. Kelahiran figur itu yang disematkan. Sedangkan di Islam, dengan Hijriyah, melihat dari aktivitasnya. Kalau orang Islam melihat tahun baru maka akan ingat perbuatan. Tahun baru Islam lebih cenderung bersifat kata kerja,” tuturnya.

Cak Nun dengan sigap menerjemahkan pernyataan itu. “Jadi, di sini lebih jelas. Kalau tahun baru Islam menitikberatkan pada momen aplikasi budayanya. Yang dipilih untuk menjadi tahun baru dalam Islam itu Hijriyah karena momentum hijrah. Transformasi dari kebudayaan Mekkah ke kebudayaan Madinah. Kalau Mekkah itu urusan akidah. Tapi penerapan akidah ke dalam bebrayan hidup adalah periode Madinah. Pelaksanaan Islam itu di Madinah,” tandasnya.

Sinau Bareng malam itu dipungkasi dengan doa bersama. Cak Nun memberi pesan agar Karanganyar belajar bagaimana periode Madinah manakala Rasulullah mengimplementasikan nilai-nilai Islam secara komprehensif. Meski periode itu di Madinah terdiri atas keanekaragaman agama, budaya, maupun perbedaan latar sosial lain, namun praktik kehidupannya begitu harmonis. Masyarakat waktu itu dipertautkan oleh Piagam Madinah. Peristiwa itu, menurut Cak Nun, harus dipelajari, khususnya oleh masyarakat Karanganyar.