Selamat Jalan Pak Arief Budiman

Kalau tak salah ingat ini terjadi pada pada 1997. Sebuah diskusi di Ruang Seminar Fisipol UGM Yogyakarta. Ruangan tak seberapa besar, sementara peserta yang datang, dari mahasiswa, dosen, hingga wartawan, dan tentu saja intel, sangat banyak. Sebagian peserta mesti rela mengikuti dari selasar di luar ruangan. Gorden dibuka agar mereka yang berada di luar ini bisa menyaksikan suasana di dalam.

Yang bikin ramai bukan semata tema dan arus suasana politik Indonesia saat itu, tetapi pembicara dalam seminar ini. Dua orang yang sama-sama jadi magnet: Arief Budiman dan Emha Ainun Nadjib. Suara tepuk tangan dan gemuruh mengiringi kritisisme yang terlontarkan. Suara tawa juga tak kalah seringnya. Dua narasumber ini sedang didaulat berbicara mengenai perlunya komite independen yang bertugas memantau pelaksanaan pemilu.

Waktu itu, seingat saya, sudah terbentuk satu lembaga independen bernama KIPP (Komite Independen Pemantau Pemilu). Seminar ini adalah bagian penting dari proses mengenalkan dan mendekatkan KIPP kepada masyarakat, khususnya dunia akademik.

Saat itu adalah masa ketika desakan reformasi politik semakin mengencang. Kekuasaan politik Orde Baru harus segera diganti. Sistem politik juga demikian. Apalagi jika diingat corak dan policy pembangunan Orde Baru yang banyak mengorbankan rakyat, kedhaliman kekuasaan harus segera disudahi. Rezim ini harus secepatnya berakhir. Inilah yang kemudian menggumpal menjadi aspirasi Reformasi 1998.

Rezim yang baru hendaknya adalah rezim demokratis. Yang membatasi kekuasaan dan masa jabatan presiden. Yang memberi ruang bebas bagi masyarakat untuk berserikat, berkumpul, berekspresi, dan termasuk dalam membentuk partai politik. Selain presiden harus segera turun, desakan juga diarahkan pada dilaksanakannya pemilu yang jujur, adil, dan dipantau oleh lembaga independen.

Meminjam istilah banyak orang, Arief Budiman adalah intelektual publik yang sangat konsisten mengkritisi praktik kekuasaan politik Indonesia dan arah pembangunan nasional yang dijalankan penguasa Orde Baru. Hal yang sama juga kita temukan pada sosok Emha Ainun Nadjib alias Mbah Nun.

Seperti dicatat dan dipujikan banyak orang, Arief Budiman adalah sosiolog yang sekaligus aktivis, dan bahkan aktivis sepanjang masa. Rasanya tampak pada kiprah dan banyak statement-nya keinginan untuk ikut menikmati kekuasaan. Aktivismenya tidak dijadikan jalan untuk meraih posisi dalam struktur kekuasaan. Sehingga, kritik-kritiknya murni sebagai kritik.

Di masa Orde Baru, Arief Budiman dan Mbah Nun sering bertemu dalam banyak forum, perbincangan, dan gerakan. Komitmen kepada perlunya memberikan indzar kepada penguasa dan pemerintah mempertemukan beliau berdua bersama tokoh-tokoh lain pada masa itu. Bahkan pertemuan dan interaksi intelektual itu sudah berlangsung sejak awal Mbah Nun sebagai sastrawan.

Sosiologi, khususnya pada fokus mengenai negara dan pembangunan, adalah bidang keilmuan Arief Budiman, dan pada buku-buku atau artikel yang ditulisnya di bidang ini, Arief Budiman sudah memasukkan kritik terhadap teori pembangunan yang diadopsi Orde Baru.

Di luar subjek negara dan pembangunan, Arief Budiman juga menaruh perhatian pada seni dan sastra. Seperti terdokumentasikan dalam buku Perdebatan Sastra Konteksual (disunting oleh Ariel Heryanto, 1985), Arief Budiman menggulirkan suatu gagasan: Sastra Kontekstual. Tulisan Mbah Nun ditempatkan di bagian akhir bersama tulisan Goenawan Mohamad dan Rendra. Tulisan Mbah Nun berjudul “Sastra Independen”. Sastra Kontekstual Arief Budiman boleh dikata sejalan dengan kredo yang dijalani Mbah Nun sendiri sejak awal yaitu Sastra yang Membebaskan, atau dalam konteks lebih longgar adalah bukan seni untuk seni itu sendiri, melainkan seni untuk berbagai keperluan di tengah masyarakat.

Selain itu, Arief Budiman turut bicara tentang Islam di Indonesia. Dalam sebuah diskusi tertulis di rubrik opini Jawa Pos bersama tokoh-tokoh lain seperti Kuntowijoyo, Fachry Ali, Gus Mus, Mohamad Sobary, Afan Gaffar, dll, Arief Budiman ikut diundang bicara. Temanya adalah polemik pendekatan struktual dan kultural perjuangan umat Islam di Indonesia.

Mbah Nun tentu juga diundang dan menulis satu tanggapan dengan judul yang langsung membantu memberi kita salah satu cara melihat persoalan kepemimpinan di tengah-tengah umat: “Monodimensi Pemimpin dan Multidimensi Kepemimpinan”. Seluruh diskusi itu didokumentasikan menjadi buku berjudul Islam Demokrasi Atas Bawah: Polemik Strategi Perjuangan Umat Model Gus Dur dan Amien Rais (1996).

Tahun-tahun selanjutnya dari masa seminar tahun 1997 di Fisipol UGM tadi, Arief Budiman pindah ke Australia untuk mengajar di sana, dan tulisan-tulisannya masih tetap bisa disimak di beberapa media. Tetapi tahun-tahun selanjutnya pula tampaknya Mbah Nun dan Arief Budiman jarang bertemu.

Kemudian seperti terlihat dari perhatian dan interaksinya dengan tokoh-tokoh lain seperti almarhum Kuntowijoyo, almarhum WS Rendra, dan almarhum Darmanto Jatman, Mbah Nun memberikan perhatian besar kepada Pak Arief Budiman. Sesekali dalam obrolan, tercetus tanya, “Piye yo kabare Mas Arief Budiman?”.

Sampai kemudian, beliau mendengar Pak Arief Budiman, yang sudah tidak mengajar lagi di Australia dan pulang ke Salatiga, sakit. Pada pertengahan Agustus 2018, Mbah Nun meluangkan waktu menjenguk dan bersilaturahmi Pak Arief Budiman di kediamannya di Salatiga.

Pada masa ketika anak-cucu Mbah Nun bertebaran di banyak tempat, Mbah Nun selalu berpesan agar anak-cucunya di satu daerah tertentu di mana ada teman atau orang yang dihormati Mbah Nun, anak-anak itu diminta selalu bersilaturahmi kepada orang tersebut. Termasuk kepada Pak Arief Budiman. Pak Ilyas Kidung Syafaat Salatiga beserta teman-teman lain diminta menjenguk dan sambung kepada Pak Arief Budiman.

Lebih jauh malahan Mbah Nun ingin teman-teman Jamaah Salatiga ini punya semacam “acara” berkala entah diskusi atau ngobrol-ngobrol di rumah Pak Arief Budiman, di mana beliau bisa digali ilmunya. Inilah cara Mbah Nun menghormati dan mencintai sosok-sosok yang di matanya adalah pribadi yang baik dan mulia, dan sekaligus merupakan cara mendidik anak-cucunya untuk punya kebiasaan memuliakan orang-orang yang baik.

Belakangan kondisi kesehatan Pak Arief Budiman makin menurun. Pak Ilyas sempat menjenguknya di Rumah Sakit dan menyampaikan kabar kepada Mbah Nun. Apa yang dipesankan Mbah Nun pun belum memungkinkan direalisasi. Dan, sehari sebelum Puasa Ramadhan ini tiba (Kamis, 23 April 2020), Allah memanggil Pak Arief Budiman.

Selamat jalan Pak Arief. Allah memanggil Pak Arief duluan sebelum terwujud harapan Mbah Nun karena memang kondisi kesehatan yang semakin tidak memungkinkan.

Meskipun demikian, untuk kesekian kali, kita belajar kepada Mbah Nun tentang bagaimana menghormati dan memuliakan pribadi-pribadi yang selayaknya kita muliakan. Salah satunya adalah Pak Arief Budiman.

Sekali lagi, selamat jalan. Sugeng kondur, Pak Arief.

Yogyakarta, 25 April 2020

Buku dan Merchandise